Tragedi Terulang: Gaza Berdarah di Tengah Antrean Bantuan
JAKARTA, BursaNusantara.com – Sedikitnya 80 warga sipil Gaza dilaporkan tewas saat menanti bantuan pangan di Nuseirat dan Deir el-Balah, Selasa (24/6/2025), usai pasukan Israel menembaki kerumunan.
Sebagian besar korban tengah mengantre untuk mendapatkan tepung dan bahan pokok lainnya yang dibagikan oleh lembaga bantuan.
Laporan dari Middle East Eye dan Al Jazeera menyebutkan para korban tertembak ketika mendekati truk logistik di Jalan Rashid.
Beberapa korban ditemukan masih memegang kantong tepung di tangan mereka saat tubuh mereka tergeletak tak bernyawa di jalanan.
Seorang warga bernama Ahmed yang selamat mengatakan, “Kami hanya ingin makan, bukan mati.”
Aksi Bersenjata di Zona Bantuan: Kekacauan yang Berulang
Peristiwa ini menambah deretan panjang tragedi berdarah dalam distribusi bantuan sejak awal tahun 2024.
Serangan pada Februari di lokasi yang sama menewaskan lebih dari 100 orang yang tengah mengantre makanan.
Tragedi serupa terjadi kembali pada Mei dan awal Juni, menewaskan puluhan lainnya dalam situasi yang nyaris identik.
Kantor HAM PBB menyatakan bahwa lebih dari 410 warga sipil tewas sejak Mei 2025 saat berusaha mengakses bantuan pangan.
Data ini mengindikasikan bahwa distribusi kemanusiaan telah termiliterisasi, dengan dampak paling parah menimpa perempuan dan anak-anak.
PBB mengingatkan bahwa pola serangan seperti ini dapat tergolong sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.
Tekanan Internasional Menguat: Dunia Angkat Suara
Pernyataan keras datang dari WHO dan UNICEF yang mendesak agar semua titik distribusi bantuan dikembalikan sebagai zona aman.
WHO menegaskan bahwa “perdamaian adalah obat terbaik” sembari menyerukan agar proses distribusi tak lagi dikorbankan demi agenda militer.
Uni Eropa, Inggris, dan Spanyol turut mengecam keras tindakan Israel yang menargetkan warga sipil kelaparan.
Ketiga negara mendesak penegakan hukum humaniter internasional, seraya meminta penghentian segera atas kekerasan terhadap masyarakat sipil.
Amnesty International menyebutkan bahwa kombinasi blokade dan pembantaian terhadap warga sipil berpotensi dikategorikan sebagai genosida sistematis.
“Gaza telah diubah menjadi neraka kematian,” tulis lembaga tersebut dalam rilisnya yang disampaikan Rabu pagi.
Antrean Bantuan yang Berubah Jadi Ajang Pembantaian
Februari lalu, lebih dari 100 orang tewas saat antre di Jalan al-Rashid, peristiwa yang disebut sebagai tragedi bantuan terburuk saat itu.
Pada Mei 2025, kembali terjadi penembakan dan kerusuhan di Rafah yang menewaskan 10 hingga 50 warga sipil.
Dua pekan kemudian, 2 Juni, sedikitnya 3 hingga 31 orang kehilangan nyawa saat berebut logistik di dekat pusat bantuan Rafah.
Kini, 24 Juni menjadi babak baru kelam dalam daftar penembakan terhadap warga sipil yang mencari makan untuk bertahan hidup.
Kantor HAM PBB menyoroti meningkatnya penggunaan kekuatan mematikan di wilayah distribusi bantuan sebagai bentuk pelanggaran hak asasi.
Malnutrisi Meluas, Separuh Gaza di Ambang Kelaparan
WHO mencatat lebih dari 5.000 anak dirawat karena malnutrisi akut sepanjang Mei 2025, sebuah angka yang melonjak drastis dibanding bulan sebelumnya.
Setengah juta warga Gaza saat ini berada dalam kondisi rawan kelaparan total, sebagian besar hidup tanpa akses air bersih dan sanitasi.
Blokade menyeluruh membuat bantuan sulit masuk, sementara truk bantuan yang berhasil menembus perbatasan justru menjadi sasaran penembakan.
Situasi diperburuk oleh runtuhnya infrastruktur kesehatan dan penyebaran penyakit di kamp-kamp pengungsian.
Data WHO menunjukkan bahwa lebih dari 70% rumah sakit tidak beroperasi karena kehancuran atau kekurangan bahan bakar.
Jumlah Korban Terus Bertambah: Hari Ke-624 Perang Gaza
Sejak dimulainya agresi besar-besaran oleh Israel, sebanyak 56.077 warga Palestina telah tewas hingga 24 Juni 2025.
Data Middle East Monitor juga mencatat 131.848 orang mengalami luka-luka, sementara lebih dari 11.000 lainnya masih hilang tanpa jejak.
Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak, dengan area padat penduduk menjadi target utama serangan udara Israel.
PBB menyebut perang ini sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern, mendekati tingkat kehancuran total.
Kendati berbagai negara menyerukan gencatan senjata, blokade dan operasi militer tetap berlangsung tanpa jeda.
Bantuan Menjadi Target: Ketika Kemanusiaan Dipolitisasi
Laporan dari lapangan menunjukkan pola serangan terhadap distribusi bantuan telah menjadi bagian dari strategi militer.
Alih-alih menjadi jembatan kehidupan, truk bantuan kini berubah menjadi jebakan mematikan di hadapan ribuan warga lapar.
Relawan kemanusiaan menggambarkan pemandangan horor di mana tubuh anak-anak tergeletak di sekitar kendaraan logistik.
Pemerhati HAM menilai kondisi ini sebagai bentuk kolektif hukuman terhadap warga Gaza, melampaui batas legalitas internasional.
Zona distribusi bantuan yang semestinya netral justru menjadi titik api pembantaian sipil, menciptakan trauma berkepanjangan di tengah masyarakat yang sudah porak-poranda.











