Geser Kebawah
BisnisProperti

Investasi Properti Komersial di Asia Pasifik Melonjak 23% pada 2024

164
×

Investasi Properti Komersial di Asia Pasifik Melonjak 23% pada 2024

Sebarkan artikel ini
Investasi Properti Komersial di Asia Pasifik Melonjak 23% pada 2024
Investasi properti komersial di Asia Pasifik naik 23% YoY menjadi $131,3 miliar pada 2024, didukung minat investor asing terhadap sektor perkantoran dan logistik.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar properti komersial di Asia Pasifik mengalami pertumbuhan signifikan pada 2024. Berdasarkan data terbaru dari Jones Lang LaSalle (JLL), investasi properti komersial (commercial real estate/CRE) di kawasan ini meningkat 23% secara tahunan (YoY), mencapai $131,3 miliar. Angka ini bahkan melampaui capaian tahun 2022, menandakan momentum pemulihan yang kuat.

Pada kuartal IV-2024 saja, volume investasi properti komersial naik 10% YoY menjadi $34,9 miliar, menandai lima kuartal berturut-turut pertumbuhan tahunan di sektor ini.

Sponsor
Iklan

Minat Investor Asing Mendorong Lonjakan Investasi

Peningkatan investasi ini didorong oleh lonjakan investasi lintas negara yang mencapai $23,8 miliar, meningkat 43% dibandingkan tahun sebelumnya. Investor asing semakin aktif di pasar perkantoran dan logistik, terutama di negara-negara seperti Australia, Jepang, dan Singapura.

1. Jepang Memimpin Pasar

Jepang menjadi negara dengan aktivitas transaksi properti tertinggi, mencatat volume perdagangan $10,7 miliar pada kuartal IV-2024, meningkat 145% YoY. Permintaan terhadap properti logistik dan perkantoran menjadi faktor utama di balik pertumbuhan ini.

2. Strategi Nilai Tambah di Tengah Suku Bunga Tinggi

Meskipun suku bunga global masih cenderung tinggi, investor menerapkan strategi nilai tambah untuk mengimbangi kenaikan biaya utang. Hal ini terlihat dari meningkatnya transaksi di sektor perkantoran dan logistik, yang dianggap memiliki potensi apresiasi nilai lebih besar.

Sektor Properti Indonesia Tetap Menarik bagi Investor

Di Indonesia, investasi di sektor properti juga menunjukkan performa positif. Realisasi investasi di sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran masuk dalam lima besar subsektor dengan kontribusi terbesar, mencapai Rp122,9 triliun (7,2%) dari total realisasi investasi nasional Rp1.714,2 triliun pada 2024.

Menurut Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia, investasi yang berkelanjutan di sektor properti menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi menarik bagi investor domestik dan asing.

“Pada 2025, kami optimistis sektor properti akan terus memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Farazia.

Selain itu, meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur dan ruang bisnis yang fleksibel juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan sektor ini.

Tren Investasi di Berbagai Segmen Properti

1. Sektor Perkantoran

Volume investasi perkantoran di Asia Pasifik mencapai $48,8 miliar pada 2024, meningkat 12% YoY. Korea Selatan menjadi negara dengan volume investasi perkantoran terbesar pada kuartal IV-2024, didukung oleh lingkungan pembiayaan yang lebih kondusif akibat penurunan suku bunga utang senior (senior loan) untuk gedung perkantoran utama.

2. Logistik Tetap Menjadi Primadona

Sektor logistik terus menarik minat investor. Tingginya permintaan ruang logistik di Jepang, Australia, dan India mendorong transaksi besar, yang menyebabkan penurunan imbal hasil (yield compression) di sektor ini.

Investor domestik dan asing tetap optimistis terhadap prospek logistik Jepang, didukung oleh pertumbuhan harga sewa. Volume investasi logistik di Australia juga mengalami pemulihan, terutama di kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne.

3. Sektor Ritel Mengalami Rebound

Pada 2024, volume investasi sektor ritel meningkat 28% YoY, didorong oleh modal swasta di Australia. Singapura juga mencatat pertumbuhan stabil di sektor ini, dengan tingkat okupansi yang tinggi dan kenaikan harga sewa.

Di Korea Selatan, perusahaan menjadi pemimpin dalam investasi sektor ritel, dengan fokus pada peluang peningkatan nilai tambah (value-add opportunities).

Asia Pasifik Tetap Menjadi Destinasi Investasi Global

Menurut Pamela Ambler, Head of Investor Intelligence Asia Pasifik di JLL, kawasan Asia Pasifik tetap menarik bagi investor global meskipun menghadapi ketidakpastian kebijakan moneter di AS.

“Terlepas dari kebijakan fiskal AS dan keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi, Asia Pasifik tetap menjadi tujuan utama investasi real estate,” ujarnya.

Dengan bank-bank sentral mulai memasuki siklus penurunan suku bunga, transparansi pasar yang semakin membaik, serta valuasi properti yang semakin menarik, tahun 2025 diperkirakan menjadi momentum yang tepat bagi investor yang ingin masuk ke pasar lebih awal.


Kesimpulan:

  1. Investasi properti komersial di Asia Pasifik tumbuh 23% YoY pada 2024, mencapai $131,3 miliar.
  2. Jepang, Australia, dan Singapura menjadi tujuan utama investor asing dengan minat tinggi terhadap properti perkantoran dan logistik.
  3. Indonesia mencatat investasi properti Rp122,9 triliun, menempati posisi lima besar subsektor investasi nasional.
  4. Logistik tetap menjadi kelas aset favorit, sementara sektor perkantoran menunjukkan rebound yang kuat.
  5. Tahun 2025 diprediksi menjadi momentum ideal bagi investor untuk masuk ke pasar properti di Asia Pasifik.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru