Geser Kebawah
AgrobisnisBisnis

Produksi CPO 2025 Diprediksi Stagnan, Ekspor Terancam Turun

325
×

Produksi CPO 2025 Diprediksi Stagnan, Ekspor Terancam Turun

Sebarkan artikel ini
Produksi CPO 2025 Diprediksi Stagnan Ekspor Terancam Turun
Produksi minyak sawit (CPO) 2025 diperkirakan tumbuh terbatas 1,7% menjadi 53,6 juta ton, sementara ekspor berpotensi turun 6,9%.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Tren produksi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) pada 2025 diperkirakan hanya tumbuh terbatas. Sementara itu, ekspor minyak sawit Indonesia berisiko mengalami perlambatan akibat keterbatasan pasokan dan kebijakan domestik yang semakin ketat.

Produksi CPO 2025 Diperkirakan Stagnan

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi CPO dan Palm Kernel Oil (PKO) di Indonesia sepanjang 2024 tercatat sebesar 52,76 juta ton. Angka ini lebih rendah 3,80% dibandingkan tahun sebelumnya, yang berdampak pada stok minyak sawit dalam negeri yang semakin menipis.

Sponsor
Iklan

Hingga akhir 2024, stok CPO dan PKO tercatat hanya sebesar 2,58 juta ton, atau turun 18,06% dibandingkan akhir 2023. Menurut Ketua Umum Gapki Eddy Martono, stagnasi produksi ini disebabkan oleh banyaknya tanaman sawit tua yang menghambat peningkatan pasokan.

“Lambatnya pertumbuhan pasokan menyebabkan harga CPO dan minyak nabati utama lainnya meningkat. Selain itu, turunnya produksi minyak bunga matahari akibat kekeringan dan rendahnya stok kanola juga turut mendorong kenaikan harga,” ujar Eddy, Kamis (6/3).

Penurunan Ekspor dan Faktor Penghambat

Di sisi lain, ekspor minyak sawit Indonesia juga mengalami penurunan sebesar 2,68 juta ton pada 2024. Dari total ekspor 32,2 juta ton pada 2023, volume ekspor turun menjadi 29,5 juta ton tahun lalu. Penurunan terbesar terjadi pada ekspor ke China sebesar 2,3 juta ton dan India sebesar 1,1 juta ton.

Namun, ekspor minyak sawit ke Pakistan naik sebesar 489.000 ton, sementara ekspor ke Timur Tengah tumbuh 164.000 ton. Meski ada peningkatan di beberapa wilayah, total volume ekspor masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Prediksi dan Tantangan Produksi 2025

Gapki memperkirakan produksi CPO dan PKO nasional pada 2025 hanya akan tumbuh tipis 1,7% menjadi 53,60 juta ton. Lagi-lagi, penyebab utamanya adalah menuanya sebagian besar tanaman sawit di Indonesia.

Namun, ada beberapa faktor yang dapat mendorong peningkatan produksi, salah satunya adalah implementasi program biodiesel B40. Dengan kondisi cuaca yang bersahabat dan dukungan kebijakan pemerintah, produksi CPO berpotensi mengalami kenaikan meski terbatas.

“Produksi CPO tetap berpotensi naik sekitar 1 juta ton,” kata Eddy pada Minggu (6/3). Berdasarkan data Gapki, program B40 diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan biodiesel sebesar 18,7% menjadi 13,58 juta ton pada 2025.

Strategi Produsen Menghadapi Tantangan

Seiring dengan tren stagnasi produksi dan penurunan ekspor, pelaku industri sawit mulai merumuskan strategi untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi. Salah satu produsen sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA), bertekad untuk meningkatkan kemampuan produksinya.

Pada 2025, CSRA menargetkan produksi Tandan Buah Segar (TBS) mencapai 380.000 ton dan CPO sebanyak 78.000 ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi tahun lalu yang masing-masing sebesar 317.000 ton dan 55.700 ton.

“Secara otomatis produksi CPO perusahaan akan meningkat karena Pabrik Kelapa Sawit (PKS) 3 di Region Sumatera Selatan diproyeksikan sudah dapat beroperasi,” ujar Seman Sendjaja, Direktur Cisadane Sawit Raya, Minggu (9/3).

Manajemen CSRA juga menyoroti beberapa faktor yang dapat mempengaruhi produksi CPO tahun ini, termasuk curah hujan, perubahan iklim, ancaman banjir, serta kebakaran lahan. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, CSRA menerapkan pola perawatan tanaman berbasis praktik agronomi terbaik, pemantauan cuaca, serta pemantauan titik api.

Outlook Industri Sawit ke Depan

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, industri sawit Indonesia dihadapkan pada kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi agar tetap kompetitif di pasar global. Keterbatasan pasokan dan ketatnya kebijakan ekspor menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi oleh para pelaku industri.

Gapki menekankan pentingnya perumusan strategi peningkatan produksi minyak kelapa sawit guna memenuhi kebutuhan domestik dan biodiesel, sekaligus menjaga daya saing di pasar ekspor. Jika tidak, penurunan ekspor yang diprediksi mencapai 6,9% menjadi 27,50 juta ton pada 2025 dapat berdampak signifikan pada kinerja industri sawit nasional.

Dengan adanya kebijakan B40 dan strategi peningkatan produksi oleh perusahaan sawit, diharapkan industri ini tetap dapat bertahan dan berkembang meskipun menghadapi berbagai tantangan global dan domestik.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru