JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tengah bersiap melakukan aksi pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp 3 triliun. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi korporasi BRI untuk mempertahankan nilai sahamnya di tengah dinamika pasar.
Rencana Buyback Saham BBRI
Manajemen BBRI telah mengumumkan bahwa aksi buyback ini akan menggunakan dana kas internal perusahaan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Periode pelaksanaan buyback direncanakan berlangsung mulai Maret 2025 hingga Maret 2026, dengan terlebih dahulu meminta persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada Maret 2025.
Sebagai informasi, BRI terakhir kali melakukan buyback saham pada 2023 dengan nilai maksimum Rp 1,5 triliun, setelah mendapat persetujuan dari RUPST pada 13 Maret 2023. Langkah buyback kali ini merupakan lanjutan dari program kepemilikan saham karyawan serta strategi jangka panjang BRI dalam menjaga stabilitas harga saham.
Dampak Buyback terhadap Kondisi Keuangan
Dalam prospektus yang dirilis, manajemen BBRI menegaskan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan mengurangi kekayaan bersih perusahaan hingga di bawah batas modal yang telah ditempatkan dan cadangan wajib yang disisihkan. Selain itu, buyback ini juga dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan dan biaya operasional BRI.
Dengan aksi buyback ini, BRI berharap dapat meningkatkan kepercayaan investor serta menjaga likuiditas saham BBRI di pasar modal.
Direktur Utama BBRI Ikut Memborong Saham
Menjelang rencana buyback, Direktur Utama BRI, Sunarso, juga turut membeli saham BBRI. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada Kamis (6/3/2025), Sunarso membeli sebanyak 212.800 saham BBRI dengan harga Rp 3.630 per saham pada 4 Maret 2025. Total nilai transaksi ini mencapai Rp 772,46 juta.
Aksi ini menunjukkan kepercayaan tinggi dari manajemen terhadap prospek saham BBRI, terutama di tengah tekanan harga yang terjadi sejak awal tahun. Sebelumnya, Sunarso telah memiliki 5.868.656 saham BRI, dan setelah pembelian ini, kepemilikannya meningkat menjadi 6.081.456 saham.
Tren Harga Saham BBRI
Harga saham BBRI mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Pada perdagangan Kamis (6/3), saham BBRI sempat menguat 2,86% ke level Rp 3.950 per saham. Namun, jika melihat sejak awal tahun, harga saham ini masih terkoreksi sekitar 6,18%.
Pada penutupan perdagangan Jumat (7/3), saham BBRI kembali melemah ke level Rp 3.810, turun 140 poin atau 3,54% dibandingkan hari sebelumnya. Sejak awal tahun, saham BBRI telah terkoreksi 9,50% atau turun 400 poin, sementara secara tahunan (year on year/yoy), saham ini mengalami penurunan 2.590 poin atau 40,47%.
Penurunan harga saham ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi makroekonomi serta dinamika pasar keuangan global. Namun, dengan adanya rencana buyback dan pembelian saham oleh direksi, diharapkan sentimen positif dapat kembali menguat di kalangan investor.
Optimisme di Tengah Tekanan Pasar
Manajemen BRI tetap optimis bahwa strategi buyback ini akan memberikan dampak positif bagi perusahaan dan para pemegang saham. Dengan fundamental yang kuat serta langkah strategis dalam menjaga stabilitas harga saham, BRI berupaya mempertahankan posisinya sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia.
Para investor kini menanti hasil RUPS Maret 2025 yang akan menjadi penentu realisasi buyback ini. Apakah langkah ini akan membawa dampak positif bagi pergerakan harga saham BBRI ke depannya? Pasar akan segera memberikan jawabannya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









