Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

Emiten Grup Prajogo Pangestu Buyback Rp 5 Triliun: Strategi di Tengah Gejolak Pasar

130
×

Emiten Grup Prajogo Pangestu Buyback Rp 5 Triliun: Strategi di Tengah Gejolak Pasar

Sebarkan artikel ini
Emiten Grup Prajogo Pangestu Buyback Rp 5 Triliun Strategi Di Tengah Gejolak Pasar
Empat emiten milik Prajogo Pangestu akan melakukan buyback saham senilai Rp 5 triliun guna menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kepercayaan investor. Simak rinciannya!

JAKARTA, BursaNusantara.com – Empat emiten yang berada di bawah kendali konglomerat Prajogo Pangestu bersiap melakukan aksi pembelian kembali (buyback) saham dengan total dana mencapai Rp 5 triliun. Keempat emiten tersebut adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Rincian Buyback Saham

Buyback TPIA: Stabilitas dan Kepercayaan Pasar

TPIA mengalokasikan dana Rp 2 triliun untuk membeli kembali maksimal 0,29% atau sekitar 250 juta saham. Langkah ini diambil untuk memperkuat nilai pemegang saham sekaligus memastikan harga saham mencerminkan fundamental perusahaan.

Sponsor
Iklan

“Kami melihat buyback sebagai strategi yang dapat meningkatkan kepercayaan investor di tengah dinamika pasar,” ungkap manajemen TPIA.

Selain meningkatkan nilai pemegang saham, buyback juga bertujuan menjaga stabilitas harga saham di pasar modal.

Buyback CUAN dan BREN: Penguatan Struktur Saham

CUAN merencanakan buyback dengan dana Rp 500 miliar, yang setara dengan 0,55% saham yang beredar. Langkah ini diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap likuiditas dan harga saham di pasar.

Di sisi lain, BREN mengalokasikan dana lebih besar, yakni Rp 2 triliun, untuk membeli kembali 0,2% sahamnya. Manajemen BREN memastikan bahwa dana yang digunakan berasal dari kas internal sehingga tidak akan mengganggu operasional perusahaan.

“Kami ingin menjaga stabilitas saham dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek bisnis kami,” jelas manajemen BREN.

Strategi BRPT dalam Buyback

BRPT berencana melakukan buyback sebesar Rp 500 miliar untuk membeli hingga 0,7% saham yang telah diterbitkan. Aksi korporasi ini akan berlangsung dari 24 Maret hingga 23 Juni 2025 tanpa perlu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Dalam pelaksanaannya, TPIA, CUAN, dan BREN menunjuk BNI Sekuritas sebagai pihak yang bertanggung jawab atas buyback, sementara BRPT mempercayakan prosesnya kepada Sucor Sekuritas.

Kinerja Keuangan Emiten Grup Prajogo Pangestu

TPIA: Tantangan dan Strategi Bertahan

TPIA mencatat pendapatan bersih sebesar US$ 1,79 miliar pada 2024, mengalami penurunan 17,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Segmen bisnis utama, yakni industri kimia, berkontribusi sebesar US$ 1,69 miliar, sementara infrastruktur menyumbang US$ 100,9 juta.

Meski beban pokok pendapatan turun 16,4%, EBITDA TPIA justru merosot 41,5% menjadi US$ 76,1 juta. Akibatnya, rugi bersih setelah pajak melonjak 81,9% menjadi US$ 57,3 juta. Namun, Direktur TPIA, Suryandi, menegaskan bahwa perusahaan masih memiliki likuiditas yang kuat dengan kas mencapai US$ 2,4 miliar per 31 Desember 2024.

Kinerja Positif BREN

Di sisi lain, BREN mencatat laba bersih sebesar US$ 122,10 juta pada 2024, naik 13,67% dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan BREN juga meningkat tipis 0,31% menjadi US$ 596,82 juta, menunjukkan ketahanan bisnisnya di sektor energi terbarukan.

CEO BREN, Hendra Soetjipto Tan, menyatakan bahwa strategi efisiensi yang diterapkan mampu menjaga profitabilitas perusahaan meskipun ada tantangan operasional.

“Kami tetap berfokus pada efisiensi dan ekspansi proyek energi terbarukan guna mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Hendra.

Dampak Buyback terhadap Pasar Saham

Menurut Angga Septianus, Community & Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas, buyback saham dapat memberikan sentimen positif terhadap pasar, khususnya dalam kondisi volatilitas tinggi.

“Aksi buyback ini menunjukkan bahwa emiten yakin terhadap fundamental bisnisnya. Namun, dampaknya terhadap pergerakan IHSG masih harus terus dipantau,” kata Angga.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami fluktuasi menjelang Lebaran. Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat melakukan trading halt pada 18 Maret 2025 akibat penurunan indeks lebih dari 5%. Sejak awal tahun, investor asing tercatat menarik dana sebesar Rp 27,55 triliun dari pasar saham domestik.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah memberikan izin buyback tanpa persetujuan RUPS guna meredam volatilitas di pasar modal. Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai bahwa aksi buyback ini dapat memberikan efek penyeimbang di pasar saham.

“Buyback yang dilakukan emiten-emiten grup Prajogo Pangestu bisa menjadi faktor penopang IHSG agar tidak mengalami koreksi lebih dalam,” kata Nafan.

Prospek Saham dan Rekomendasi Analis

Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, menilai bahwa kondisi pasar petrokimia yang masih lemah menjadi tantangan bagi TPIA. Namun, prospek BREN dinilai lebih positif mengingat pertumbuhan bisnis energi terbarukan yang terus meningkat.

“BREN memiliki potensi yang menarik, terutama dengan ekspansi proyek yang tengah mereka lakukan. Saham ini dapat menjadi pilihan bagi investor yang mencari eksposur di sektor energi hijau,” ujar Indy.

Indy merekomendasikan saham BREN dengan target harga Rp 8.500 per saham, sementara IPO anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI), juga berpotensi menjadi katalis positif bagi prospek emiten grup Prajogo Pangestu.

Di tengah kondisi pasar yang dinamis, investor disarankan untuk tetap melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi, terutama terkait aksi buyback yang sedang berlangsung.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.