JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada sesi pertama perdagangan Senin (24/3/2025). IHSG turun sebesar 143,96 poin atau 2,3% ke level 6.114,2. Sentimen negatif baik dari faktor eksternal maupun internal menjadi penyebab utama tekanan terhadap indeks.
Tekanan Eksternal: Tarif AS dan Data Ekonomi Global
Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat bahwa pelemahan IHSG tidak lepas dari dampak kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Pasar bersiap menghadapi pemberlakuan tarif resiprokal yang dijadwalkan berlaku pada 2 April mendatang.
Meski demikian, Trump menyatakan adanya kemungkinan fleksibilitas dalam penerapan tarif tersebut. Menteri Perdagangan AS juga dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan China pekan ini, memberikan sedikit harapan bagi investor.
Dari China, Perdana Menteri Li Qiang dalam Forum Pembangunan China di Beijing menyerukan keterbukaan pasar yang lebih besar. Forum tersebut turut dihadiri oleh Senator AS Steve Daines dan CEO Apple Tim Cook, menandakan upaya diplomasi ekonomi yang masih berlangsung.
Di sisi lain, Jepang melaporkan penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Au Jibun Bank yang merosot ke level 48,3 pada Maret 2025 dari sebelumnya 49,0. Angka ini lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 49,2, menandai kontraksi manufaktur Jepang selama sembilan bulan berturut-turut. Data ini turut memberikan tekanan tambahan pada bursa saham Asia, termasuk IHSG.
Faktor Internal: Tekanan Ekonomi dan Aksi Jual Asing
Selain tekanan eksternal, faktor domestik juga turut membebani IHSG. Pasar merespons negatif kondisi ekonomi dalam negeri, terutama terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meningkat serta daya beli rumah tangga yang melemah. Hal ini memberikan indikasi bahwa perekonomian Indonesia tengah menghadapi tantangan berat.
Selain itu, aksi jual investor asing semakin menekan pasar. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan aliran modal asing keluar (capital outflow) dari pasar keuangan lokal mencapai Rp 4,25 triliun sepanjang 17-20 Maret 2025. Hal ini berdampak pada peningkatan premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia menjadi 88,51 basis poin (bps), naik dibandingkan dengan 81,20 bps pada 14 Maret 2025.
Pilarmas Investindo Sekuritas juga mencatat bahwa menjelang libur panjang Idulfitri, investor cenderung melakukan aksi jual untuk memenuhi kebutuhan persiapan lebaran. Faktor lain yang menambah ketidakpastian pasar adalah meningkatnya aksi demonstrasi terkait pengesahan UU TNI serta polemik seputar pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), yang menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
Saham-Saham Penggerak IHSG
Pada sesi pertama perdagangan hari ini, beberapa saham mencatatkan kenaikan signifikan, antara lain HITS, JGLE, POLU, UVCR, dan TARA. Sementara itu, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar meliputi BINO, FORU, MSIN, WINE, dan BIMA.
Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham MAPA untuk perdagangan di sesi kedua hari ini. “Kami merekomendasikan MAPA dengan posisi buy dan rentang harga support serta resistance di 590 – 705,” ujar Pilarmas dalam risetnya.
Dengan kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, terutama menjelang periode libur panjang yang dapat meningkatkan volatilitas pasar.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












