JAKARTA, BursaNusantara.com – Maskapai berbiaya hemat, Indonesia AirAsia, berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp7,94 triliun pada tahun 2024, tumbuh 20% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp6,62 triliun. Kinerja positif ini didukung oleh ekspansi rute internasional dan peningkatan jumlah penumpang.
Ekspansi Rute Internasional Dorong Pertumbuhan
Sepanjang tahun 2024, Indonesia AirAsia memperluas jaringan dengan menambah sejumlah rute internasional baru, termasuk:
- Jakarta–Kota Kinabalu
- Jakarta–Bandar Seri Begawan
- Bali–Cairns
- Bali–Phuket
- Bali–Kota Kinabalu
- Bali–Hong Kong
- Jakarta–Hong Kong
“Ekspansi ini tidak hanya mencerminkan peningkatan kinerja operasional, tetapi juga memperkuat Bali sebagai hub untuk mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan perekonomian di berbagai destinasi,” ujar Direktur Utama PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP), Veranita Yosephine, Kamis (27/3).
Peningkatan Jumlah Penumpang dan Kinerja Operasional
Sepanjang tahun 2024, Indonesia AirAsia mengangkut 6,61 juta penumpang, meningkat 7% dari tahun sebelumnya yang mencapai 6,18 juta penumpang. Faktor lain yang mendorong kenaikan pendapatan antara lain:
- Kapasitas dan jumlah penerbangan meningkat 4%.
- Tingkat keterisian penumpang (load factor) mencapai 87%, lebih tinggi dibandingkan tahun 2023 sebesar 85%.
- Pendapatan per kilometer kursi tersedia (RASK) naik 6%, melampaui kenaikan biaya per kilometer kursi tersedia (CASK) yang hanya naik 1%.
Selain itu, maskapai ini menempati peringkat ke-8 dalam daftar Top 10 Low-Cost Carriers in the World versi Cirium On-Time Performance Review berkat tingkat ketepatan waktu yang tinggi.
Sumber Pendapatan dan Efisiensi Biaya
Sebagian besar pendapatan AirAsia Indonesia berasal dari operasi penerbangan, dengan rincian:
- Penjualan tiket kursi pesawat: Rp6,73 triliun
- Pendapatan dari bagasi, pelayanan penerbangan, ancillary, kargo, dan charter: Rp1,21 triliun
Strategi efisiensi operasional yang diterapkan turut membantu meningkatkan profitabilitas, termasuk optimalisasi rute, negosiasi biaya operasional, dan kerja sama erat dengan Grup AirAsia.
Tantangan Nilai Tukar dan Strategi Keuangan
Meski mencatatkan pertumbuhan pendapatan, CMPP menutup tahun 2024 dengan kerugian sebesar Rp1,53 triliun. Faktor utama penyebabnya adalah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang melemah sekitar 5%, dari Rp15.219 menjadi Rp15.906 per USD. Rugi selisih kurs akibat pelemahan ini mencapai Rp580 miliar atau 38% dari total kerugian.
Namun, tanpa memperhitungkan rugi selisih kurs, profitabilitas perusahaan justru meningkat sebesar 23% dibandingkan tahun sebelumnya.
Langkah Strategis dan Prospek 2025
Untuk menjaga keberlanjutan bisnis dan meningkatkan layanan, CMPP terus menerapkan strategi berikut:
- Efisiensi biaya melalui optimalisasi operasional.
- Ekspansi rute terutama ke Australia dan kota-kota potensial lainnya.
- Optimalisasi kapasitas penerbangan untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar.
- Restrukturisasi liabilitas melalui kerja sama dengan Grup AirAsia.
Memasuki tahun 2025, Indonesia AirAsia optimistis dapat terus memperkuat posisinya di industri penerbangan melalui ekspansi rute, peningkatan layanan fly-thru, serta menjaga standar operasional dan efisiensi biaya agar lebih kompetitif di pasar domestik dan internasional.











