Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Emas Anjlok, Pasar Cemas Menanti Langkah Trump

85
×

Harga Emas Anjlok, Pasar Cemas Menanti Langkah Trump

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Anjlok Pasar Cemas Menanti Langkah Trump
Harga emas turun 0,3% ke US$ 3.113,43 per ons akibat aksi ambil untung. Investor menanti kebijakan tarif Trump yang bisa mempengaruhi pasar.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas mengalami koreksi pada Selasa (1/4/2025) setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) ke-20 dalam tahun ini. Penurunan ini disebabkan oleh aksi ambil untung investor yang memilih mengamankan keuntungan di tengah ketidakpastian global.

Investor Beralih ke Aset Safe Haven

Dikutip dari CNBC Internasional, investor mulai beralih ke aset safe haven lainnya menjelang pengumuman kebijakan tarif besar-besaran dari Presiden Donald Trump. Kebijakan ini akan menargetkan negara-negara dengan ketidakseimbangan perdagangan terhadap Amerika Serikat (AS).

Sponsor
Iklan

Harga emas spot turun 0,3% menjadi US$ 3.113,43 per ons setelah sempat menyentuh rekor tertinggi ke-20 sepanjang 2025 di level US$ 3.148,8 pada awal sesi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melemah tipis 0,1% menjadi US$ 3.146 per ons.

Pasar Jenuh Beli, Koreksi Wajar

Menurut Wakil Presiden dan Analis Senior Logam di Zaner Metals, Peter Grant, aksi ambil untung ini merupakan hal yang wajar, mengingat pasar sudah dalam kondisi jenuh beli. “Fundamental pasar emas masih kuat. Ini adalah badai sempurna bagi emas,” ujarnya.

Pasar kini menanti detail kebijakan tarif Trump yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (2/4/2025). Laporan dari Washington Post menyebutkan bahwa penasihat Gedung Putih telah menyusun rencana tarif sekitar 20% untuk sebagian besar impor AS.

Emas Mencetak Kinerja Kuartalan Terkuat Sejak 1986

Sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, emas mencatatkan kinerja kuartalan terkuat sejak 1986. Harga emas yang menembus level US$ 3.100 per ons menjadi salah satu kenaikan paling signifikan dalam sejarah logam mulia.

Goldman Sachs menaikkan proyeksi kemungkinan resesi AS menjadi 35% dari sebelumnya 20% pada Senin (31/3/2025). Lembaga ini juga memperkirakan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed, yang cenderung mendukung kenaikan harga emas.

Permintaan Emas Tetap Kuat

Ryan McIntyre, Manajer Portofolio Senior di Sprott Asset Management, memprediksi harga emas masih berpotensi naik. “Peningkatan kepemilikan emas di ETF berbasis fisik serta pembelian agresif oleh bank sentral menjadi faktor utama penguatan harga emas ke depan,” katanya.

Secara teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) emas berada di atas level 70, yang menandakan kondisi jenuh beli.

Data Ekonomi AS dan Dampaknya pada Harga Emas

Di sisi lain, jumlah lowongan pekerjaan di AS turun menjadi 7,568 juta pada akhir Februari, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 7,616 juta. Data ini dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Selasa. Investor kini menantikan laporan nonfarm payrolls pada Jumat (4/4/2025) untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Di pasar logam lainnya, harga perak anjlok 1,5% menjadi US$ 33,55 per ons, platinum melemah 0,8% ke US$ 984,64 per ons, sementara paladium justru naik tipis 0,2% ke US$ 984,99 per ons.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.