Geser Kebawah
Aksi KorporasiPasar

Sampoerna Agro Ubah Fokus Bisnis Jadi Holding Company

111
×

Sampoerna Agro Ubah Fokus Bisnis Jadi Holding Company

Sebarkan artikel ini
Sampoerna Agro Ubah Fokus Bisnis Jadi Holding Company
Sampoerna Agro akan ubah kegiatan usaha jadi holding demi tingkatkan nilai investasi, meski potensi pendapatan CPO berkurang.

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) bersiap melakukan transformasi besar dalam model bisnisnya di tahun 2025.

Emiten perkebunan ini berencana mengubah kegiatan usahanya dari semula bergerak di sektor kelapa sawit dan perdagangan buah penghasil minyak, menjadi perusahaan holding yang fokus pada investasi penyertaan modal di anak dan cucu perusahaan.

Sponsor
Iklan

Langkah strategis ini diambil untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui pengelolaan yang lebih efisien dan fokus pada pengembangan entitas anak.

Perubahan tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Mei 2025.

Baca Juga: Sampoerna Ekspor IQOS Terea, Perluas Pasar Global


Laba Meningkat, Penjualan Tumbuh Tipis

Pada 2024, Sampoerna Agro mencatatkan kinerja positif meski hanya mengalami kenaikan penjualan yang terbatas.

Pendapatan perusahaan mencapai Rp 5,69 triliun atau tumbuh tipis 1,31% year on year (yoy) dibandingkan Rp 5,62 triliun pada 2023.

Namun dari sisi laba bersih, kinerja SGRO menunjukkan lonjakan signifikan. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 748,56 miliar, tumbuh 54,75% dibandingkan Rp 483,71 miliar pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Andry Hakim Prediksi IHSG 2025 Positif, Saham ini Akan Bersinar

Peningkatan ini mencerminkan efisiensi dan efektivitas operasional SGRO dalam mengelola bisnisnya di tengah tantangan industri sawit global.


Alasan di Balik Perubahan Bisnis

Menurut manajemen SGRO dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada 28 Maret 2025, keputusan bertransformasi menjadi holding company dengan kode KBLI 64200 bertujuan menyelaraskan visi dan misi perseroan terhadap nilai strategis jangka panjang.

Kegiatan usaha perusahaan holding mencakup penguasaan aset sekelompok anak perusahaan serta layanan konsultasi dalam bidang merger dan akuisisi.

“Kegiatannya mencakup jasa yang diberikan penasihat dan perunding dalam merancang merger dan akuisisi perusahaan,” jelas manajemen dalam dokumen tersebut.

Baca Juga: Astra Agro Lestari (AALI) Catat Kenaikan Laba 8,67% di 2024

SGRO menilai perubahan ini akan memberikan kontribusi positif terhadap kondisi keuangan perusahaan. Meski akan kehilangan pendapatan langsung dari operasional kelapa sawit, manfaat dari hasil investasi serta jasa penasihat kepada subsidiaries diyakini mampu menggantikan sumber pendapatan tersebut.


Strategi Tanpa Perombakan SDM

Meski akan mengubah struktur bisnis secara fundamental, SGRO menegaskan bahwa tidak akan ada restrukturisasi sumber daya manusia secara besar-besaran.

Perseroan menyatakan bahwa tenaga kerja eksisting dinilai cukup kompeten untuk mengelola arah bisnis baru sebagai perusahaan induk investasi.

Baca Juga: Maruarar Sirait Ajak Danantara Dukung Proyek Perumahan Nasional

Langkah ini menandakan pendekatan strategis SGRO dalam mengantisipasi disrupsi operasional, sekaligus menjaga stabilitas internal selama masa transisi.

Dengan pendekatan reorganisasi yang terukur, perusahaan berharap dapat menumbuhkan nilai pemegang saham secara berkelanjutan.


Tantangan Harga CPO dan Sentimen Positif B40

Di sisi lain, tantangan dari eksternal tetap membayangi industri sawit nasional, termasuk SGRO. Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis mengungkapkan bahwa harga crude palm oil (CPO) masih mengalami tekanan akibat kebijakan tarif dagang Amerika Serikat yang memengaruhi harga komoditas global.

Baca Juga: Harga CPO Naik: Optimisme Pasar di Tengah Penurunan Produksi

“Penurunan ASP tahun ini perlu diantisipasi, karena bisa membuat pertumbuhan top line terbatas,” ujar Azis.

Meski begitu, Azis menilai ada peluang dari implementasi program B40 yang mendorong permintaan domestik terhadap CPO. Hal ini bisa menjadi penyeimbang tekanan harga global terhadap volume penjualan dalam negeri.


Valuasi Saham SGRO Masih Menarik

Dari sisi valuasi, saham SGRO masih berada di bawah rata-rata industri. Price to Earning (P/E) ratio SGRO tercatat sebesar 5,18x, jauh lebih rendah dibanding median kompetitor yang berada di level 9,89x. Sementara itu, Price to Book Value (PBV) SGRO adalah 0,67x, di bawah median industri sebesar 1,24x.

Meski valuasi terlihat murah, Azis menyarankan investor untuk bersikap hati-hati karena volatilitas saham SGRO masih tinggi. Ia menyarankan pendekatan wait and see sembari memantau perkembangan strategi perusahaan pasca-RUPST.


Potensi Diversifikasi Lewat Anak Usaha

Direktur PT Rumah Para Pedagang, Kiswoyo Adi Joe, menilai bahwa langkah perubahan kegiatan usaha SGRO mengindikasikan adanya potensi diversifikasi bisnis yang akan dilakukan melalui anak perusahaan. Hal ini dinilai sebagai strategi jangka panjang untuk memperluas sumber pendapatan dan tidak hanya bergantung pada komoditas CPO.

“Selama ini SGRO hanya mengandalkan bisnis dari CPO. Dengan perubahan ini, ada kemungkinan bisnis-bisnis baru akan masuk. Tapi tetap harus menunggu hasil RUPST,” kata Kiswoyo.

Ia pun merekomendasikan saham SGRO dengan target harga di level Rp 3.400 per saham, mengingat PBV perusahaan masih di bawah 1x yakni di level 0,69x. Namun, ia mengingatkan investor untuk tidak masuk dengan volume besar karena likuiditas sahamnya yang terbatas.


Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyoroti pergerakan teknikal saham SGRO yang saat ini berada di area support Rp 2.160 per saham dan resistance di Rp 2.210 per saham. Ia merekomendasikan strategi buy if break, dengan target kenaikan di kisaran Rp 2.230 hingga Rp 2.250 per saham.

Dengan kombinasi antara potensi transformasi bisnis dan valuasi menarik, SGRO tetap menjadi salah satu emiten yang layak dicermati pelaku pasar di tengah fluktuasi harga komoditas dan dinamika makroekonomi global.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan