IHSG Lanjut Penguatan Tiga Hari Berturut
JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan untuk hari ketiga secara beruntun pada akhir pekan, mencerminkan sentimen positif yang masih menyelimuti pelaku pasar domestik.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia yang diakses melalui RTI Business, IHSG ditutup naik tipis 8,20 poin atau 0,13% ke posisi 6.262,22 pada Jumat.
Meski kenaikan tergolong terbatas, tren penguatan ini memberi sinyal stabilitas jangka pendek di tengah tekanan global.
Baca Juga: 10 Saham Net Sell Terbesar Asing: TLKM, GOTO dan BMRI Terbesar
Volume perdagangan saham mencapai 13,39 miliar lembar, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 10,72 triliun. Dari seluruh saham yang tercatat, 309 emiten berhasil menguat, 259 saham melemah, dan 226 lainnya stagnan.
Asing Terus Net Sell, Rp 2,52 Triliun dalam Sepekan
Di balik penguatan IHSG, investor asing tercatat masih terus melakukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai sebesar Rp 214,36 miliar di seluruh pasar pada Jumat.
Baca Juga: The Fed: Kebijakan Tarif Trump Dinilai Picu Inflasi AS
Jika dihitung sejak awal pekan, akumulasi net sell asing sudah menembus Rp 2,52 triliun.
Aksi keluar investor asing masih membayangi pergerakan pasar, terutama di saham-saham unggulan sektor perbankan dan konsumsi.
Baca Juga: 6,5 Triliun Net Sell Asing Sepekan, Berikut 10 Saham Paling Banyak
Tercatat, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi saham dengan net sell tertinggi senilai Rp 279,13 miliar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 125,8 miliar.
Saham-saham lainnya yang turut dilepas asing dalam jumlah besar antara lain PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Astra International Tbk (ASII).
Saham emiten ritel dan farmasi seperti LPPF, KLBF, serta AKRA dan MAPI juga masuk dalam daftar jual asing, mencerminkan rotasi portofolio yang cukup selektif.
Baca Juga: Rumah Ridwan Kamil Digeledah KPK, Sepeda Motor Disita
Pergerakan ini menjadi sorotan menjelang musim laporan keuangan kuartal pertama, di mana pelaku pasar akan lebih mencermati prospek fundamental dibandingkan sekadar sentimen jangka pendek.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












