JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah membuka peluang pemberian insentif bagi kendaraan berbahan bakar hidrogen seiring meningkatnya minat terhadap energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa pihaknya tengah mengkaji skema insentif yang cocok untuk mendorong pengembangan kendaraan hidrogen di dalam negeri.
Menurut Bahlil, pemerintah masih menunggu proposal dari para calon investor untuk memastikan komitmen mereka dalam membangun ekosistem hidrogen nasional.
Pernyataan ini disampaikan dalam acara Global Hydrogen Summit 2025 di Jakarta, Selasa (15/04).
Baca Juga: PLN Klaim Biaya Hidrogen Lebih Murah dari BBM dan Listrik
Peluang Insentif Seperti Mobil Listrik
Bahlil menyebut bahwa pendekatan pemerintah terhadap kendaraan hidrogen akan mengikuti pola yang sama seperti saat mendorong perkembangan kendaraan listrik (EV) beberapa tahun lalu.
Ketika Hyundai berencana membangun pabrik mobil listrik di Karawang, pemerintah hadir secara aktif untuk mendukung prosesnya dengan kebijakan dan insentif yang relevan.
Skema serupa akan disiapkan untuk kendaraan berbahan bakar hidrogen, asalkan ada kejelasan dari sisi investasi dan kelayakan pasar.
Baca Juga: Ekspor Mobil Listrik Toyota Melonjak 111% di 2024
“Kalau proposalnya masuk dan masuk akal, insentif akan kami jalankan,” ujar Bahlil.
Toyota Jadi Pelopor Kendaraan Hidrogen
Hingga saat ini, Toyota Indonesia menjadi pionir dalam pengembangan kendaraan hidrogen di Indonesia.
Melalui model Toyota Mirai, perusahaan otomotif asal Jepang ini menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem hidrogen secara utuh.
Meski Toyota Mirai belum dipasarkan secara komersial di Indonesia, langkah mereka dianggap sebagai sinyal kuat akan masa depan kendaraan hidrogen di tanah air.
Baca Juga: PGEO Gandeng Sinopec, Potensi Naik Saham NEV Terbuka
Toyota juga telah meresmikan hydrogen refueling station pertama di Indonesia dengan kapasitas tekanan 700 bar pada Februari 2025 lalu.
Strategi Pemerintah: Fokus Infrastruktur dan Investasi
Pemerintah kini fokus memetakan area intervensi strategis yang dapat membuat investasi kendaraan hidrogen menjadi lebih menarik.
Hal ini termasuk regulasi teknis, insentif fiskal, dan ketersediaan infrastruktur pendukung seperti hydrogen refueling station.
Bahlil menegaskan bahwa pendekatan berbasis data dan potensi pasar akan menjadi dasar utama dalam pemberian insentif agar kebijakan tetap tepat sasaran.
Baca Juga: Penjualan Mobil Astra 2025 Saham ASII Diramal Melesat
Pemerintah juga berharap pengembangan teknologi hidrogen dapat berjalan beriringan dengan agenda transisi energi nasional.
Dengan semakin banyaknya pihak yang tertarik mengembangkan kendaraan berbasis hidrogen, Indonesia bersiap menjadi pemain penting dalam peta energi bersih masa depan.
Baca Juga: Samudera Indonesia (SMDR) Pacu Pembangunan Terminal Peti Kemas Patimban








