Geser Kebawah
BisnisPerdagangan & Industri

Harga Ayam Anjlok, Peternak Rugi Rp 5.500 per Kilo

157
×

Harga Ayam Anjlok, Peternak Rugi Rp 5.500 per Kilo

Sebarkan artikel ini
Harga Ayam Anjlok, Peternak Rugi Rp 5.500 per Kilo
Harga ayam hidup jatuh di bawah HPP, membuat peternak merugi hingga Rp 5.500 per kg. GOPAN minta intervensi pemerintah.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Tren penurunan harga ayam hidup di tingkat produsen terus berlanjut dalam tiga pekan terakhir, menekan margin dan menyebabkan kerugian besar bagi para pelaku usaha peternakan.

Saat ini, harga ayam hidup berada di kisaran Rp11.500 – Rp12.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp17.500 per kilogram.

Sponsor
Iklan

Harga Anjlok, Peternak Tertekan

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, mengungkapkan bahwa situasi ini bukan sekadar penyusutan laba, melainkan kerugian nyata.

“Kalau ayam dijual Rp12.000 per kilo, sementara HPP-nya Rp17.500, peternak langsung rugi Rp5.500 untuk setiap kilo. Berat ayam 2 kg? Rugi Rp11.000. Punya 10.000 kg? Ya tinggal dikalikan saja. Ini bukan fluktuasi normal, tapi benar-benar krisis,” ujar Sugeng dalam keterangannya, Minggu (20/4/2025).

Padahal, menurut Peraturan Bapanas No. 5 Tahun 2022, Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam hidup semestinya berada di rentang Rp21.000–Rp23.000 per kilogram.

Oversupply dan Lemahnya Permintaan Jadi Biang Keladi

Penurunan harga ini dipicu oleh oversupply ayam hidup yang sudah diprediksi sebelumnya. Sugeng menjelaskan bahwa setelah momentum Lebaran, daya beli masyarakat menurun, sementara produksi masih berjalan tinggi.

“Pasar tidak bisa menyerap stok ayam yang ada. Ini bukan soal permintaan musiman, tapi soal struktur produksi yang tidak terkendali,” tambahnya.

Kelebihan pasokan ini tidak hanya menekan harga ayam hidup, tetapi juga berdampak pada harga karkas dan telur ayam. Walau demikian, Sugeng menilai penurunan pada produk turunan masih dalam batas wajar dibandingkan ayam hidup.

“Harga karkas memang ikut turun, tapi tidak seekstrem ayam hidup. Begitu pula telur. Namun tetap, ini menunjukkan perlunya intervensi dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

GOPAN Dorong Pemerintah Turun Tangan

GOPAN telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian guna mencari solusi konkret. Salah satu yang diusulkan adalah program penyerapan ayam oleh pemerintah untuk dialokasikan ke sektor publik.

Sugeng menyoroti pentingnya melibatkan peternak dalam program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digencarkan pemerintah.

“Program MBG itu bisa menyerap ayam langsung dari peternak. Jadi bukan hanya program sosial, tapi juga solusi untuk pasar. Kalau ini bisa dijalankan, maka dampaknya besar bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan peternak lokal,” tandasnya.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru