JAKARTA, BursaNusantara.com – Impor batu bara China pada Maret 2025 menunjukkan dinamika yang mencolok. Impor dari negara-negara pemasok utama lainnya meningkat, sementara Indonesia justru mengalami penurunan impor.
Penurunan ini terkait dengan penerapan harga batu bara acuan (HBA) Indonesia yang mulai berlaku pada 1 Maret 2025.
Data Administrasi Umum Bea Cukai China menunjukkan impor batu bara dari Rusia meningkat 6% secara tahunan (YoY) menjadi 7,33 juta metrik ton pada Maret 2025. Kenaikan ini terjadi meskipun ada sanksi dari negara Barat dan kendala logistik di Rusia.
Impor batu bara dari Australia dan Mongolia juga tercatat naik. Australia mencatatkan kenaikan 14% YoY menjadi 4,40 juta metrik ton. Mongolia meningkat 5% YoY menjadi 6,80 juta metrik ton.
Namun, Indonesia, yang sebelumnya menjadi pemasok utama batu bara China, justru mencatatkan penurunan. Impor dari Indonesia turun 9% YoY menjadi 17,96 juta metrik ton pada Maret 2025. Penurunan ini terjadi setelah Indonesia mengimplementasikan HBA pada 1 Maret 2025.
Penerapan Harga Batu Bara Acuan (HBA)
HBA ditetapkan untuk menjaga kestabilan harga domestik dan memengaruhi harga transaksi internasional.
Pada 1 Maret 2025, HBA dipatok antara US$ 34,16 hingga US$ 128,24 per ton, tergantung kualitas batu bara. Sebagian besar harga HBA ini mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa penggunaan HBA bertujuan untuk mengontrol harga batu bara domestik. Meski demikian, kebijakan ini berisiko mengurangi daya tarik batu bara Indonesia di pasar global.
Kondisi Pasar Batu Bara Global
Di pasar global, harga batu bara turun akibat pasokan yang melimpah. China, sebagai konsumen terbesar, mengurangi volume impor. Secara keseluruhan, impor batu bara China turun 6% pada Maret 2025, mencerminkan persediaan yang masih tinggi dan permintaan domestik yang lemah.
Indonesia juga menghadapi tantangan dengan permintaan batu bara domestik yang menurun. Pemerintah sedang mengoptimalkan investasi dalam energi alternatif, seperti tenaga surya dan angin. Ini mengurangi ketergantungan pada batu bara.
Peningkatan HBA Periode Kedua April 2025
Pada periode kedua April 2025, beberapa golongan batu bara mengalami kenaikan harga. Berikut rinciannya:
- Batu bara 6.322 GAR dibanderol seharga US$ 120,2 per ton, turun 2,53%.
- Batu bara I (5.300 GAR) dibanderol seharga US$ 78,46 per ton, naik 0,07%.
- Batu bara II (4.100 GAR) dibanderol seharga US$ 50,07 per ton, naik 1,07%.
- Batu bara III (3.400 GAR) dibanderol seharga US$ 34,34 per ton, naik 4,98%.
Meski ada penurunan harga di beberapa golongan, HBA tetap menjadi alat pemerintah untuk mengontrol pasar batu bara domestik.
Dengan tantangan di pasar global dan kebijakan domestik yang baru, sektor batu bara Indonesia harus beradaptasi. Sementara itu, China tetap menjadi pasar utama yang harus diperhatikan oleh para eksportir batu bara Indonesia.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







