Geser Kebawah
KomoditasPasar

Rupiah Menguat, Pasar Nantikan Data Ketenagakerjaan AS

68
×

Rupiah Menguat, Pasar Nantikan Data Ketenagakerjaan AS

Sebarkan artikel ini
Rupiah Menguat, Pasar Nantikan Data Ketenagakerjaan AS
Rupiah menguat sepekan terakhir seiring optimisme pasar atas negosiasi dagang AS-China dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan signifikan dalam sepekan terakhir.

Rupiah spot menguat sebesar 2,33% dan ditutup di level Rp 16.437 per dolar AS, sementara kurs referensi Jisdor turut menguat 1,99% ke posisi Rp 16.493 per dolar AS.

Sponsor
Iklan

Optimisme Global Dorong Sentimen Positif

Penguatan rupiah tak lepas dari berkembangnya harapan tercapainya kesepakatan tarif antara Amerika Serikat dan China.

Menurut Lukman Leong, analis dari Doo Financial Futures, kabar bahwa pejabat AS telah menjalin komunikasi dengan pemerintah China menjadi faktor pemicu utama pergerakan positif ini.

Baca Juga: Harga Emas Turun Setelah Cetak Rekor, Prospek Tetap Bullish

“Pernyataan dari pihak China bahwa mereka terbuka terhadap negosiasi menunjukkan sinyal positif bagi pasar global,” ungkapnya.

Harapan Pemangkasan Suku Bunga AS

Faktor eksternal lain yang memperkuat rupiah datang dari retorika Presiden AS Donald Trump yang mendesak penurunan suku bunga acuan The Fed.

Menurut Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, kondisi tersebut menumbuhkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga hingga empat kali sebesar 25 basis poin dalam waktu dekat.

“Ekspektasi ini semakin diperkuat dengan data ekonomi AS, seperti laporan ADP dan klaim pengangguran yang menunjukkan pelemahan,” tambahnya.

Lukman memperkirakan data Non-Farm Payroll (NFP) AS akan rilis di bawah ekspektasi pasar. Jika proyeksi itu terbukti, maka peluang pemangkasan suku bunga semakin besar, memberi ruang bagi penguatan lanjutan rupiah.

Sentimen Domestik Juga Berperan

Dari sisi domestik, masuknya aliran modal asing atau capital inflow turut memperkuat posisi rupiah. Selain itu, lelang Surat Berharga Ritel Indonesia (SRBI) yang mencatatkan hasil sebesar Rp 21 triliun juga menjadi penopang positif.

Hasil tersebut memunculkan harapan bahwa Bank Indonesia akan lebih aktif melakukan intervensi pasar jika diperlukan.

“Kami melihat penguatan rupiah mendapat dukungan fundamental dari dalam negeri melalui SRBI yang naik signifikan,” ujar Fikri.

Proyeksi Pergerakan Pekan Depan

Menatap pekan depan, pasar akan mencermati data tenaga kerja AS sebagai indikator utama. Menurut Lukman, jika data NFP lebih lemah dari perkiraan, maka rupiah berpotensi menguat ke rentang Rp 16.300 – Rp 16.650 per dolar AS. Untuk awal pekan, ia memproyeksikan kurs akan bergerak di kisaran Rp 16.350 – Rp 16.500.

Sebaliknya, Fikri menilai bila data tenaga kerja AS ternyata solid dan melampaui ekspektasi, maka rupiah bisa tertekan dan bergerak di kisaran Rp 16.600 – Rp 16.750 per dolar AS.

Namun, jika hasilnya mengecewakan, proyeksi kurs akan terkoreksi positif ke area Rp 16.300 – Rp 16.450.

Pasar kini menanti dengan penuh antisipasi bagaimana data ketenagakerjaan AS akan memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed dan dampaknya terhadap pergerakan rupiah dalam waktu dekat.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.