Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

Kinerja Grup Adaro Melemah, Harga Saham Terkoreksi Tajam

158
×

Kinerja Grup Adaro Melemah, Harga Saham Terkoreksi Tajam

Sebarkan artikel ini
Kinerja Grup Adaro Melemah, Harga Saham Terkoreksi Tajam
Grup Adaro alami penurunan kinerja Q1-2025, laba bersih tergerus, saham ADRO, ADMR, dan AADI terkoreksi hingga dua digit.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Emiten-emiten yang tergabung dalam Grup Adaro menghadapi tekanan kinerja sepanjang kuartal pertama 2025.

Pelemahan kinerja ini terjadi seiring gejolak harga batubara global dan lemahnya permintaan dari pasar utama seperti Tiongkok dan India, yang turut berdampak langsung pada pendapatan maupun laba bersih mereka.

Sponsor
Iklan

Kinerja Tertekan di Tengah Volatilitas Komoditas

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan penurunan pendapatan usaha sebesar 22,33% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 381,62 juta.

Dampaknya, laba bersih ADRO merosot tajam hingga 79,51% menjadi US$ 76,70 juta pada kuartal I-2025.

Baca Juga: Dividen ADRO 2025, Pegang US$ 2 Miliar, Potensi Dividen Final Besar

Sementara itu, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga tidak luput dari tekanan. Pendapatan ADMR turun 27,17% YoY menjadi US$ 199,94 juta, dengan laba bersih terkoreksi sebesar 43,60% menjadi US$ 65,45 juta.

Situasi serupa dialami PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), yang mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$ 1,16 miliar atau turun 11,45% YoY. Laba bersih AADI juga menurun 29,19% menjadi US$ 196 juta pada periode yang sama.

Koreksi Harga Saham Tak Terbendung

Pelemahan fundamental ini berdampak langsung pada performa saham emiten-emiten Grup Adaro. Saham ADRO diperdagangkan pada level Rp 1.855 per saham pada Senin (5/5) siang, dengan penurunan sebesar 23,03% selama tiga bulan terakhir.

Baca Juga: Sentimen Global dan Domestik Warnai Pasar, Pantau INCO, ADMR, LSIP

ADMR mencatatkan harga saham sebesar Rp 905, terkoreksi 13,81% dalam periode sama. Saham AADI berada di posisi Rp 6.925, setelah mengalami penurunan sebesar 21,31%.

Tekanan Berlapis dari Fundamental dan Sentimen Eksternal

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menuturkan bahwa pelemahan kinerja Grup Adaro disebabkan oleh kombinasi fluktuasi harga batubara dan melemahnya permintaan dari pasar utama.

Menurutnya, kondisi oversupply membuat perusahaan kesulitan menyesuaikan harga jual rata-rata (ASP).

Indy juga menyoroti pentingnya kelanjutan strategi diversifikasi bisnis Grup Adaro ke sektor energi hijau, guna memperkuat fondasi jangka panjang di tengah transisi energi global.

Baca Juga: Sentimen Global dan Domestik Warnai Pasar, Pantau INCO, ADMR, LSIP

Analisis Teknikal Saham Grup Adaro

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyampaikan bahwa saham ADRO secara teknikal masih berada dalam fase konsolidasi. Indikator MACD menunjukkan potensi dead cross, sementara Stochastic mulai bergerak ke area netral.

Untuk ADMR, Herditya menilai ada peluang penguatan jangka pendek, meski tetap perlu mencermati penyempitan MACD dan datarnya Stochastic.

Sementara itu, saham AADI dinilai masih berpeluang melanjutkan penguatan. Meskipun MACD diperkirakan datar di zona positif, Stochastic menunjukkan potensi pola golden cross yang bisa menjadi sinyal penguatan teknikal.

Baca Juga: Adaro Genjot Proyek Smelter & PLTA Rp 76 T, Saham ADMR Prospektif

Rekomendasi Strategi Saham

Dalam pandangan teknikal, Herditya merekomendasikan speculative buy untuk saham ADRO dengan target harga di kisaran Rp 1.950 hingga Rp 2.000.

Sedangkan saham ADMR dan AADI disarankan untuk trading buy, dengan target masing-masing Rp 950–Rp 975 dan Rp 7.125–Rp 7.225 per saham.

Senada dengan itu, Indy Naila juga menyarankan strategi trading buy untuk ADRO, dengan target harga yang sedikit lebih tinggi, yakni di kisaran Rp 2.060 per saham, mempertimbangkan potensi pemulihan dari tekanan fundamental saat ini.

Di tengah tekanan pasar dan fluktuasi harga komoditas, investor diharapkan lebih selektif dalam mengambil keputusan, sembari mencermati arah kebijakan ekspansi bisnis yang diambil Grup Adaro dalam menghadapi transisi energi ke depan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.