Geser Kebawah
AgrobisnisBisnis

Tantangan Industri Peternakan dalam Mendukung Program Makan Bergizi Gratis

95
×

Tantangan Industri Peternakan dalam Mendukung Program Makan Bergizi Gratis

Sebarkan artikel ini
tantangan industri peternakan dalam mendukung program makan bergizi gratis thumbnail
Industri peternakan Indonesia menghadapi dua tantangan besar: keterbatasan lahan dan minimnya regenerasi peternak. Bagaimana solusinya?

Jakarta, Bursa Nusantara Official – Program makan bergizi gratis (MBG) dan swasembada pangan yang digagas pemerintah menjadi salah satu harapan besar bagi masyarakat Indonesia. Namun, keberhasilan program ini tidak lepas dari berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh sektor peternakan. Ketua Perhimpunan Peternak Sapi & Kerbau Indonesia (PPSKI), Nanang Subendro, mengungkapkan bahwa setidaknya ada dua tantangan utama yang menjadi sorotan: keterbatasan lahan dan regenerasi pelaku bisnis peternakan.

Alih Fungsi Lahan, Hambatan Besar bagi Industri Peternakan

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh industri peternakan adalah beralihnya fungsi lahan. Menurut Nanang, lahan-lahan yang sebelumnya digunakan untuk pertanian dan peternakan kini semakin banyak yang berubah menjadi kawasan industri dan perumahan. “Ini menjadi tantangan yang sangat besar. Banyak lahan yang dulu bisa digunakan untuk peternakan dan pertanian kini hilang karena dialihfungsikan,” ujar Nanang saat berbicara dalam acara Investor Market Today IDTV pada Senin (16/12/2024).

Sponsor
Iklan

Nanang juga menyoroti perbedaan pendekatan antara Indonesia dan negara lain seperti Brazil. Pemerintah Brazil dinilai konsisten dalam menjaga fungsi lahan untuk kebutuhan pertanian dan peternakan. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang setiap tahun terus mengalami penurunan jumlah lahan produktif. “Maka mesti dijaga supaya tidak banyak beralih fungsi menjadi kawasan industri maupun perumahan,” imbuhnya.

Sebagai solusi, optimalisasi lahan yang belum termanfaatkan menjadi rekomendasi utama. Langkah ini dinilai dapat membantu mengatasi keterbatasan jumlah lahan yang tersedia untuk peternakan skala besar. “Mungkin dengan jalan seperti itu sedikit bisa membantu,” ungkap Nanang.

Minimnya Regenerasi, Tantangan untuk Masa Depan

Selain keterbatasan lahan, regenerasi pelaku usaha di sektor peternakan menjadi tantangan berikutnya. Kondisi ini mirip dengan yang terjadi di sektor pertanian, di mana generasi muda kurang tertarik untuk melanjutkan profesi sebagai peternak. Nanang memaparkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang menempuh bidang studi terkait peternakan tidak memiliki keinginan untuk terjun langsung ke sektor tersebut.

“Dan kita perlu tahu bahwa lebih dari 56% peternak yang saat ini masih menggeluti usahanya, umurnya sudah di atas 50 tahun. Jadi kita bisa bayangkan kalau yang 56% nanti sudah pensiun dari profesinya sebagai peternak, siapa yang akan menggantikan?” ujar Nanang dengan nada prihatin.

Minimnya regenerasi ini menjadi perhatian serius karena menyangkut kesinambungan industri peternakan di masa depan. Tanpa generasi baru yang siap meneruskan usaha peternakan, program-program pemerintah seperti MBG dan swasembada pangan bisa terhambat.

Perbandingan dengan Australia

Nanang juga membandingkan kondisi peternakan Indonesia dengan Australia. Di Australia, satu hektare lahan bisa digunakan untuk memelihara 2-4 ekor sapi. Sementara itu, di Indonesia, penggunaan lahan untuk peternakan masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan teknologi dan sistem manajemen lahan yang belum sepenuhnya berkembang.

“Kalau kita bisa optimalisasi lahan seperti yang dilakukan Australia, tentu saja ini bisa menjadi terobosan besar untuk mendukung sektor peternakan kita,” jelasnya.

Harapan bagi Masa Depan Peternakan Indonesia

Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan institusi pendidikan. Pemerintah perlu memastikan kebijakan perlindungan lahan produktif berjalan efektif. Selain itu, edukasi dan insentif bagi generasi muda untuk terjun ke sektor peternakan juga perlu diperkuat. Dengan langkah-langkah strategis ini, diharapkan program makan bergizi gratis dan swasembada pangan dapat berjalan sukses, sekaligus menghidupkan kembali gairah di industri peternakan Indonesia.