Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Cadangan Devisa April 2025 Diproyeksi Tetap Tangguh

94
×

Cadangan Devisa April 2025 Diproyeksi Tetap Tangguh

Sebarkan artikel ini
Cadangan Devisa April 2025 Diproyeksi Tetap Tangguh
Cadangan devisa Indonesia April 2025 diprediksi tetap stabil meski tekanan global meningkat dan aliran dana asing fluktuatif.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah bayang-bayang tekanan global dan gejolak nilai tukar rupiah, cadangan devisa Indonesia pada April 2025 diperkirakan tetap kokoh.

Proyeksi para ekonom menunjukkan bahwa posisi devisa nasional berpotensi bertahan di level stabil, berkat dukungan dari beberapa sektor kunci seperti SBN, SRBI, dan ekspor sumber daya alam.

Sponsor
Iklan

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, menilai kondisi pasar keuangan yang membaik memberikan ruang bagi stabilitas cadangan devisa.

Ia memproyeksikan cadev Indonesia berada pada kisaran US$156 miliar hingga US$158 miliar.

Baca Juga: Bitcoin Jatuh ke US$ 82 Ribu, ETF Spot Alami Outflow Besar

Menurut David, masuknya dana asing ke instrumen domestik seperti Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritisasi Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta saham selama bulan April menjadi penyangga utama kestabilan cadev.

Proyeksi Positif di Tengah Ketidakpastian

Myrdal Gunarto, Global Market Economist dari Maybank Indonesia, turut melihat sinyal positif dalam perkembangan cadev April.

Ia menyatakan, dengan mencermati surplus yang tercatat pada bulan sebelumnya, tren cadangan devisa masih mungkin berlanjut.

Ia memperkirakan posisi devisa bulan April bisa mencapai sekitar US$159,32 miliar, dengan asumsi adanya arus masuk dari Devisa Hasil Ekspor (DHE) sektor sumber daya alam.

Baca Juga: Regulasi DHE SDA: Penempatan Satu Tahun, Menanti Insentif Perbankan

Di sisi lain, ia mengakui bahwa meskipun obligasi masih mengalami inflow, pasar saham justru menunjukkan outflow.

Ancaman Net Outflow dan Intervensi BI

Di balik prediksi stabil, ada pula pandangan yang lebih berhati-hati. Faisal Rachman, Head of Macroeconomic and Financial Market Research Bank Permata, memperkirakan cadev justru berpotensi turun antara US$2 miliar hingga US$3 miliar.

Ia merujuk pada tekanan dari pasar keuangan yang mencatat net outflow US$2,16 miliar selama April, dengan rincian: inflow SBN sebesar US$0,39 miliar, outflow saham sebesar US$1,23 miliar, serta SRBI yang menyumbang outflow hingga US$1,31 miliar.

Baca Juga: Prospek Saham Tambang Batubara di Tengah Regulasi DHE

Faisal juga menyoroti peran intervensi Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar di tengah meningkatnya ketidakpastian global pasca pengumuman tarif balasan dari pemerintah AS. Langkah ini, menurutnya, turut memberikan tekanan pada posisi cadangan devisa.

Neraca Dagang dan DHE Jadi Penopang

Meskipun tekanan eksternal meningkat, para ekonom tetap melihat beberapa faktor yang mampu menjaga fondasi cadev nasional.

Di antaranya adalah potensi surplus neraca dagang serta implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari sektor SDA.

Sepanjang tahun berjalan hingga akhir Maret 2025, Indonesia mencatatkan net inflow portofolio sebesar US$1,6 miliar.

Baca Juga: Aturan Turunan DHE SDA Baru

Di saat bersamaan, posisi cadangan devisa akhir Maret naik menjadi US$157,1 miliar, meningkat dari US$154,5 miliar pada Februari.

Bank Indonesia sendiri menegaskan bahwa posisi cadev tersebut masih sangat memadai untuk mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan nasional.

Ketegangan global memang belum mereda, namun kekuatan internal Indonesia tampaknya masih cukup kuat untuk menahan tekanan dan menjaga stabilitas devisa di level yang solid.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru