Penguatan Rupiah Didorong Sentimen Global dan Antisipasi RDG BI
JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa solid selama tiga hari perdagangan terakhir pekan lalu, ditutup menguat ke level Rp 16.445 per dolar AS pada Jumat (16/5), naik 0,51% dibanding sehari sebelumnya.
Penguatan ini juga tercermin dalam kurs referensi Bank Indonesia (Jisdor) yang mencatat apresiasi rupiah sebesar 0,67% dari perdagangan sebelumnya.
Penguatan ini membuat pelaku pasar kini menantikan arah kebijakan Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan Rabu (21/5) mendatang.
Dolar Melemah, Rupiah Diuntungkan
Menurut Alwy Assegaf, Research & Development PT Trijaya Pratama Futures, melemahnya dolar AS memberikan ruang bagi rupiah untuk terus menguat.
Baca Juga: Stabilkan Rupiah atau Pulihkan Ekonomi? BI Harus Memilih
Penurunan indeks harga produsen (PPI) AS sebesar 0,4% dan penurunan core PPI hingga 2,4% memicu ekspektasi pasar akan pemangkasan suku bunga The Fed.
“Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS memperlemah indeks dolar, sehingga aset emerging market seperti rupiah mendapat dorongan positif,” ujar Alwy, Jumat (16/5).
Alwy juga menilai tensi geopolitik global yang mereda turut meningkatkan selera risiko investor, terutama terhadap mata uang pasar berkembang.
Risk-On Dorong Optimisme Pasar
Sentimen risk-on masih terasa di pasar global. Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, menilai kondisi ini akan terus menopang kekuatan rupiah, meskipun mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi.
Baca Juga: Lapangan Migas Baru Diapresiasi tapi Belum Cukup
“Selama belum ada guncangan baru, investor akan tetap condong memilih aset berisiko. Bahkan jika ada kesepakatan dagang regional baru dari Jepang atau India, rupiah bisa lebih menguat,” jelas Lukman, Minggu (18/5).
Menurut Lukman, kisaran pergerakan rupiah pada Senin (19/5) diperkirakan antara Rp 16.400 hingga Rp 16.500 per dolar AS.
Pelaku Pasar Pantau RDG BI
Dari sisi domestik, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia menjadi fokus perhatian pelaku pasar. Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan berlangsung Rabu mendatang diperkirakan memberi sinyal lebih jelas terkait sikap BI terhadap stabilitas rupiah dan inflasi.
Lukman menyebut RDG akan menjadi indikator penting pergerakan nilai tukar rupiah menjelang akhir pekan.
Baca Juga: Pengemudi Ojol Gelar Tritura, Tuntut Regulasi Khusus dan Potongan 10%
Alwy sendiri memperkirakan area support rupiah berada di rentang Rp 16.250–Rp 16.170 per dolar AS, sementara resistance diperkirakan di level Rp 16.500–Rp 16.600 per dolar AS.
Dengan kombinasi sentimen eksternal dan antisipasi arah kebijakan domestik, rupiah berada di posisi strategis untuk mempertahankan momentumnya, meski volatilitas tetap harus diwaspadai.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












