Geser Kebawah
BisnisHeadlinePerdagangan & Industri

KRAS Ekspansi Regional, Teken MoU Baja 120.000 Ton ke Vietnam

84
×

KRAS Ekspansi Regional, Teken MoU Baja 120.000 Ton ke Vietnam

Sebarkan artikel ini
KRAS Ekspansi Regional, Teken MoU Baja 120.000 Ton ke Vietnam
Krakatau Steel teken MoU ekspor HRC ke Vietnam 120.000 ton, dorong dominasi baja ASEAN lewat kolaborasi strategis di ISSEI 2025.

Krakatau Steel Garap Pasar ASEAN Lewat Vietnam

JAKARTA, BursaNusantara.com – Krakatau Steel (KRAS) kembali menunjukkan tajinya sebagai pemain dominan industri baja di kawasan, dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) strategis bersama Vietnam Steel Corporation dalam ajang ISSEI 2025.

Penandatanganan berlangsung meriah di Jakarta International Convention Center pada 22 Mei 2025. Kedua perusahaan sepakat merealisasikan pengiriman Hot Rolled Coil (HRC) sebesar 120.000 ton selama 12 bulan ke depan.

Sponsor
Iklan

Ekspansi HRC Jadi Strategi Pemanfaatan Pabrik HSM-1

Ini menjadi momentum penting bagi Krakatau Steel yang tengah memaksimalkan kapasitas produksi pabrik Hot Strip Mill 1 pasca pemulihan.

Baca Juga:

Bukan sekadar ekspansi bisnis, tapi strategi penegasan posisi Indonesia dalam rantai pasok baja regional.

Langkah agresif Krakatau Steel diperkuat oleh realita industri baja Vietnam yang kini tengah mencari solusi atas tekanan dari produk impor murah asal China dan Korea Selatan.

Vietnam dalam Krisis Impor Baja Murah

Pada Februari 2025, Asosiasi Baja Vietnam bahkan mengajukan tarif protektif kepada pemerintahnya. Kehadiran Krakatau Steel di tengah situasi tersebut tak hanya menawarkan stabilitas pasokan, tetapi juga menghadirkan alternatif mitra jangka panjang yang kredibel di ASEAN.

Ini memperluas peluang penetrasi pasar regional secara signifikan.

Dukungan Pemerintah Indonesia Lewat ISSEI 2025

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan dukungan terbuka terhadap kerja sama ini. Dalam konferensi pers ISSEI 2025, ia menyebut sinergi intra-ASEAN sebagai jawaban atas ketegangan dagang global yang kian meningkat.

“ASEAN adalah salah satu produsen baja terbesar dunia. Sudah saatnya kita perkuat kerja sama regional,” tegas Airlangga.

Airlangga juga menyoroti kontribusi sektor industri pengolahan yang mencapai 19,25% terhadap PDB Indonesia pada kuartal I-2025. Ia menyebut sektor baja sebagai ujung tombak yang akan mendongkrak ekspor nasional secara signifikan.

Hilirisasi dan TKDN Jadi Fokus Transformasi

Tak berhenti di sektor hulu, Krakatau Steel mulai mendorong hilirisasi produk bernilai tambah tinggi. Antara lain: baja otomotif untuk kendaraan listrik, baja pertahanan untuk industri strategis seperti PT PAL dan PT Pindad, serta baja konstruksi berstandar ramah lingkungan.

Kerja sama ini juga memperkuat komitmen terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan membuka peluang pertukaran material dan harmonisasi spesifikasi teknis produk baja antarnegara ASEAN.

Komitmen Transformasi Krakatau Steel

Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyebut ini sebagai transformasi nyata yang telah lama dipersiapkan melalui efisiensi operasional dan inovasi teknologi.

“Transformasi Krakatau Steel bukan slogan. Kami buktikan lewat efisiensi, teknologi, dan daya saing regional,” tegas Akbar.

Kerja sama ini adalah bagian dari inisiatif besar ASEAN Iron & Steel Council yang disepakati oleh enam negara dalam ISSEI 2025: Indonesia, Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina.

Potensi Penguatan Saham KRAS Usai MoU Strategis Vietnam

Menurut Ali, Analis Pasar Saham Senior dari BursaNusantara.com, sentimen kerja sama strategis Krakatau Steel dengan Vietnam Steel Corporation bisa menjadi katalis jangka pendek hingga menengah terhadap pergerakan saham KRAS.

Analisa Teknikal Saham KRAS: Breakout & Golden Cross

Dari sisi teknikal, grafik harian (daily chart) KRAS menunjukkan breakout signifikan pada 23 Mei 2025, ditandai oleh lonjakan harga sebesar +5,43% ke level Rp136. Ini diiringi volume transaksi tinggi sebesar 69,2 juta lot, jauh melampaui rata-rata volume sebelumnya.

Pola candlestick yang terbentuk adalah bullish marubozu, yang biasanya mengindikasikan kelanjutan tren naik. Garis MA-14 dan MA-21 simple juga memperlihatkan golden cross pada pekan sebelumnya sinyal konfirmasi pembalikan tren dari sideways ke bullish.

Aksi Broker Asing Dorong Momentum Kenaikan

Indikator Foreign Flow juga menunjukkan akumulasi asing sebesar +410M, berbanding terbalik dengan distribusi oleh top 5 broker lokal. Akumulasi kuat berasal dari PT Trimegah Sekuritas Indonesia (TP) dan PT Mandiri Sekuritas (YP), menunjukkan potensi pembentukan trend naik institusional.

Proyeksi Harga & Rekomendasi Aksi

Dari sudut pandang sentimen, penandatanganan MoU sebesar 120.000 ton HRC tidak hanya memperkuat kapabilitas ekspor Krakatau Steel, tetapi juga berpotensi meningkatkan utilisasi pabrik HSM-1 di Cilegon.

Ali menjelaskan:

“Berita kerja sama ini bisa mendorong investor institusional untuk mulai mengakumulasi KRAS, apalagi pasar melihat potensi lonjakan permintaan baja di ASEAN akibat ketegangan dagang China-Vietnam.”

“Jika KRAS mampu mempertahankan level di atas Rp136 dan menembus resistance berikutnya di Rp144, maka target jangka pendek bisa menuju Rp152 dengan dukungan fundamental dan teknikal yang saling menguatkan,” tambahnya.

Namun, investor tetap perlu mencermati konsistensi pengiriman serta realisasi revenue ekspor dari kerja sama ini pada laporan keuangan semester I nanti.

Ali merekomendasikan posisi buy on breakout dengan stop loss ketat di level support Rp129 jika terjadi koreksi volume rendah.