Pasar Kripto Melejit Ditopang Pantulan Bitcoin
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat setelah sebelumnya sempat terperosok ke level US$ 102.600 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran. Dalam 24 jam terakhir, lonjakan harga ini menjadi motor penggerak rebound pasar kripto secara keseluruhan.
Data dari Coinmarketcap, Sabtu (14/6/2025) pukul 08.40 WIB, menunjukkan bahwa kapitalisasi pasar kripto global naik 2,29% menjadi US$ 3,29 triliun.
Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi pasar tradisional yang relatif stabil dan sentimen investor yang kembali menghangat.
Performa Bitcoin dan Altcoin Terkini
Bitcoin mencatat kenaikan 1,72% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga BTC berada di kisaran US$ 105.600 atau sekitar Rp 1,71 miliar (kurs Rp 16.270).
Meski demikian, sejumlah analis masih mewaspadai pergerakan selanjutnya.
Ethereum (ETH) juga menunjukkan penguatan 2,68% menjadi US$ 2.564 per koin. Solana (SOL) menanjak 2,7% ke level US$ 147,3. XRP naik 1,12% ke US$ 2,13, sementara Binance Coin (BNB) menguat 1,19% ke US$ 652.
Namun, Dogecoin (DOGE) justru melemah 3,66% ke level US$ 0,178. Koreksi ini menunjukkan bahwa investor masih selektif terhadap aset kripto tertentu, terutama di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Respon Pasar Tradisional dan Saham Kripto
Di saat pasar kripto melonjak, pasar keuangan tradisional justru bergerak relatif datar. Emas naik 1,3% sebagai aset lindung nilai, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq kompak terkoreksi 0,4%.
Saham-saham kripto seperti MARA Holdings (MARA) dan Riot Platforms (RIOT) masing-masing turun 5% dan 4%.
Penurunan ini terjadi meski harga aset digital mengalami rebound, menandakan adanya perbedaan respons antara pasar spot dan pasar saham kripto.
Kejutan dari Circle dan Dorongan Sektor Stablecoin
Salah satu sorotan datang dari Circle (CIRCL), perusahaan penerbit stablecoin yang baru saja IPO.
Saham CIRCL melejit 13% setelah muncul kabar bahwa Amazon dan Walmart mulai menjajaki integrasi stablecoin dalam sistem pembayaran mereka.
Kabar ini memicu sentimen positif terhadap potensi adopsi kripto yang lebih luas, terutama di sektor ritel besar yang memiliki basis konsumen global.
Analisis Teknikal dan Proyeksi Harga BTC
Trader populer Skew menyebut bahwa pantulan harga Bitcoin sejauh ini cukup solid.
Namun, ia menekankan bahwa pelaku pasar tetap waspada, apalagi korelasi BTC dengan pasar tradisional masih tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik.
Markus Thielen dari 10x Research menyebutkan, kegagalan Bitcoin untuk bertahan di atas US$ 106.000 menandakan breakout yang tidak valid.
Ia menyarankan investor menunggu sinyal teknikal yang lebih kuat sebelum mengambil posisi beli saat harga turun.
Titik Kritis dan Risiko Koreksi Lebih Dalam
Menurut Thielen, area US$ 100.000–US$ 101.000 menjadi zona support penting. Jika level ini jebol, Bitcoin berpotensi kembali ke pola konsolidasi berkepanjangan seperti yang terjadi pada musim panas tahun lalu.
Sementara itu, John Glover, CIO Ledn, memproyeksikan potensi koreksi lebih dalam ke area US$ 88.000–US$ 93.000 sebelum BTC kembali melanjutkan tren naiknya.
Menurutnya, level US$ 90.000 bisa menjadi titik masuk yang menarik bagi investor jangka panjang sebelum Bitcoin menuju target US$ 130.000.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









