Arus Impor China ke Indonesia Meningkat Tajam
JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali menciptakan efek berantai, terutama terhadap negara mitra seperti Indonesia. Salah satu dampaknya kini mulai terasa lewat lonjakan arus impor dari Negeri Tirai Bambu.
Strategi China mengalihkan pasar ke Asia Tenggara, terutama Indonesia, mendorong pertumbuhan ekspor mereka secara signifikan. Citigroup Inc melaporkan nilai ekspor China ke ASEAN mencapai US$ 51,3 miliar pada Mei 2025 atau tumbuh 13% yoy.
Indonesia Jadi Tujuan Utama Ekspor China
Lonjakan terbesar justru terjadi di Indonesia. Pada Mei 2025, impor barang dari China naik 21,43% yoy menjadi US$ 6,8 miliar.
Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, menyebutkan kondisi ini menandai kembalinya dominasi produk asal China di pasar dalam negeri secara masif.
Menurutnya, peningkatan impor tersebut tak lepas dari manuver strategis China menghadapi tekanan dagang dari AS.
“Ini bagian dari relokasi pasar China ke kawasan yang lebih terbuka,” ungkap Yusuf.
Pola Perdagangan RI-China Berubah Dinamis
Berdasarkan data TradeMap, Yusuf mencatat China selalu mencatatkan surplus terhadap Indonesia dari 2015–2020 meski fluktuatif. Namun, tren berubah sejak 2021 hingga 2023.
Indonesia berhasil membalikkan neraca menjadi surplus, yakni US$ 3,2 juta pada 2021, lalu naik ke US$ 6,45 juta di 2022, dan melonjak US$ 8,86 juta pada 2023.
Sayangnya, kondisi ini tak bertahan. Di tahun 2024, neraca kembali defisit akibat lonjakan impor dari China.
“Surplus itu hanya sesaat. Pada 2024, China mencatatkan surplus terhadap Indonesia sebesar US$ 5,57 miliar,” jelasnya.
Data Satu Data Kementerian Perdagangan
Sementara itu, data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa Indonesia juga mengalami defisit neraca dagang dengan China pada 2020 hingga 2022.
Defisit tersebut masing-masing sebesar US$ 7,85 miliar (2020), US$ 2,46 miliar (2021), dan US$ 1,8 miliar (2022).
Namun, pada 2023, Indonesia berhasil mencatatkan surplus sebesar US$ 2,05 miliar terhadap China. Tapi pada 2024, defisit kembali melebar hingga US$ 10,29 miliar.
Ketimpangan Struktural Jadi Masalah Utama
Yusuf menilai defisit ini menunjukkan adanya ketimpangan daya saing industri antara Indonesia dan China. Dominasi China tak hanya soal volume, tetapi juga kualitas dukungan struktural.
“China punya keunggulan karena dukungan penuh terhadap R&D, teknologi, dan logistik,” ujar Yusuf.
Indonesia, sebaliknya, masih bertumpu pada ekspor komoditas. Ketergantungan terhadap barang modal dan barang antara dari China memperlemah basis industri nasional.
“Tanpa perbaikan struktural, kita hanya akan jadi pasar, bukan produsen,” tegasnya.
Butuh Langkah Kebijakan yang Konkret
Yusuf menegaskan bahwa tren defisit jangka panjang ini bisa diatasi jika pemerintah serius melakukan intervensi kebijakan.
Langkah-langkah yang disarankan meliputi penguatan sektor manufaktur, investasi dalam litbang, dan kebijakan proteksi selektif terhadap industri strategis.
“Kalau tidak ada intervensi, defisit bisa membesar dalam waktu dekat,” pungkasnya.










