SAFE Konversi Utang ke Saham Seri B Demi Perkuat Modal
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Steady Safe Tbk. (IDX:SAFE) tengah bersiap merombak neraca keuangannya melalui skema penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement.
Aksi ini bukan sekadar strategi modal biasa, melainkan langkah korektif terhadap beban utang jangka panjang yang selama ini membayangi operasional bisnis transportasi publik emiten tersebut.
Corporate Secretary SAFE, Efris Indria Y.A., menjelaskan bahwa sebagian utang kepada pemegang saham pengendali, PT Infiniti Wahana, akan dikonversi menjadi saham Seri B.
Nilai konversi mencapai Rp34,62 miliar, menandai pergeseran dari kewajiban berbunga ke ekuitas perusahaan.
Strategi Konversi: Jalan Tengah yang Diplomatis
Porsi utang yang tidak dikonversi, senilai Rp21,25 miliar, menurut Efris, akan diselesaikan melalui pelunasan atau konversi tambahan dalam jangka waktu tiga tahun sejak kesepakatan pada 19 Mei 2025.
Dengan demikian, total eksposur SAFE terhadap Infiniti Wahana akan ditangani secara bertahap, tanpa tekanan arus kas jangka pendek.
Langkah ini menghindari aksi ekstrem seperti restrukturisasi penuh yang bisa memicu kekhawatiran investor atau bahkan pemotongan layanan.
Dari sisi ekuitas, SAFE akan menerbitkan 206.062.500 lembar saham Seri B dengan harga pelaksanaan Rp168 per saham, seluruhnya akan diserap oleh Infiniti Wahana.
Harga tersebut tampaknya disesuaikan dengan valuasi wajar SAFE pascakoreksi utang dan belum menunjukkan indikasi premium atau diskon berlebih.
Infiniti Wahana: Dari Kreditur Menjadi Investor Strategis
Penyertaan PT Infiniti Wahana sebagai satu-satunya pembeli saham baru dalam aksi ini menegaskan posisinya sebagai pemegang kendali sekaligus mitra strategis.
Infiniti sebelumnya menyediakan pembiayaan untuk pembelian armada bus SAFE yang menjadi tulang punggung operasional transportasi publik perusahaan.
Dengan mengalihkan peran dari pemberi pinjaman ke pemegang saham baru, hubungan bisnis antara keduanya dikonsolidasikan dalam ikatan ekuitas jangka panjang.
“Langkah ini tidak hanya menyelamatkan posisi neraca SAFE, tapi juga menguatkan fondasi hubungan korporasi yang saling menguntungkan,” ujar Efris.
Konversi utang ke saham juga berarti SAFE tidak perlu menggelar aksi rights issue yang berisiko menurunkan kepemilikan publik secara drastis.
Rencana RUPSLB: Ujian Kepercayaan Investor Minoritas
SAFE menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 26 Juni 2025 guna meminta restu pemegang saham atas rencana ini.
Meski secara teknis tidak melibatkan hak memesan efek (HMETD), langkah ini tetap butuh persetujuan formal karena menyangkut penerbitan saham baru.
Investor publik mungkin akan menyoroti potensi dilusi terhadap kepemilikan mereka, meskipun jumlah saham Seri B yang diterbitkan masih dalam batas wajar.
SAFE perlu menyampaikan rasionalisasi yang kuat kepada pasar bahwa langkah ini murni untuk stabilisasi jangka panjang, bukan konsolidasi kepemilikan semata.
Keterbukaan informasi dan strategi komunikasi yang terarah menjadi kunci menjaga kepercayaan investor minoritas terhadap manajemen.
Efek Terhadap Fundamental: Dari Leverage ke Likuiditas
Dampak langsung dari aksi ini adalah menurunnya rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio/DER) yang sebelumnya menekan fleksibilitas keuangan SAFE.
Dengan sebagian utang berubah menjadi ekuitas, SAFE berpotensi mendapatkan ruang gerak untuk mengakses pembiayaan baru dengan syarat yang lebih ringan.
Hal ini penting mengingat sektor transportasi publik menghadapi kebutuhan pembaruan armada dan infrastruktur operasional secara berkelanjutan.
Selain itu, konversi utang juga mengurangi beban bunga yang selama ini menyusutkan margin keuntungan perusahaan.
Penghematan ini dapat dialokasikan untuk peningkatan layanan dan penguatan operasional, tanpa mengorbankan posisi kas jangka pendek.
Pesan Pasar: Konsolidasi Internal Menuju Skala Eksternal
Langkah SAFE ini mencerminkan konsolidasi internal yang sehat—merapikan neraca, mengurangi beban utang, dan memperkuat struktur kepemilikan.
Pasar bisa menilai langkah ini sebagai sinyal positif bahwa SAFE tengah mengarahkan ulang strategi jangka panjangnya tanpa bergantung pada suntikan eksternal.
Namun demikian, keberhasilan aksi ini juga ditentukan oleh eksekusi pasca-RUPSLB, termasuk disiplin pelunasan utang tersisa dan konsistensi dalam pengelolaan modal kerja.
Dukungan Infiniti Wahana sebagai investor strategis membuka peluang bagi SAFE untuk menjajaki pengembangan layanan yang lebih inovatif dan efisien.
Dengan momentum ini, SAFE dituntut membuktikan bahwa penguatan struktur modal benar-benar mampu memperkuat posisi bisnisnya di tengah tekanan sektor transportasi publik.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











