Geser Kebawah
Nasional

Kursi Wakapolri Masih Kosong Saat 702 Personel Dimutasi Kapolri

81
×

Kursi Wakapolri Masih Kosong Saat 702 Personel Dimutasi Kapolri

Sebarkan artikel ini
Kursi Wakapolr
Mutasi besar 702 personel Polri tak sertakan nama pengganti Wakapolri. Kekosongan strategis ini picu spekulasi soal tarik-menarik kekuasaan internal.

Mutasi Besar Tanpa Wakapolri: Spekulasi Menguat di Internal Polri

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah arus mutasi besar-besaran yang menyasar 702 personel Polri, sorotan justru tertuju pada satu hal yang belum diumumkan: siapa pengganti Wakapolri Komjen Ahmad Dofiri.

Mutasi ini tertuang dalam lima surat telegram Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tertanggal 24 Juni 2025, yang meliputi personel berpangkat perwira tinggi, menengah, hingga PNS.

Sponsor
Iklan

Namun dari ratusan rotasi jabatan itu, tidak ada satu pun yang menyebutkan sosok baru Wakapolri.

Padahal, posisi itu akan segera kosong menyusul masa pensiun Komjen Ahmad Dofiri bulan ini.

Empat Komjen Dimutasi, Tapi Bukan Menuju Wakapolri

Keempat perwira bintang tiga yang masuk daftar mutasi justru digeser ke jabatan fungsional non-struktural.

Komjen Setyo Budiyanto, yang kini memimpin KPK, dimutasi sebagai Perwira Tinggi Itwasum Polri.

Komjen Eddy Hartono dari BNPT dialihkan ke Pati Densus 88, sedangkan Komjen Pudji Prasetijanto Hadi dan Komjen Lotharia Latif dipindah ke Bareskrim Polri menjelang pensiun.

Keempatnya tidak masuk radar kandidat Wakapolri karena tidak aktif di lini operasional Polri.

Calon Wakapolri Masih Disiapkan, Tapi Mengapa Ditunda?

Kadiv Humas Polri Irjen Sandi Nugroho menyebut nama calon Wakapolri memang belum final karena “masih dalam proses.”

Ia menegaskan bahwa saat ini Polri tengah mempersiapkan sejumlah nama bintang tiga yang dianggap layak menggantikan Komjen Dofiri.

Namun, belum dijelaskan secara terbuka siapa saja sosok yang dimaksud.

Menurut sumber internal yang tidak disebutkan namanya, absennya pengumuman ini bukan sekadar prosedural, melainkan menyangkut tarik-menarik kekuasaan internal.

Dinamika Kepemimpinan dan Transisi Menuju Suksesi Kapolri

Dengan masa jabatan Jenderal Listyo Sigit yang juga makin mendekati akhir, kekosongan posisi Wakapolri bisa menjadi titik awal persaingan lebih besar.

Selama ini, Wakapolri kerap diposisikan sebagai figur strategis menjelang suksesi Kapolri.

Dari sejarah era Listyo Sigit, posisi Wakapolri pernah diisi oleh Gatot Eddy Pramono dan Agus Andrianto sebelum akhirnya digantikan oleh Ahmad Dofiri.

Penundaan penunjukan pengganti Dofiri membuka ruang spekulasi mengenai siapa yang bakal dipersiapkan menjadi suksesor Kapolri berikutnya.

Ketegangan Internal atau Kalkulasi Politik?

Langkah Kapolri menahan pengumuman nama Wakapolri kemungkinan besar adalah strategi waktu.

Dalam banyak institusi, termasuk militer dan kepolisian, pengisian jabatan strategis tak selalu bersifat administratif, melainkan politis dan simbolik.

Penundaan ini memberi waktu untuk mengukur dinamika dukungan internal dan eksternal di antara jenderal bintang tiga yang tersisa.

Menurut pengamat keamanan, penundaan seperti ini bisa menjadi cara Kapolri memperkuat kontrolnya menjelang masa transisi atau menghindari potensi resistensi terhadap figur tertentu.

Siapa Saja yang Mungkin Masuk Bursa?

Meski belum diumumkan, sejumlah nama yang telah berpangkat Komjen dan masih aktif secara struktural di Mabes Polri bisa masuk dalam radar.

Namun, jika dilihat dari mutasi kali ini, tidak satu pun dari mereka tampak sedang diproyeksikan ke jenjang struktural lebih tinggi.

Hal ini memperkuat sinyal bahwa pengisian posisi Wakapolri akan diumumkan dalam waktu yang sangat dekat, mungkin lewat surat telegram susulan.

Banyak kalangan meyakini nama tersebut akan memiliki pengaruh signifikan terhadap konfigurasi Polri ke depan, terutama pasca-2025.

Mutasi Ini Bukan Sekadar Rotasi Rutin

Meskipun Brigjen Trunoyudo menyebut bahwa mutasi adalah proses rutin, skala besar kali ini patut dicermati lebih jauh.

Dengan 702 personel yang digeser dalam satu waktu, terdapat kemungkinan penyegaran arah organisasi secara sistemik menjelang agenda-agenda besar nasional.

Mutasi ini juga mengandung pesan kuat bahwa Kapolri tengah merestrukturisasi lini strategis, namun belum menyentuh “puncak kepemimpinan” kedua, yaitu Wakapolri.

Ketika mutasi besar berjalan tanpa pengisian posisi kunci, maka spekulasi yang muncul bukan lagi soal siapa yang digeser, melainkan siapa yang belum muncul.

Dan dalam dunia kepolisian, yang tidak tertulis kadang jauh lebih keras berbicara.