Minyak Dunia Rebound, Fundamental AS Jadi Sentimen Utama
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak dunia akhirnya berhasil menghapus sebagian tekanan yang menekan pasar awal pekan ini, dengan lonjakan dipicu oleh sinyal kuat dari sisi fundamental Amerika Serikat serta meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Brent dan WTI Naik, Koreksi Mingguan Terpangkas
Harga minyak Brent naik 54 sen atau 0,8% ke US$ 67,68 per barel.
Harga WTI menguat 55 sen atau 0,9% ke posisi US$ 64,92 per barel.
Kedua acuan itu bangkit setelah sempat terkoreksi hingga 13% dalam satu minggu terakhir.
Pemulihan ini dinilai sebagai respons cepat pasar terhadap sejumlah katalis baru yang menahan tekanan bearish lebih lanjut.
Pasar kini mulai mengabaikan kepanikan sesaat akibat risiko geopolitik.
Gencatan Senjata Iran-Israel, Ketegangan Timur Tengah Mereda
Deklarasi gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump memicu perubahan drastis sentimen pasar.
Setelah diumumkan pada Selasa, harga minyak sempat jatuh ke level terendah sejak awal Juni.
Namun, pasar mulai menilai stabilitas geopolitik tersebut sebagai sinyal positif, bukan risiko.
Sikap wait and see mulai dominan, seiring pelaku pasar mencermati keberlanjutan perdamaian regional.
Meski demikian, analis ING memperingatkan bahwa risiko pasokan dari kawasan tetap relevan dan belum benar-benar sirna.
Penurunan Stok Minyak AS Jadi Pemicu Utama Rebound
Data dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan penurunan drastis stok minyak mentah sebesar 5,8 juta barel.
Angka itu jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya memprediksi penurunan 797 ribu barel.
Stok bensin turun 2,1 juta barel, berbanding terbalik dengan ekspektasi kenaikan 381 ribu barel.
Permintaan bensin melonjak ke titik tertinggi sejak Desember 2021, mengindikasikan konsumsi domestik menguat.
“Data ini membuat pasar mengalihkan fokus dari Timur Tengah ke sisi fundamental permintaan domestik,” ujar Phil Flynn dari Price Futures Group.
Pasar Antisipasi Sinyal The Fed dan Data Ekonomi AS
Data terbaru menunjukkan kepercayaan konsumen AS mulai goyah.
Tanda-tanda perlambatan ekonomi membuat pelaku pasar memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter.
The Fed diprediksi akan mulai memangkas suku bunga pada September mendatang.
Kebijakan dovish berpeluang memperkuat aktivitas ekonomi dan permintaan energi.
Harga minyak pun diperkirakan tetap berada di jalur konsolidasi dalam jangka pendek.
Konsolidasi Harga Minyak di Tengah Volatilitas Global
Menurut analis independen Tina Teng, harga minyak akan bergerak di rentang US$ 65 hingga US$ 70 per barel.
Kisaran ini mencerminkan fase konsolidasi yang berakar pada kombinasi ketegangan geopolitik dan data ekonomi AS.
Dengan absennya tekanan besar dari sisi suplai, arah pasar akan ditentukan oleh sisi permintaan dan makroekonomi.
Ekspektasi pelonggaran The Fed bisa menjadi kunci kenaikan lanjutan harga minyak dalam kuartal III.
Sementara itu, sensitivitas terhadap data mingguan stok tetap tinggi dan menjadi indikator vital bagi investor energi.
Bursa Komoditas Mengantisipasi Perubahan Sentimen Global
Reli harga minyak memberikan dorongan bagi emiten migas di berbagai bursa komoditas global.
Pelaku pasar mulai mengalihkan posisi dari lindung nilai ke spekulasi kenaikan jangka pendek.
Minyak menjadi instrumen utama untuk mengukur sentimen ekonomi pasca-gencatan senjata.
Volatilitas pasar kemungkinan akan tetap tinggi menjelang keputusan suku bunga The Fed.
Pemain besar sektor energi bersiap mengkapitalisasi perubahan siklus pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












