Geser Kebawah
BisnisHeadlinePerdagangan & Industri

Penjualan Emas UNTR Tumbuh, Target Saham Tetap Cemerlang

167
×

Penjualan Emas UNTR Tumbuh, Target Saham Tetap Cemerlang

Sebarkan artikel ini
Penjualan Emas UNTR Tumbuh, Target Saham Tetap Cemerlang (1)
UNTR catat penjualan emas 100 ribu oz hingga Mei 2025, naik 18% yoy. Meski bulanan turun, prospek saham tetap positif dengan target Rp26.500.

Emas Menguat, Nikel dan Komatsu Menyusul: Mesin Ganda UNTR Masih Panas

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah fluktuasi harga komoditas global dan tantangan cuaca ekstrem, PT United Tractors Tbk (UNTR) menunjukkan ketangguhan bisnis dengan catatan penjualan emas sebesar 100 ribu troy ounce (oz) hingga Mei 2025, tumbuh 18% secara tahunan.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa diversifikasi portofolio UNTR, khususnya pada emas dan nikel, tetap menjadi penggerak pendapatan yang stabil saat sektor batu bara tertekan.

Sponsor
Iklan

Harga Emas Naik, Tapi Penjualan Mei Menyusut Tajam

Berdasarkan riset Macquarie, harga jual rata-rata emas UNTR naik menjadi Rp3.287 per oz pada kuartal II-2025.

Namun secara bulanan, penjualan emas pada Mei justru anjlok 65% menjadi hanya 11 ribu oz.

Volume ini menjadi yang terendah sejak Maret 2024, menandai titik balik yang kontras dengan tren tahunan.

Penurunan tersebut menimbulkan tanda tanya apakah tren positif tahunan dapat dipertahankan pada semester kedua tahun ini.

Meski demikian, analis menilai kontribusi emas sebagai penopang tetap signifikan.

Nikel Jadi Kontributor Tambahan, Emas dan Nikel Serap 11% Pendapatan

Selain emas, bisnis nikel UNTR melalui Stargate membukukan penjualan sebesar 888 ribu ton hingga Mei.

Angka ini tumbuh 13% secara tahunan dan mempertegas peran logam dasar dalam bauran bisnis perusahaan.

Emas dan nikel secara kolektif menyumbang 11% terhadap total pendapatan UNTR menurut catatan Macquarie.

Kontribusi ini makin penting mengingat tekanan yang dialami sektor batu bara akibat harga global yang menurun.

Peningkatan kontribusi nikel menandai strategi UNTR untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada batu bara.

Produksi Batu Bara Kontraktor Terkendala Cuaca, Fee Menurun

Anak usaha UNTR, PT Pamapersada Nusantara (Pama), membukukan produksi batu bara 55,3 juta ton hingga Mei.

Namun volume overburden removal justru turun 11% menjadi 435,5 juta bank cubic meter (bcm).

Capaian ini masing-masing setara dengan 36% dari target tahunan Macquarie dan manajemen.

Produksi Pama terdampak hujan lebat sejak Maret hingga pertengahan Mei yang menghambat aktivitas operasional.

Selain itu, tekanan juga datang dari penurunan harga batu bara global, yang membuat net mining fee Pama ikut melemah.

Macquarie menyebut harga batu bara NEWC turun 27% menjadi US$104 per ton hingga kuartal II 2025.

Tambang Sendiri UNTR Tumbuh 5%, Harga Batu Bara Termal Menurun

Berbeda dengan kontraktor, tambang batu bara milik UNTR sendiri justru membukukan penjualan sebesar 6,6 juta ton.

Volume ini naik 5% secara tahunan dan telah mencapai 47% dari target setahun penuh Macquarie.

Komposisinya, 73% berasal dari batu bara termal, sementara sisanya batu bara metalurgi (met).

Namun, harga batu bara termal turun 7% secara kuartalan menjadi US$100 per ton, menekan potensi margin.

Penurunan harga ini menjadi tantangan serius bagi profitabilitas, terutama pada semester kedua jika tren tak berubah.

Komatsu Naik Signifikan, Pangsa Pasar Tetap Stabil

Dari lini alat berat, UNTR mencatat lonjakan penjualan Komatsu sebesar 34% menjadi 2.349 unit per Mei 2025.

Volume tersebut telah mencakup 53% dari estimasi Macquarie dan 51% dari panduan internal UNTR untuk 2025.

Pangsa pasar Komatsu masih bertahan di level 26%, sama seperti tahun 2024.

Konsistensi ini menunjukkan bahwa dominasi UNTR di pasar alat berat masih kuat meski kompetisi semakin ketat.

Faktor ini turut mendukung pendapatan konsolidasian perusahaan dari sisi non-pertambangan.

Proyeksi Turun, Tapi Potensi Capital Gain Masih Menggoda

Meski kinerja operasional menunjukkan pertumbuhan selektif, Macquarie memprediksi penurunan kinerja finansial.

Estimasi pendapatan UNTR tahun 2025 berada di level Rp129 triliun, lebih rendah dari realisasi 2024 sebesar Rp134 triliun.

Begitu juga laba bersih diperkirakan turun menjadi Rp16,4 triliun dibandingkan Rp19,5 triliun pada tahun sebelumnya.

Namun hal tersebut tidak mengubah pandangan positif Macquarie terhadap prospek saham UNTR.

Analis tetap merekomendasikan status “outperform” dengan target harga Rp26.500 dalam 12 bulan.

Level ini menawarkan potensi imbal hasil 33% dari harga saat riset ditulis di Rp21.175.

Mesin Ganda UNTR Dinilai Masih Bertenaga di Tengah Tekanan Komoditas

Rekomendasi positif dari Macquarie mencerminkan keyakinan bahwa kekuatan diversifikasi bisnis UNTR akan menjaga ketahanan kinerja.

Meskipun batu bara menghadapi tekanan harga dan cuaca, lonjakan pada penjualan alat berat dan stabilnya kontribusi emas menjadi penyeimbang yang efektif.

Investor dinilai tetap bisa melirik saham UNTR sebagai bagian dari portofolio sektor tambang dengan potensi upside menarik.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.