Ketika Dolar Tertekan, Rupiah Ambil Panggung
JAKARTA, BursaNusantara.com – Rupiah menguat signifikan 36 poin ke level Rp16.210,5 per dolar AS pada Kamis pagi (3/7/2025), mengakhiri tekanan dua hari terakhir dengan kenaikan 0,22% di pasar spot.
Namun penguatan ini tak semata-mata karena faktor teknikal, melainkan mencerminkan gesekan geopolitik dan ekspektasi moneter global yang mengubah arah arus modal dunia.
Mata uang Garuda kini berdiri di simpang tiga kebijakan: ketegangan dagang antara AS–Asia, peluang pelonggaran suku bunga The Fed, dan kekacauan fiskal dalam negeri Amerika Serikat.
Sementara itu, indeks dolar AS hanya bergerak tipis naik 0,01 poin ke 96,7, setelah menyentuh posisi terendah dalam 3,5 tahun terakhir.
Pasar kini membaca rupiah sebagai cermin dari perubahan besar dalam pola kekuatan ekonomi global bukan sekadar mata uang negara berkembang yang reaktif.
Kesepakatan AS-Vietnam: Momentum Rupiah Bangkit?
Pasar menyambut hangat kesepakatan dagang antara AS dan Vietnam yang diumumkan Presiden Trump, dengan menyoroti dampaknya terhadap rantai pasok global.
Perjanjian ini mencakup tarif impor 20% untuk barang Vietnam dan 40% untuk produk dari negara ketiga yang transit melalui Vietnam.
Bagi pasar mata uang, langkah ini bukan hanya soal Vietnam, tapi strategi Amerika menekan dominasi China lewat jalur belakang perdagangan Asia.
Penguatan rupiah menjadi refleksi bahwa Indonesia masih dilihat sebagai zona stabil di tengah memanasnya peta dagang kawasan.
Kondisi ini menjadikan rupiah menarik bagi investor global yang mencari safe haven alternatif di Asia Tenggara.
Data Ketenagakerjaan AS: The Fed Makin Tertekan?
Fokus pelaku pasar global kini beralih pada laporan tenaga kerja AS bulan Juni, yang menjadi penentu arah suku bunga The Fed.
Data ADP yang dirilis Rabu menunjukkan sektor swasta kehilangan 33 ribu pekerjaan, pertama kalinya sejak lebih dari dua tahun terakhir.
Hal ini mendorong spekulasi pemangkasan suku bunga bisa datang lebih cepat sebuah sinyal bullish bagi mata uang emerging market seperti rupiah.
CME FedWatch menunjukkan kemungkinan penurunan suku bunga pada Juli kini naik menjadi 25%, dari sebelumnya 20%.
Dalam konteks ini, rupiah tidak hanya diuntungkan oleh sentimen regional, tetapi juga oleh melemahnya daya tarik imbal hasil dolar AS.
Di Balik Penguatan Rupiah, AS Sendiri Terancam Stagnasi
Kebijakan dalam negeri AS justru memperkeruh situasi dengan ketidakpastian fiskal yang belum menemukan arah.
Partai Republik masih belum mampu meloloskan proposal pemotongan pajak besar-besaran dari Presiden Trump.
RUU yang diajukan berpotensi menambah beban utang hingga US$ 3,3 triliun, menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan fiskal AS.
Menurut Eddy Loh dari Maybank, tanpa ruang stimulus, ekonomi AS akan kesulitan menjaga momentum pemulihan.
Ini membuat aset negara berkembang, termasuk rupiah, kembali menarik sebagai alternatif investasi dalam jangka pendek.
Pound Bangkit, Inggris Tunjukkan Stabilitas Fiskal
Di sisi lain, mata uang poundsterling menguat tipis ke US$ 1,3647 setelah anjlok hampir 1% sehari sebelumnya.
Langkah PM Inggris Keir Starmer memberi dukungan terbuka pada Menteri Keuangan Rachel Reeves berhasil meredam kepanikan pasar.
Keputusan pemerintah untuk menarik reformasi kesejahteraan juga dianggap strategi menstabilkan anggaran jangka pendek.
Kestabilan politik fiskal Inggris menjadi kontras dengan kekacauan fiskal AS memperjelas pergeseran persepsi risiko investor global.
Stabilitas kawasan Eropa ikut memperkuat daya tahan mata uang kawasan Asia, termasuk rupiah yang ikut terangkat oleh sentimen regional.
Analisis Pakar: Penguatan Rupiah Masih Rawan Koreksi
Meski rupiah menunjukkan penguatan hari ini, potensi volatilitas masih tinggi seiring menajamnya isu geopolitik dan ketidakpastian arah moneter global.
Menurut Chief Strategist Saxo, Charu Chanana, penguatan rupiah harus dibaca dalam konteks respons China terhadap tarif Trump.
Jika Beijing membalas dengan kebijakan serupa, kekacauan rantai pasok bisa memukul ekspor Asia, termasuk Indonesia.
Selain itu, tekanan dari dalam negeri seperti inflasi dan defisit neraca perdagangan masih menjadi pengganjal penguatan lanjutan.
Investor disarankan berhati-hati menghadapi volatilitas pekan ini karena semua mata tertuju pada rilis data nonfarm payrolls AS.
Kesimpulan Naratif: Momen Ini Bukan Kebetulan
Penguatan rupiah hari ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari momentum geopolitik dan harapan investor atas arah baru moneter global.
Namun apakah ini momen pembalikan tren atau hanya ilusi stabilitas sebelum badai berikutnya?
Pasar menunggu jawaban dari Washington dan Beijing sementara rupiah mencoba tetap berdiri tegak di tengah turbulensi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












