Geser Kebawah
BankKeuangan

Saham BBRI Terkoreksi, Investor Asing Jualan, JPMorgan Justru Borong

199
×

Saham BBRI Terkoreksi, Investor Asing Jualan, JPMorgan Justru Borong

Sebarkan artikel ini
Saham BBRI Terkoreksi, Investor Asing Jualan, JPMorgan Justru Borong
Saham BBRI turun 10,49% dalam sebulan, asing jual Rp3,05 triliun. Namun JPMorgan balik arah beli 117 juta saham, mencerminkan kepercayaan jangka panjang.

Tekanan Saham BBRI Kontras dengan Optimisme Investor Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali ditutup di zona merah pada Jumat, 4 Juli 2025, terkoreksi tipis 0,27% ke level Rp3.670.

Kinerja harian tersebut menambah daftar tekanan yang dialami saham BBRI sepanjang bulan terakhir, dengan penurunan kumulatif mencapai 10,49%.

Sponsor
Iklan

Distribusi besar-besaran turut terlihat dari sisi aksi jual asing, yang mencatatkan net sell mencapai Rp3,05 triliun sepanjang periode sebulan terakhir.

Maybank Sekuritas menjadi salah satu pelaku distribusi terbesar pada perdagangan Jumat, dengan penjualan bersih senilai Rp71,6 miliar.

Pergerakan negatif ini berlangsung di tengah kabar penurunan laba bank only BRI per Mei 2025 yang mencapai 11% yoy menjadi Rp3,6 triliun.

Laba BRI Menurun, Tekanan Kinerja Mulai Terasa

Selama Januari hingga Mei 2025, laba bersih bank only BRI tercatat sebesar Rp18,6 triliun.

Nilai tersebut turun 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di tengah tekanan suku bunga dan efisiensi biaya yang belum optimal.

Kondisi ini dinilai jauh dari ekspektasi awal analis yang memperkirakan penurunan laba konsolidasi BRI di 2025 hanya 3% yoy.

Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, Edi Chandren, bersama Everson Sugianto menyebut bahwa target konsensus masih mungkin direvisi turun.

Mereka menilai pemulihan kinerja BRI akan sangat ditentukan oleh paruh kedua tahun ini, terutama dari sisi penyaluran kredit dan efisiensi operasional.

Valuasi Saham Menarik di Tengah Tekanan

Meski berada dalam tekanan, valuasi saham BBRI disebut makin atraktif, terutama bagi investor jangka panjang.

Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada rasio price to book value (P/BV) trailing 12 months sebesar 1,94 kali.

Angka ini mendekati ambang bawah -2 standar deviasi atau 1,84 kali dari rata-rata historis lima tahun terakhir.

Dengan yield dividen minimum 7,5%, saham BBRI mulai menunjukkan daya tarik sebagai saham defensif di sektor keuangan.

Situasi ini berpotensi mendorong aksi bargain hunting lebih lanjut dari pelaku pasar institusi dalam waktu dekat.

JPMorgan Balik Arah, Borong Saham BRI di Tengah Koreksi

Fenomena paling menarik datang dari JPMorgan Chase & Co yang tercatat memborong 117,42 juta saham BBRI selama kuartal II 2025.

Berdasarkan data Bloomberg, aksi beli ini membuat total kepemilikan JPMorgan di BBRI mencapai 1,54 miliar saham.

Yang menarik, aksi beli masif ini terjadi setelah sebelumnya JPMorgan menjual lebih dari 500 juta saham BBRI pada kuartal I.

Perubahan strategi ini dinilai sebagai sinyal kuat meningkatnya kepercayaan institusi global terhadap fundamental jangka panjang BRI.

Aksi JPMorgan seolah memberikan kontras tajam terhadap gelombang aksi jual yang dilakukan oleh investor asing lainnya.

Pandangan Analis: Fondasi BRI Masih Tangguh

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, menilai aksi JPMorgan sebagai refleksi dari market trust terhadap arah bisnis BRI.

Menurutnya, tekanan harga saat ini tidak mencerminkan risiko fundamental jangka panjang yang sesungguhnya.

Reza menyebut bahwa transformasi digital, diversifikasi bisnis, serta kekuatan portofolio kredit BRI masih sangat kokoh.

Dukungan dari bisnis mikro dan UMKM membuat posisi BRI tetap strategis dalam lanskap perbankan nasional.

Faktor inilah yang menurutnya menjadi alasan investor global seperti JPMorgan kembali masuk ke saham ini.

Konsensus Analis Masih Positif, Target Harga Rp4.700-an

Meskipun kinerja kuartalan belum sepenuhnya sesuai harapan, analis masih memandang optimistis prospek jangka menengah saham BBRI.

Data Bloomberg menunjukkan 31 analis merekomendasikan beli terhadap saham BBRI, dan hanya 5 yang memilih hold.

Target harga rata-rata 12 bulan ke depan berada di level Rp4.703,61, mencerminkan potensi upside sekitar 28% dari harga saat ini.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa sentimen jangka panjang terhadap BRI masih cukup solid di mata pelaku pasar institusional.

Bagi investor ritel, level harga saat ini bisa menjadi area akumulasi dengan pendekatan investasi bertahap.

Sudut Pandang: Saatnya Melihat di Balik Angka

Jika ditinjau dari data laba bersih dan penurunan harga, BRI tampak menghadapi tekanan ganda baik dari sisi fundamental maupun teknikal.

Namun analisis lebih dalam memperlihatkan adanya diferensiasi strategi antara investor ritel yang panik dan institusi yang justru mengakumulasi.

Pembelian besar JPMorgan menjadi katalis penting bahwa pemodal besar tidak semata melihat kinerja sesaat, tapi arah jangka panjang.

Sinyal ini penting untuk pasar, sebab menunjukkan kepercayaan global masih tinggi terhadap fundamental BRI.

Di tengah koreksi harga dan potensi revisi laba, inilah momentum untuk melihat kualitas aset, strategi ekspansi, dan kekuatan model bisnis BRI secara menyeluruh.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.