Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Harga Minyak Dunia Naik, Ketegangan Global dan Tarif Trump Jadi Pemicu

47
×

Harga Minyak Dunia Naik, Ketegangan Global dan Tarif Trump Jadi Pemicu

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia Naik, Ketegangan Global dan Tarif Trump Jadi Pemicu
Harga minyak dunia naik dua hari beruntun ke level tertinggi dalam dua pekan, dipicu ketegangan Laut Merah, tarif tembaga AS, dan short covering teknikal.

Ketegangan Laut Merah & Kebijakan Trump Picu Lonjakan Harga Minyak

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan reli dua hari beruntun, ditutup pada level tertinggi dalam dua pekan terakhir pada Selasa (8/7/2025).

Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan geopolitik Laut Merah, perubahan arah kebijakan energi AS, dan aksi teknikal short covering yang mendorong sentimen bullish di pasar.

Sponsor
Iklan

Minyak Brent ditutup naik 57 sen atau 0,8% ke US$ 70,15 per barel, sementara WTI menguat 40 sen atau 0,6% ke US$ 68,33 per barel.

Keduanya mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 23 Juni, sekaligus memperkuat sinyal teknikal bahwa harga mulai membentuk tren naik jangka pendek.

Output AS Melandai, Ekspektasi Ketatnya Suplai Semakin Menguat

Pemicu utama lonjakan harga adalah revisi proyeksi output minyak AS oleh Energy Information Administration (EIA) yang memperkirakan produksi 2025 lebih rendah dari estimasi awal.

Pelemahan harga di paruh pertama tahun ini membuat banyak produsen shale menahan ekspansi pengeboran, menekan potensi pasokan minyak mentah jangka menengah.

Kondisi ini memperkuat narasi bahwa pasar masih belum dalam kondisi oversupply meskipun OPEC+ berencana menambah produksi 548 ribu barel per hari mulai Agustus 2025.

Serangan Drone di Laut Merah Guncang Jalur Logistik Energi

Konflik di Laut Merah kembali meningkat setelah kapal tanker Eternity C diserang oleh drone dan kapal cepat.

Insiden ini menewaskan tiga awak dan menandai serangan kedua hanya dalam satu hari terhadap kapal dagang internasional di kawasan tersebut.

Pasar bereaksi cepat, karena serangan ini memicu ketakutan baru terhadap gangguan pasokan minyak dan LNG yang biasanya melalui jalur tersebut.

Sejumlah perusahaan pelayaran memilih memutar rute lebih jauh untuk menghindari Laut Merah, yang menyebabkan biaya energi global melonjak akibat penambahan waktu dan bahan bakar.

Kebijakan Trump Dorong Harga Komoditas Tambang dan Energi

Dalam langkah mengejutkan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor 50% untuk tembaga, memicu lonjakan harga tembaga ke rekor tertinggi.

Tarif ini diyakini sebagai upaya agresif Trump untuk mendorong industrialisasi dalam negeri menjelang pemilu 2026.

Meskipun kebijakan ini secara langsung terkait tembaga, efek psikologisnya turut membebani pasar komoditas lain, termasuk minyak, karena mengerek ekspektasi biaya produksi global.

Short Covering dan Lonjakan Margin Penyulingan Tambah Bahan Bakar Rally

Dari sisi teknikal, menembusnya level psikologis US$ 70 pada Brent menjadi pemicu aksi short covering oleh trader spekulatif.

Pelepasan posisi jual ini memperkuat dorongan beli di tengah volume perdagangan yang meningkat.

Di sisi hilir, lonjakan harga bensin dan solar dalam beberapa pekan terakhir juga ikut mendongkrak margin penyulingan atau crack spread.

Diesel crack spread kini menyentuh level tertinggi sejak Maret 2024, sementara 3:2:1 crack spread mencapai puncak tertinggi dalam enam pekan.

Kondisi ini mengindikasikan permintaan bahan bakar olahan tetap kuat, memperbesar daya serap terhadap minyak mentah.

Pasar Tunggu Data Stok Minyak AS untuk Konfirmasi Sentimen

Pelaku pasar kini menantikan laporan stok minyak mentah mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan EIA yang masing-masing akan rilis Selasa malam dan Rabu waktu setempat.

Analis memperkirakan penurunan stok sekitar 2,1 juta barel, yang jika terealisasi akan menjadi penarikan keenam dalam tujuh pekan terakhir.

Sebagai perbandingan, pada pekan yang sama tahun lalu stok turun 3,4 juta barel, sementara rata-rata lima tahun justru menunjukkan kenaikan 1,9 juta barel.

Data ini akan menjadi penentu apakah momentum penguatan harga minyak akan berlanjut atau kembali terkoreksi secara teknikal.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan