Kapital Mengalir Deras ke BBRI, Tapi BBCA Justru Dibuang Asing?
JAKARTA, BursaNusantara.com – Investor asing kembali mencuri perhatian dengan strategi pembelian saham besar-besaran di tengah penguatan tajam IHSG pada Kamis (24/7/2025).
Transaksi beli bersih asing mencapai Rp176,7 miliar hari ini.
Dari angka tersebut, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi primadona dengan net buy jumbo senilai Rp304,6 miliar.
Ironisnya, aksi borong ini terjadi bersamaan dengan penjualan besar-besaran pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang justru dilepas asing hingga Rp437,49 miliar.
Perbedaan tajam arah transaksi pada dua bank raksasa ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang sedang dibaca asing dari dalam sektor perbankan Indonesia?
Jika dilihat lebih dalam, aksi beli pada BBRI tidak terjadi sendirian.
Asing juga aktif memborong saham PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp121,1 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp101,1 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp100,5 miliar.
Namun sentimen paling menarik justru datang dari saham yang ditinggalkan asing secara masif.
BBCA yang selama ini dikenal sebagai bank paling premium di Indonesia, dilepas begitu saja.
Padahal, secara fundamental BBCA terbilang solid.
Namun dalam strategi jangka pendek, sinyal arus dana global berbicara lain.
Apakah ini pertanda adanya rotasi portofolio besar-besaran?
Aksi Beli Asing Dorong IHSG Tembus 7.530, Sektor Finansial Meledak
IHSG ditutup melonjak 61,67 poin atau 0,83% ke level 7.530,9.
Ini menjadi salah satu lonjakan harian terbesar sepanjang bulan Juli 2025.
Pasar tampak euforik, dengan 302 saham naik, 308 saham turun, dan 192 saham stagnan.
Nilai transaksi harian menyentuh Rp16,25 triliun.
Yang paling menonjol adalah ledakan sektor keuangan.
Sektor ini naik tajam 3,1%, jauh mengungguli sektor lain.
Kinerja tersebut tak lepas dari agresivitas pembelian asing di saham-saham bank besar.
Selain sektor finansial, penguatan juga terjadi di sektor industri (0,39%), barang baku (0,35%), dan barang konsumsi primer (0,004%).
Namun, tak semua sektor ikut berpesta.
Tekanan masih menghantui sektor kesehatan (-0,7%), teknologi (-0,6%), energi (-0,5%), properti (-0,35%), dan konsumsi non primer (-0,34%).
Penguatan IHSG kali ini sangat selektif, lebih bersifat “heavyweight driven”, terutama oleh bank dan emiten likuid yang menjadi incaran asing.
Saham Top Cuan & Top Boncos: Siapa Tertawa dan Siapa Menangis?
Aksi selektif di pasar tak hanya mencerminkan arus modal, tapi juga menciptakan perbedaan nasib yang mencolok di antara saham-saham yang diperdagangkan.
Sejumlah saham sukses menembus batas auto reject atas (ARA), mencetak cuan maksimal dalam sehari.
Yang paling menonjol adalah PT Charnic Capital Tbk (NICK), yang melonjak 25% ke Rp1.375.
Tak kalah spektakuler, PT Argo Pantes Tbk (ARGO) melejit 24,84% ke Rp1.935.
Kemudian, PT Fortune Mate Indonesia Tbk (FMII) ikut terkerek 24,53% ke Rp396.
Sementara itu, PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) naik 19,97% ke Rp18.925.
Namun di sisi lain, investor yang memegang saham-saham boncos terpaksa menelan pil pahit.
Tercatat, saham PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) ambruk 15% ke Rp850.
Disusul PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) yang anjlok 14,8% ke Rp1.065.
Paling drastis, saham PT WIR Asia Tbk (WIRG) terjun 14,4% ke Rp107.
Pola ini menunjukkan bahwa lonjakan IHSG tidak berarti seluruh saham ikut naik.
Pasar sedang berada dalam fase rotasi cepat, di mana uang cerdas hanya masuk ke sektor dan emiten yang mereka anggap siap melesat dalam waktu singkat.
Rotasi Asing Kian Agresif: Ini Sinyal atau Spekulasi?
Di balik euforia IHSG yang naik dan saham-saham bank besar diborong asing, muncul pola menarik soal preferensi risiko investor global.
BBRI dipilih, BBCA ditinggalkan.
BMRI diborong, sektor energi justru dibiarkan lesu.
Sebagian pelaku pasar melihat ini sebagai sinyal awal dari rotasi investasi pasca semester I.
Ketika valuasi bank premium seperti BBCA sudah terlalu tinggi, investor mencari opsi dengan ruang upside lebih besar.
BRI, yang kuat di sektor mikro dan kredit UMKM, dianggap lebih resilien terhadap tekanan makro.
Tak hanya itu, data fundamental menunjukkan BRI memiliki momentum penyaluran KUR terbesar nasional, yang secara jangka panjang dapat meningkatkan kontribusi profitabilitas.
Sementara itu, BBCA lebih tergantung pada fee based income dan ekosistem digital yang kini mulai menghadapi tantangan pertumbuhan.
Di sisi lain, asing tampak menurunkan eksposur dari sektor yang selama ini dianggap defensif seperti kesehatan dan konsumsi non primer.
Apakah ini berarti mereka tengah mengalihkan fokus ke sektor siklikal yang lebih agresif?
Masih terlalu dini menyimpulkan, tapi sinyalnya cukup kentara.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







