Geser Kebawah
Internasional

Damai Thailand–Kamboja Masih Ilusi: De-Eskalasi Tak Mudah

112
×

Damai Thailand–Kamboja Masih Ilusi: De-Eskalasi Tak Mudah

Sebarkan artikel ini
Damai Thailand–Kamboja Masih Ilusi De-Eskalasi Tak Mudah
Gencatan senjata Thailand–Kamboja masih jauh dari harapan. Upaya mediasi Malaysia disambut simbolis, tapi konflik perbatasan dan nasionalisme memperumit penyelesaian.

Mediasi Malaysia Tak Cukup Hentikan Dentuman Senjata di Perbatasan

JAKARTA, BursaNusantara.com – Gema ledakan masih terdengar di perbatasan Thailand dan Kamboja, meski diplomasi regional mulai bergerak.

Upaya mediasi yang ditawarkan Malaysia sebagai Ketua ASEAN disambut Thailand, tapi bukan berarti langkah menuju perdamaian akan segera berhasil.

Sponsor
Iklan

Pakar hubungan internasional dari Universitas Malaya, Khoo Ying Hooi, menilai mediasi Malaysia kemungkinan hanya berdampak simbolis, bukan solusi jangka pendek.

Gencatan Senjata Masih Terlalu Jauh untuk Diraih

Pernyataan terbaru dari Kementerian Luar Negeri Thailand membuka peluang bagi keterlibatan Malaysia, namun retorika diplomatik belum cukup menghentikan tembakan di lapangan.

Thailand menyatakan siap menerima mediasi, dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim telah menyampaikan keprihatinan.

Namun, seperti ditegaskan Khoo, isu yang menyangkut harga diri dan kedaulatan jarang selesai di meja multilateral.

Isu seperti ini biasanya ditangani lewat jalur bilateral yang tertutup, jauh dari sorotan publik dan media.

Diplomasi Tenang Lebih Dibutuhkan Daripada Pernyataan Politik

Dalam ketegangan semacam ini, menurut Khoo, peran ASEAN sebaiknya dilakukan di balik layar melalui diplomasi senyap.

Alih-alih mengincar solusi instan, pendekatan de-eskalasi bertahap dianggap lebih masuk akal.

Penyebab konflik tidak hanya satu, melainkan kompleks: mulai dari sejarah kolonial yang belum selesai, hingga garis batas yang masih diperdebatkan.

Naiknya tensi nasionalisme di kedua negara juga memperkeruh suasana, sehingga tidak cukup hanya mengandalkan semangat regionalisme.

Eskalasi Militer Berlangsung di Tengah Isyarat Damai

Pada Jumat pagi, militer Thailand menyatakan bahwa bentrokan bersenjata dengan Kamboja kembali meningkat.

Pasukan Kamboja diduga menggunakan peluncur roket BM-21 Grad untuk menyerang target sipil di dalam wilayah Thailand.

Militer Thailand pun melancarkan serangan balasan dengan dalih mempertahankan wilayah.

Pertempuran ini menyebabkan korban jiwa dan luka di kedua pihak, termasuk warga sipil, memperburuk kondisi kemanusiaan di kawasan perbatasan.

Situasi ini menegaskan betapa diplomasi belum mampu menjangkau realitas di lapangan.

Upaya Damai Terganjal Masalah Historis dan Politik Dalam Negeri

Konflik Thailand–Kamboja bukan konflik yang lahir tiba-tiba, tapi bersumber dari akar masalah historis yang tak pernah terselesaikan.

Sengketa atas demarkasi wilayah dan peninggalan sejarah seperti kuil Preah Vihear terus membayangi relasi kedua negara.

Di sisi lain, tekanan politik dalam negeri membuat elite pemerintahan di Bangkok dan Phnom Penh tidak leluasa mengambil sikap kompromistis.

Ketegangan ini memicu kebangkitan wacana nasionalisme yang justru menekan ruang dialog rasional dan pragmatis.

Jalan Panjang Menuju Damai: Kemauan Politik Jadi Kunci

Khoo menyebut bahwa langkah Malaysia sudah tepat, tapi hasilnya sangat bergantung pada kemauan politik kedua belah pihak.

Tanpa komitmen jangka panjang dari elite politik Thailand dan Kamboja, setiap upaya mediasi hanya akan berakhir sebagai simbol semata.

Sementara diplomasi regional tetap penting, penyelesaian konflik perbatasan tetap membutuhkan proses bilateral yang mendalam, teknis, dan sering kali tidak populer secara politik.

Di tengah keriuhan konflik bersenjata, suara diplomasi terdengar lirih namun tetap dibutuhkan.