Tarif 0% Produk AS, Indonesia Makin Diuntungkan
Tarif 0% Produk AS, Indonesia Makin Diuntungkan
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah Indonesia resmi membebaskan tarif bea masuk untuk sejumlah komoditas pangan dan energi asal Amerika Serikat menjadi 0%, yang dinilai Menteri Keuangan Sri Mulyani akan berdampak positif bagi kestabilan harga domestik.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan dagang bilateral terbaru, yang juga menurunkan tarif produk ekspor Indonesia ke AS dari 32% menjadi 19%.
Besaran tarif baru ini menjadikan produk Indonesia lebih kompetitif dibandingkan produk sejenis dari negara ASEAN lainnya, kecuali Singapura.
Sri Mulyani menegaskan bahwa sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur akan menjadi penerima manfaat utama dari negosiasi tarif resiprokal ini.
Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan, Sri Mulyani menyebut kerja keras tim negosiator yang dipimpin Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai kunci pencapaian tersebut.
Impor Komoditas Energi & Pangan AS Bukan Ancaman
Pembebasan tarif 0% untuk barang impor dari AS diprioritaskan pada komoditas energi dan pangan strategis yang tidak atau minim diproduksi di dalam negeri.
Komoditas tersebut mencakup minyak mentah, LPG, gandum, kedelai, dan kapas yang sangat bergantung pada pasokan luar negeri.
Sri Mulyani menegaskan bahwa justru dengan tarif 0%, biaya bahan baku sektor energi dan pangan dapat ditekan secara signifikan.
Penurunan harga bahan baku itu diperkirakan berkontribusi terhadap stabilisasi harga kebutuhan pokok serta efisiensi biaya produksi industri.
Impor ini dinilai tidak akan mengganggu pertanian domestik karena tidak bersinggungan langsung dengan komoditas lokal yang dihasilkan petani Indonesia.
Airlangga: Tanpa Impor, Inflasi Volatile Food Justru Naik
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa kebijakan pembebasan tarif ini menyasar pada komoditas yang tidak diproduksi oleh sektor pertanian lokal.
Menurutnya, penghentian impor untuk produk seperti gandum dan kedelai justru berisiko menimbulkan kekosongan pasokan yang berdampak langsung pada lonjakan harga.
Inflasi volatile food dapat meningkat tajam jika pasokan bahan pangan berbasis impor tidak dijaga keberlanjutannya secara baik.
Airlangga menyebut roti dan mi instan sebagai contoh produk konsumsi masyarakat yang sensitif terhadap harga gandum global.
Stabilisasi harga bahan baku impor dinilai penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong ketahanan pangan nasional secara menyeluruh.
Industri Padat Karya Nasional Makin Kompetitif di Pasar AS
Tarif masuk sebesar 19% untuk produk Indonesia ke AS menjadi capaian signifikan yang diprediksi meningkatkan ekspor manufaktur nasional.
Sektor padat karya dinilai akan memperoleh efek ganda, baik dari sisi ekspor yang lebih kompetitif maupun biaya bahan baku impor yang lebih efisien.
Kebijakan ini juga membuka peluang besar bagi peningkatan utilisasi industri dalam negeri yang selama ini terpukul tekanan biaya produksi.
Pengurangan tarif ekspor oleh AS menandai pengakuan terhadap hubungan dagang Indonesia yang semakin strategis di mata Washington.
Sri Mulyani menilai keberhasilan negosiasi ini bukan hanya kemenangan diplomasi ekonomi, melainkan sinyal positif bagi pelaku industri nasional agar makin ekspansif di pasar global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











