Indonesia Siapkan Lompatan Energi, Rp10,2 Kuadriliun Dibutuhkan untuk Hilirisasi
JAKARTA, BursaNusantara.com – Komitmen pemerintah untuk merealisasikan target swasembada energi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kini dihadapkan pada kebutuhan investasi raksasa senilai Rp10,2 kuadriliun hingga tahun 2040.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memaparkan angka tersebut dalam forum Energi Mineral Festival 2025 yang berlangsung di Hutan Kota by Plataran, Jakarta.
Bahlil menyebutkan bahwa angka kebutuhan investasi itu merupakan kalkulasi dari seluruh kebutuhan sektor hilirisasi energi nasional, baik untuk proyek mineral, batu bara, hingga migas.
“Total investasi hilirisasi hingga 2040 diperkirakan mencapai US$618 miliar,” ujar Bahlil dalam pidatonya, Rabu (30/7/2025).
Forum bertema “Swasembada Energi: Masa Depan Indonesia” ini merupakan kolaborasi antara Kementerian ESDM dan B-Universe.
Hilirisasi sebagai Pilar Prioritas Pemerintahan Baru
Bahlil menegaskan bahwa agenda hilirisasi sudah menjadi topik diskusi khusus bersama Presiden Prabowo selama tiga hari terakhir, menandakan betapa strategisnya proyek ini bagi perekonomian nasional.
Hilirisasi bukan sekadar kebijakan teknis, tapi menjadi fondasi ekonomi baru yang mampu mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah dan mendorong ekspor produk bernilai tambah.
“Dalam tiga hari terakhir, kami berdiskusi langsung dengan Presiden untuk merumuskan formula terbaik optimalisasi hilirisasi,” kata Bahlil.
Menurutnya, pemerintah tak ingin hanya bergantung pada sektor nikel yang selama ini menjadi primadona, tetapi juga akan memperluas fokus hilirisasi ke sektor-sektor lain yang belum tergarap maksimal.
Langkah ini juga dianggap sebagai upaya strategis memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di tengah tantangan geopolitik dan transisi energi global.
Fokus Baru: Emas, Migas, dan Batu Bara Masuk Radar Hilirisasi
Bahlil menyatakan, proyek hilirisasi yang telah berjalan saat ini sebagian besar masih didominasi sektor nikel, namun ke depan pemerintah akan mendorong hilirisasi logam mulia seperti emas.
Contoh konkret yang ia sampaikan adalah pembangunan smelter Freeport di Gresik yang kini sudah selesai dan beroperasi dengan kapasitas ekspor aktif.
Proyek smelter ini disebut sebagai pabrik pengolahan emas single line terbesar di dunia, dengan investasi senilai US$3 miliar atau setara Rp49,5 triliun.
“Pabrik itu sekarang sudah ekspor, dan terus kita pacu untuk memperluas dampaknya ke industri lain,” tegas Bahlil.
Selain emas, sektor batu bara dan migas juga akan masuk prioritas hilirisasi yang bertujuan mengubah struktur ekspor energi nasional dari bahan mentah menjadi produk siap pakai.
Kebijakan ini juga ditargetkan mampu menciptakan rantai industri turunan yang mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi kawasan.
Visi Swasembada Energi: Bukan Retorika, Tapi Agenda Pembangunan
Visi swasembada energi yang diusung Prabowo bukanlah slogan politik, melainkan agenda jangka panjang pembangunan ekonomi berbasis nilai tambah dalam negeri.
Menurut Bahlil, hilirisasi energi bukan hanya soal investasi dan produksi, tetapi menyangkut penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan kawasan ekonomi, dan peningkatan penerimaan negara.
“Ini agenda jangka panjang yang akan menciptakan ribuan lapangan kerja untuk generasi muda, juga meningkatkan kesejahteraan daerah,” ujarnya.
Pendekatan hilirisasi yang terintegrasi ini diyakini akan menjadi katalis bagi pencapaian cita-cita Indonesia menjadi negara industri maju berbasis sumber daya alam berkelanjutan.
Pemerintah pun berkomitmen mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung serta memberikan insentif kepada investor yang berkomitmen terhadap hilirisasi.
Mendorong Investasi Global Masuk ke Rantai Hilirisasi Nasional
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah kini tengah mematangkan skema kerja sama strategis dengan berbagai mitra global guna menjaring investasi asing di sektor hilirisasi.
Menurutnya, Indonesia tak bisa bergerak sendiri dalam pembangunan hilirisasi besar-besaran ini, mengingat besarnya kebutuhan modal dan teknologi.
“Oleh karena itu, kita sedang menyusun peta jalan investasi agar investor global tertarik masuk dalam kerangka hilirisasi nasional,” ujarnya.
Pemerintah juga akan memberikan kepastian hukum dan kepemilikan saham yang proporsional dalam proyek-proyek strategis untuk meningkatkan daya tarik investasi.
Dengan keberpihakan politik yang konsisten dan arah kebijakan yang terukur, Indonesia berharap mampu merebut posisi strategis dalam rantai pasok energi global.
Momentum Menuju Negara Industri Energi
Langkah Indonesia menuju negara industri berbasis energi dipandang sebagai bagian dari reposisi ekonomi nasional dalam arsitektur ekonomi global baru.
Dengan menargetkan swasembada energi melalui hilirisasi, Indonesia ingin menciptakan model pembangunan yang mandiri dan tidak lagi bergantung pada fluktuasi harga komoditas global.
Hilirisasi juga menjadi elemen kunci dalam transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan, terutama jika digabungkan dengan pemanfaatan sumber daya terbarukan.
Strategi ini memungkinkan Indonesia menjaga kemandirian energi nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam untuk pembangunan ekonomi jangka panjang.
Jika implementasi berjalan konsisten dan inklusif, hilirisasi energi tak hanya menjadi tonggak sejarah industrialisasi, tapi juga simbol kedaulatan ekonomi Indonesia di era globalisasi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












