Geser Kebawah
BisnisEnergi

Green Power TSE Group, Inovasi Sawit Papua Hemat 1 Juta Liter Solar

188
×

Green Power TSE Group, Inovasi Sawit Papua Hemat 1 Juta Liter Solar

Sebarkan artikel ini
Green Power TSE Group, Inovasi Sawit Papua Hemat 1 Juta Liter Solar
TSE Group resmikan PLTBg & CBG pertama di Papua, olah limbah sawit jadi listrik & BBG, dorong industri hijau dan target emisi nol bersih nasional.

Transformasi Limbah Sawit Jadi Energi Bersih Pertama di Papua

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah desakan global untuk mempercepat transisi energi bersih, langkah PT Tunas Sawa Erma (TSE) Group menancapkan tonggak hijau di ujung timur Indonesia menjadi sorotan tajam.

Lewat anak usahanya, PT Berkat Cipta Abadi (BCA), TSE Group meresmikan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dan Compressed Biomethane Gas (CBG) pertama di Papua, tepatnya di Merauke, Papua Selatan.

Sponsor
Iklan

Proyek energi terbarukan ini bukan sekadar simbolik, melainkan terobosan konkret dalam mengolah limbah cair industri sawit menjadi sumber listrik dan bahan bakar alternatif yang rendah emisi.

Presiden Komisaris TSE Group, Robert Seung, menegaskan bahwa pembangunan PLTBg dan CBG ini adalah bagian dari roadmap perusahaan menuju target global net zero emissions yang semakin mengikat industri kelapa sawit dunia.

Sawit Tak Lagi Jadi Masalah, Tapi Solusi Energi

Gas metana yang dihasilkan dari 1.000 m³ limbah cair kelapa sawit per hari, kini dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik sebesar 2 megawatt (MW), cukup untuk menyuplai kebutuhan Kernel Crushing Plant (KCP) berkapasitas 150 ton/hari.

Sebagian gas yang tersisa dikompresi menjadi CBG, yang dapat menggantikan kebutuhan solar hingga 1 juta liter per tahun.

Dampak ekologis dari langkah ini cukup mencengangkan.

TSE Group mencatat potensi pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 60.708 ton CO₂ per tahun, menjadikan fasilitas ini bukan hanya efisien, tapi juga berdampak positif secara nyata terhadap lingkungan.

Lebih dari sekadar efisiensi energi, inovasi ini menegaskan bahwa sektor sawit, yang kerap dituding sebagai penyumbang kerusakan lingkungan, kini bisa jadi pionir transisi energi bersih.

Papua Selatan Jadi Episentrum Hijau Baru

Seremoni peresmian yang digelar Jumat (1/8/2025) itu tidak hanya dihadiri manajemen TSE Group, tetapi juga Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo dan Bupati Merauke Yoseph Gebze.

Gubernur Apolo menegaskan bahwa fasilitas ini merupakan langkah strategis yang sepenuhnya sejalan dengan program nasional swasembada energi dan ketahanan pangan.

Dengan potensi sumber daya hayati yang luas dan akses langsung ke bahan baku limbah sawit, Papua Selatan berpeluang besar menjadi model pengembangan energi hijau terpadu di kawasan timur Indonesia.

Langkah awal ini menjadi preseden kuat bagi replikasi di daerah-daerah lain, tak hanya di Papua, tetapi juga di wilayah perkebunan kelapa sawit seluruh Indonesia.

Lebih dari Listrik: Ekspansi Hijau TSE Tak Berhenti di Sini

TSE Group tidak sekadar berhenti di pembangunan satu fasilitas PLTBg.

Perusahaan telah mengumumkan rencana untuk mereplikasi model serupa di lima unit usaha lain yang tersebar di wilayah operasionalnya.

Dengan pendekatan yang mengintegrasikan pengelolaan limbah, produksi energi, dan penghematan biaya operasional, ekspansi ini berpeluang melahirkan sistem ekonomi sirkular di sektor agribisnis kelapa sawit.

Tak hanya itu, transformasi hijau TSE juga menyentuh sektor transportasi dan pertanian.

Penerapan kendaraan listrik dan pemanfaatan panel surya mulai diujicobakan di lapangan, sementara penggunaan pupuk ramah lingkungan diperluas ke seluruh area kebun.

Artinya, TSE bukan hanya mengolah limbah menjadi energi, tapi secara simultan juga menekan ketergantungan pada energi fosil dan bahan kimia berbahaya.

Industri Sawit Menuju Net Zero, Bukan Lagi Sekadar Narasi

Apa yang dilakukan TSE Group memberi bukti bahwa industri sawit tak lagi bisa digeneralisasi sebagai musuh lingkungan.

Dengan komitmen jangka panjang, investasi pada teknologi bersih, dan kolaborasi lintas pihak, industri ini dapat menciptakan model bisnis yang menguntungkan sekaligus berkelanjutan.

Robert Seung menekankan bahwa visi jangka panjang TSE tidak hanya soal profit, tapi bagaimana menjadikan keberlanjutan sebagai fondasi utama industri.

“Melalui fasilitas ini, kami tidak hanya mengelola limbah industri sawit, tapi mengubahnya menjadi solusi energi nyata,” ujar Robert dalam pidatonya.

Statemen ini bukan sekadar retorika, melainkan disokong oleh data, dampak, dan rencana ekspansi konkret.

Langkah TSE menjawab skeptisisme publik terhadap industri sawit yang selama ini dibayang-bayangi isu deforestasi, konflik lahan, hingga pencemaran air.

Jalan Panjang Tapi Penuh Harapan

Masih terlalu dini menyimpulkan bahwa inisiatif TSE akan mengubah wajah industri sawit nasional dalam semalam.

Namun, sebagai proyek pionir yang dibangun di wilayah timur Indonesia, keberadaan PLTBg dan CBG Merauke menjadi pertaruhan besar bahwa investasi hijau bisa dimulai dari pinggiran.

Jika berhasil direplikasi dengan konsistensi, langkah ini bisa mengubah peta industri kelapa sawit nasional menuju rantai pasok yang rendah karbon dan tinggi nilai tambah.

Dukungan pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, akan menjadi kunci keberlanjutan program ini.

Dan Merauke, yang dulu hanya dikenal sebagai lumbung pangan, kini punya peluang baru sebagai lumbung energi bersih Indonesia Timur.