Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Harga Beras Tembus Rekor, Inflasi Juli Terseret Naik Tajam

98
×

Harga Beras Tembus Rekor, Inflasi Juli Terseret Naik Tajam

Sebarkan artikel ini
Harga Beras Tembus Rekor, Inflasi Juli Terseret Naik Tajam
Inflasi Juli 2025 melonjak ke 2,37% yoy, dipicu rekor harga beras dan komoditas pangan lain seperti tomat, cabai, serta bawang merah. Pemerintah diminta bertindak cepat.

Gejolak Harga Pangan Seret Inflasi ke Puncak Tertinggi 2025

JAKARTA, BursaNusantara.com – Laju inflasi nasional kembali menanjak ke level mengkhawatirkan, menyentuh 2,37% secara tahunan pada Juli 2025, tertinggi sepanjang tahun berjalan dan menandai momentum baru yang menunjukkan bahwa gejolak harga pangan belum mereda.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas beras menempati posisi terdepan dalam menyumbang kenaikan inflasi, baik dalam skala bulanan maupun tahunan.

Sponsor
Iklan

Lonjakan ini makin menguatkan kekhawatiran bahwa fondasi stabilitas harga pangan Indonesia masih rapuh.

Beras, sebagai makanan pokok mayoritas penduduk, mencerminkan tekanan struktural yang tidak lagi bisa diabaikan.

Bukan hanya musim dan cuaca, tapi rantai distribusi yang tak efisien menjadi benang kusut utama.

Bersamaan dengan beras, kenaikan harga tomat, cabai rawit, dan bawang merah turut menambah tekanan inflasi, membuat daya beli masyarakat terus tergerus perlahan namun pasti.

Di luar pangan segar, perhiasan emas juga menjadi kontributor mengejutkan terhadap inflasi, mencerminkan keresahan masyarakat atas nilai tukar dan potensi spekulasi aset aman (safe haven).

Harga Beras Naik di Semua Segmen, Pecah Rekor Sepanjang Tahun

Kenaikan harga beras terjadi serempak di semua kategori, dari premium hingga submedium.

Rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan melonjak 1,93% ke Rp13.524/kg, tertinggi sepanjang tahun.

Sementara beras kualitas medium naik 3,07% menjadi Rp13.264/kg.

Kenaikan lebih tajam terjadi pada beras submedium, yang naik 3,9% ke Rp13.169/kg.

Hanya beras pecah yang tercatat turun 2,68% menjadi Rp12.976/kg, tetapi tetap lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Jika ditarik ke belakang, harga beras di Juli 2025 mengalami kenaikan signifikan dibandingkan Juli 2024: premium naik 2,14%, medium 5,96%, submedium 4,84%, dan pecah 5,1%.

Khusus harga tertinggi, semua kualitas beras kecuali pecah mencatatkan rekor baru pada Juli 2025.

Untuk beras pecah, rekor tertinggi justru terjadi sebulan sebelumnya, Juni 2025, di level Rp13.333/kg.

Sebaliknya, harga terendah terjadi pada November 2024 untuk premium, medium dan submedium, serta Agustus 2024 untuk beras pecah.

Kontributor Inflasi Bergeser, Emas dan Cabai Tunjukkan Anomali

Jika beras menyumbang inflasi 0,15% secara tahunan, maka emas justru menyumbang lebih besar yakni 0,45%.

Angka ini menandai pergeseran pola konsumsi dan ketidakstabilan ekonomi mikro di kalangan rumah tangga menengah atas yang mengalihkan likuiditas ke aset logam mulia.

Tomat dan bawang merah menyusul sebagai penyumbang inflasi dengan kontribusi masing-masing 0,16% dan 0,18%.

Sementara itu, komoditas cabai rawit memberikan andil 0,04% dalam inflasi bulanan, tetapi cabai merah justru memberikan efek deflasi sebesar 0,06%.

Data ini menunjukkan dinamika harga pangan sangat fluktuatif dan sulit dikendalikan hanya lewat kebijakan sesaat.

Inflasi Inti Masih Terkendali, Tapi Daya Beli Tergerus Diam-Diam

Komponen inflasi inti pada Juli 2025 tercatat sebesar 2,32% yoy, masih dalam batas toleransi Bank Indonesia yang mematok inflasi tahun ini sebesar 2,5% ± 1%.

Namun komponen bahan makanan mencatatkan inflasi tinggi 3,74%, dengan kontribusi nyata terhadap inflasi umum sebesar 0,76%.

Inflasi harga diatur pemerintah juga naik 1,32% secara tahunan, meski masih menyumbang lebih kecil yakni 0,26%.

Adapun energi relatif stabil dengan andil hanya 0,01%, menandakan ketegangan utama memang bersumber dari sektor pangan.

Jika dilihat secara year to date, inflasi Indonesia hingga Juli 2025 berada di angka 1,69%, dengan inflasi inti 1,38%.

Namun angka-angka ini tidak mampu menutupi kekhawatiran nyata akan pelambatan konsumsi masyarakat akibat harga kebutuhan pokok yang melambung cepat.

Operasi Pasar Tak Cukup, Perlu Reformasi Logistik Pangan

Para ekonom memperingatkan, solusi jangka pendek seperti operasi pasar harus dibarengi langkah struktural jangka panjang berupa reformasi distribusi dan logistik pangan nasional.

Ketersediaan stok bukan satu-satunya masalah.

Ketidakefisienan rantai pasok dari produsen ke konsumen menjadikan harga pangan rentan spekulasi dan fluktuasi ekstrem.

Kementerian Perdagangan dan Badan Pangan Nasional didesak segera memperkuat integrasi data distribusi bahan pangan, termasuk digitalisasi pasar tradisional sebagai pengendali harga.

Pemerintah juga diimbau melibatkan BUMN logistik secara aktif untuk mengamankan distribusi dari wilayah sentra produksi ke kota-kota besar.

Inflasi Paling Berat Justru Terjadi di Komoditas Harian Rakyat

Deputi BPS Pudji Ismartini mengungkap, kelompok pengeluaran dengan inflasi tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9% yoy.

Namun yang menyumbang andil terbesar tetap kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,08%.

Komoditas dominan penyumbang inflasi tahunan meliputi bawang merah (0,18%), tomat (0,16%), beras (0,15%), ikan segar (0,13%), kopi bubuk dan minyak goreng (0,10%).

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru memberi efek deflasi, seperti cabai merah (-0,06%), daging ayam ras (-0,04%), dan kentang (-0,03%).

Ironisnya, komoditas-komoditas penyumbang deflasi ini justru bukan konsumsi dominan harian, sehingga efek meredam inflasi tidak cukup signifikan terhadap realita dapur masyarakat.

Puncaknya, ketika perhiasan emas masuk ke dalam daftar penyumbang inflasi terbesar, maka jelas bahwa tekanan ekonomi kini bukan hanya menyasar kelas bawah, tetapi juga menandai kepanikan ekonomi kelas menengah.