Rupiah Tertekan, Dolar AS Tak Terbendung
JAKARTA, BursaNusantara.com – Rupiah kembali digempur penguatan dolar AS hingga menyentuh level Rp 16.513 per dolar di akhir perdagangan Jumat (1/8/2025), memperpanjang tekanan mingguan sebesar 1,17%.
Dari perspektif pelaku pasar, pelemahan ini bukan sekadar gejala musiman, melainkan sinyal konkret bahwa ketahanan rupiah tengah diuji oleh dorongan eksternal yang semakin agresif.
Posisi rupiah yang terus melemah mencerminkan kondisi pasar yang bereaksi terhadap serangkaian data ekonomi AS yang dirilis lebih kuat dari ekspektasi pelaku pasar.
The Fed tetap mempertahankan sikap suku bunga tinggi yang hawkish, memperkuat permintaan dolar secara global di tengah tensi dagang Amerika-China yang kembali memanas.
Pengenaan tarif dan tenggat waktu perundingan memberi keuntungan jangka pendek bagi ekonomi AS, namun sekaligus menciptakan tekanan merata di pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Di saat yang sama, data aktivitas manufaktur China yang mengalami kontraksi turut menambah sentimen negatif terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.
Pasar Uji Batas: Faktor Eksternal Dominan Tekan Rupiah
Proyeksi pergerakan rupiah dalam pekan depan masih belum menjanjikan pemulihan signifikan.
Analis memperkirakan kisaran pergerakan rupiah akan berada antara Rp 16.350 hingga Rp 16.700, seiring pelaku pasar menanti perkembangan lanjutan dari negosiasi dagang global.
Faktor eksternal seperti kekuatan data ekonomi AS dan hasil pertemuan The Fed jadi pemicu utama bagi pergerakan nilai tukar di kawasan Asia Pasifik.
Kondisi ini menunjukkan rupiah tidak lagi hanya dikendalikan oleh kekuatan fundamental domestik, melainkan sangat rentan terhadap tekanan dari luar negeri.
Dominasi dolar terhadap hampir seluruh mata uang regional mengindikasikan bahwa tren defensif akan terus mendominasi pasar valuta asing.
Perkembangan tarif dagang global yang belum menemui titik keseimbangan menciptakan risiko lanjutan atas nilai tukar emerging market.
Data Ekonomi Domestik: Harapan atau Ilusi?
Dari sisi domestik, beberapa data yang dirilis masih belum cukup kuat menahan pelemahan rupiah.
Kendati Indonesia mencatatkan surplus perdagangan, namun dampaknya masih minim terhadap penguatan mata uang nasional.
Laju pertumbuhan PDB Indonesia yang akan diumumkan awal pekan depan menjadi salah satu harapan terakhir untuk menahan tekanan lanjutan terhadap rupiah.
Begitu pula dengan data cadangan devisa dan penjualan ritel yang bakal menjadi referensi pelaku pasar dalam memetakan arah kebijakan fiskal dan moneter pemerintah.
Namun jika data tersebut tidak memberi kejutan positif, bukan tidak mungkin pelemahan rupiah terus berlanjut ke pekan-pekan berikutnya.
Tingkat kepercayaan pasar terhadap kestabilan makroekonomi dalam negeri menjadi taruhan besar di tengah gempuran isu global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












