Impor China Bikin Ekspor Batubara RI Terkapar
JAKARTA, BursaNusantara.com – Penurunan nilai ekspor batubara Indonesia pada semester I-2025 bukan sekadar dampak dari fluktuasi harga komoditas global, melainkan cerminan dari realitas pahit: dominasi pasar luar negeri yang tak lagi bisa dikendalikan.
Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor batubara Indonesia turun drastis 21,09% secara tahunan, menjadi US$ 11,97 miliar.
Tak hanya nilai, volume ekspor juga merosot 6,33% YoY menjadi 184,19 juta ton, dengan harga rata-rata per ton jatuh ke US$ 64,99, turun hampir 16% dari tahun lalu.
Pasar Global Dikuasai Negara Produsen Raksasa
Oversupply batubara global menjadi akar utama pelemahan ekspor RI.
Menurut Direktur Eksekutif IMA, Hendra Sinadia, ledakan produksi dari China, India, dan Mongolia menyebabkan suplai dunia melimpah sejak 2024 dan diprediksi terus berlangsung hingga 2026.
Tiongkok dan India bahkan mencetak rekor produksi batubara pada 2024, menjadikan mereka bukan hanya konsumen besar, tapi juga pesaing utama dalam pasar ekspor.
Dominasi produksi dalam negeri oleh negara importir utama tersebut mempersulit Indonesia untuk menjaga pangsa pasar ekspornya.
Alih-alih membuka peluang baru, pasar yang ada justru semakin menyusut karena sifat proteksionis yang makin terasa.
Kondisi ini membuat pemerintah dan pelaku usaha tambang harus berhadapan dengan realita baru yang lebih kompetitif, dan jauh dari jangkauan intervensi diplomatik dagang biasa.
Kalori Rendah, Harga Jatuh, Pasar Menyempit
Komposisi ekspor batubara RI justru memperburuk posisi daya saingnya.
Data dari APBI menyebutkan, 60% dari batubara Indonesia yang diekspor ke China adalah batubara kalori rendah, berkisar 3.000–4.200 GAR.
Namun tren permintaan mulai bergeser.
Menurut Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy, pembeli dari China kini lebih memilih batubara kalori tinggi yang kini relatif lebih murah karena koreksi harga global.
Dengan kata lain, keunggulan harga batubara rendah RI semakin pudar, sedangkan selera pasar naik kelas menuju kualitas yang tak lagi banyak diproduksi oleh Indonesia.
Situasi ini menjadikan batubara kalori rendah kehilangan daya tawar, terutama jika pasar utama seperti China tidak mengubah arah kebijakannya hingga akhir tahun.
Target Ekspor APBI Terancam Jauh dari Realisasi
Proyeksi ekspor Indonesia tahun ini penuh risiko ketidakpastian.
APBI menargetkan total ekspor batubara sebesar 500 juta ton sepanjang 2025, turun dari 555 juta ton pada 2024.
Namun hingga Juni 2025, realisasi baru menyentuh 238,64 juta ton atau 47,7% dari target.
Jika tren penurunan ini berlanjut tanpa percepatan di semester II, target tersebut terancam tidak tercapai.
Pasar alternatif yang diharapkan bisa menyerap kelebihan suplai tidak kunjung terbentuk, karena sebagian besar negara Asia Timur dan Asia Tenggara juga menaikkan kapasitas produksi batubaranya sendiri.
Dengan tekanan seperti ini, pelaku industri tambang batubara nasional harus menghadapi kenyataan bahwa “pasar pembeli” kini benar-benar berada di posisi dominan, dan Indonesia tak punya banyak ruang untuk menentukan arah permainan.
Strategi Ekspor Belum Relevan di Tengah Volatilitas Global
Pergeseran peta permintaan dunia menuntut reposisi strategi nasional.
Selama bertahun-tahun, ketergantungan Indonesia pada pasar China dan India memang terbukti efektif mendorong ekspor.
Namun hari ini, strategi tersebut menjadi bumerang.
Kondisi oversupply dan preferensi batubara kalori tinggi membuat taktik lama menjadi usang.
Penurunan harga yang semula dianggap berkah bagi eksportir justru dimanfaatkan oleh pembeli untuk memburu kualitas lebih tinggi.
Sementara produsen Indonesia sebagian besar masih berkutat di kelas kalori rendah yang mulai ditinggalkan.
Dengan tak adanya sinyal pemulihan pasar dalam waktu dekat, tantangan ekspor Indonesia bukan hanya pada volume atau nilai, tapi lebih pada penyesuaian fundamental yang belum disiapkan secara struktural.
Sektor batubara Indonesia kini berada di persimpangan: terus bertahan dengan keunggulan lama yang memudar, atau beradaptasi cepat pada selera baru yang ditentukan oleh pasar global yang lebih selektif.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











