Kinerja LQ45 Semester I-2025 Tunjukkan Kontras Ekstrem
JAKARTA, BursaNusantara.com – Mayoritas emiten indeks LQ45 telah merilis laporan keuangan semester I-2025, menciptakan lanskap kontras antara yang melesat dan yang terjun bebas.
Sektor petrokimia jadi sorotan utama setelah BRPT milik konglomerat Prajogo Pangestu membukukan lonjakan pendapatan dan laba bersih yang luar biasa.
Namun di sisi lain, AMMN dari sektor tambang alami penurunan tajam, menandai salah satu koreksi paling brutal di LQ45 tahun ini.
Investor institusi kini melakukan reposisi besar-besaran, seiring perbedaan performa ekstrem di antara saham-saham unggulan tersebut.
Hal ini sekaligus menegaskan bahwa kinerja EPS bukan hanya refleksi manajemen, tetapi juga dampak dari struktur pasar dan volatilitas sektor.
Kinerja Korporasi Menjadi Pemetaan Ulang Sektor Unggulan
Data Bloomberg mencatat 32 dari 45 emiten LQ45 telah merilis laporan semester I-2025, dengan hasil yang beragam dan tajam secara kontras.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) tampil mencolok dengan lonjakan pendapatan 178,52% YoY menjadi US$ 3,22 miliar.
Kinerja impresif ini mendorong laba bersih BRPT meroket hingga 1.464,89% YoY ke level US$ 539,82 juta, memantik euforia pasar energi hijau.
Namun performa positif ini tak menular ke AMMN yang justru membukukan penurunan pendapatan 88,21% menjadi US$ 182,59 juta.
Bottom line AMMN bahkan berbalik menjadi rugi bersih US$ 148,72 juta dari laba US$ 475,25 juta pada periode sama tahun lalu.
Investor melihat ini sebagai sinyal kuat pergeseran preferensi sektoral, terutama atas sentimen harga komoditas dan biaya ekspansi yang menekan.
Bank-Bank Besar Mulai Tertekan Margin, Tapi BBCA Tetap Unggul
VP Marketing & Strategy Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menyebut hanya 43% emiten LQ45 yang berhasil melampaui estimasi EPS.
Ia menyoroti bank-bank besar seperti BBRI dan BBNI yang meleset akibat tekanan Net Interest Margin (NIM) di tengah pemangkasan suku bunga acuan BI.
Namun PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap mencetak performa unggul karena komposisi CASA yang kuat dan manajemen efisiensi operasional.
Pergeseran struktur pembiayaan, likuiditas pasar, dan tekanan spread bunga menambah kompleksitas penilaian fundamental sektor perbankan.
Hal ini memperkuat bahwa bahkan sektor perbankan tidak lagi homogen dalam performa, meski berada dalam kerangka kebijakan moneter yang sama.
Saham Komoditas & Konsumer Berbenturan di Lini EPS
Penurunan harga batu bara dan minyak mentah menyeret performa PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Medco Energi Tbk (MEDC) keluar dari proyeksi EPS.
Kinerja kedua emiten ini terpukul langsung oleh pelemahan harga acuan dan penundaan kontrak ekspor komoditas global.
Sebaliknya, sektor konsumer mencatat anomali positif, terutama dari ICBP, INDF, AMRT, dan UNVR yang berhasil melampaui EPS estimasi pasar.
Momentum libur panjang dan kenaikan konsumsi kebutuhan pokok memberikan angin segar, ditambah efisiensi operasional menjaga margin tetap sehat.
Investor institusi mulai mengalihkan sebagian alokasi dari sektor komoditas ke consumer staples sebagai lindung nilai fluktuasi global.
Tekanan Capex & Tarif Telekom Menyeret TLKM
Sektor telekomunikasi juga tidak luput dari koreksi fundamental, terutama akibat kompetisi tarif data dan tekanan belanja modal infrastruktur.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyoroti performa mengecewakan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
TLKM mencatat penurunan laba bersih 6,68% YoY menjadi Rp 10,97 triliun, diikuti penurunan pendapatan 3,04% menjadi Rp 73 triliun.
Efisiensi operasional dan transformasi digital TLKM belum mampu mengimbangi beban investasi jaringan dan stagnasi pertumbuhan ARPU.
Investor kini menaruh perhatian pada strategi monetisasi aset digital TLKM sebagai game changer dalam semester kedua.
Investor Mulai Menyeleksi Saham Unggulan LQ45 Lebih Kritis
Sementara BBCA, INDF, ICBP, AMRT dan ARTO masih sesuai proyeksi, mayoritas emiten lainnya berada dalam tekanan besar akibat faktor eksternal.
Hal ini menciptakan fase seleksi alam dalam portofolio LQ45, di mana investor mulai hanya mempertahankan saham dengan manajemen agresif dan solid.
Kinerja semester I-2025 mengingatkan kembali bahwa performa jangka pendek sangat dipengaruhi oleh faktor sektor, bukan hanya fundamental tunggal.
Pergeseran rotasi sektoral di antara institusi menunjukkan bahwa reli IHSG ke depan sangat bergantung pada selektivitas terhadap saham-saham LQ45.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







