COIN Lolos dari FCA, CDIA Masih Tertahan, Pasar Membelalak
JAKARTA, BursaNusantara.com – Bursa Efek Indonesia resmi melepaskan saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) dari papan pengawasan Full Call Auction (FCA), hanya 10 hari setelah emiten berbasis ekosistem kripto itu masuk daftar pantauan pada 24 Juli 2025.
Langkah pelepasan ini memicu gelombang interpretasi baru di pasar, karena COIN langsung menyentuh batas atas auto reject (ARA) pada hari pelepasannya, Jumat (1/8), di level Rp800, mencetak kenaikan 9,59% sekaligus menutup pekan dengan sinyal pemulihan teknikal.
Keputusan BEI ini bukan hanya soal satu saham, tapi memberi efek domino pada sentimen investor terhadap saham IPO yang tergolong “tidak lazim” dalam kenaikan pasca pencatatan.
Terutama CDIA, yang kini jadi kandidat berikutnya dalam radar spekulasi publik.
CDIA Masih dalam Karantina, Tapi Diakumulasi Dalam Senyap
CDIA, emiten baru dari grup Chandra Asri, belum keluar dari papan FCA meski kondisi teknikalnya kian stabil sejak akhir Juli.
Saham CDIA sempat menyentuh ARA ke Rp1.630, mencatatkan penguatan 9,76% dan didominasi pembelian broker lokal, khususnya Semesta Indovest Sekuritas yang mengguyur Rp47,8 miliar hanya dalam sehari.
Di sisi lain, investor asing justru melakukan aksi jual bersih Rp6,49 miliar menciptakan polarisasi posisi yang tajam antara institusi domestik dan global.
Pergerakan CDIA juga menarik karena aktif diperdagangkan di pasar negosiasi dengan rentang harga lebar antara Rp910–Rp2.000, sinyal kuat bahwa harga wajar saham ini masih dalam perebutan.
Namun yang paling mencolok bukan pada harga, melainkan pola distribusi, di mana pelaku pasar terindikasi mulai bermain pada dua medan sekaligus: pasar reguler untuk membentuk persepsi, dan pasar negosiasi untuk manuver akumulasi real.
Bursa Bungkam, Tapi Pasar Tak Pernah Tidur
Meski pergerakan harga CDIA mulai menyerupai pola yang membawa COIN keluar dari FCA, pihak Bursa belum memberikan sinyal apapun hingga Senin pagi.
Ketidakhadiran pernyataan resmi justru memperlebar ruang spekulasi dan ini menciptakan euforia baru di kalangan investor ritel yang mulai membaca pola pelepasan COIN sebagai preseden untuk CDIA.
Pasar menilai, jika COIN dengan struktur bisnis minim fundamental bisa bebas dari pengawasan hanya dalam 10 hari, maka CDIA yang notabene bagian dari grup industri raksasa petrokimia harusnya bisa lebih dulu keluar.
Namun justru sebaliknya, CDIA masih “dikarantina”, dan ini menimbulkan tafsir liar: apakah CDIA sengaja ditahan karena faktor internal belum tuntas, atau justru ada momen yang tengah disiapkan?
COIN dan CDIA: Duel Dua Arah di Bursa IPO
Momen IPO COIN dan CDIA pada 9 Juli 2025 sebenarnya menjadi sorotan sejak awal, karena keduanya mencerminkan dua arus besar yang kini menguasai Bursa: spekulasi digital dan akumulasi industri.
COIN di-backup oleh sentimen kripto dan popularitas teknologi blockchain yang tengah merangkak naik di tengah dorongan digitalisasi aset global.
CDIA, sebaliknya, tampil sebagai entitas riil dengan sokongan jaringan bisnis Chandra Asri meskipun dari sisi valuasi dan prospektus, publik belum melihat landasan kuat untuk kenaikan harga secepat itu.
Dua saham IPO ini menjadi semacam studi kasus ekstrem: COIN naik 700% dalam waktu 3 minggu, CDIA hampir menyamai tapi dengan arah dan karakteristik investor yang sepenuhnya berbeda.
COIN adalah euforia, CDIA adalah kalkulasi.
Siapa Aktor Nyata di Balik Keduanya?
Dari pola transaksi yang terbaca, COIN didorong oleh kekuatan spekulatif berbasis komunitas dan pemain ritel yang menguasai ruang media sosial dan kanal influencer.
Sementara CDIA justru digerakkan oleh institusi lokal yang bermain diam-diam, dengan daya beli jauh lebih konsisten dan pola akumulasi rapi.
Jika COIN adalah parade publik, CDIA adalah permainan senyap dan ini membuat narasi CDIA jauh lebih strategis dalam jangka menengah.
Kondisi inilah yang kini membuat sebagian analis meyakini CDIA justru lebih potensial sebagai saham jangka panjang, apabila mampu keluar dari pengawasan FCA dalam minggu ini.
Pasar Butuh Kepastian, Bursa Harus Bicara
Ketika dua saham IPO melonjak tajam dan satu di antaranya lolos dari pengawasan, sementara yang lain tertahan tanpa kejelasan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: apa sebenarnya indikator evaluasi Bursa?
Transparansi menjadi isu utama.
Pasar ritel saat ini tidak hanya butuh perlindungan, tapi juga kepastian dalam membaca arah pengawasan dan keputusan Bursa agar spekulasi tak membajak logika pasar.
Jika tidak, COIN dan CDIA hanya akan menjadi alat narasi sementara bagi segelintir pihak, dan bukan sebagai bagian dari dinamika pasar modal yang sehat dan berkelanjutan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












