Geser Kebawah
BisnisEnergi

Batu Bara Bukan Musuh: Senjata Strategis Transisi Energi RI

126
×

Batu Bara Bukan Musuh: Senjata Strategis Transisi Energi RI

Sebarkan artikel ini
Batu Bara Bukan Musuh Senjata Strategis Transisi Energi RI
Meski dicap kotor, batu bara justru jadi penopang transisi energi Indonesia lewat hilirisasi dan teknologi bersih. Strategi ini jaga bauran energi nasional tetap stabil.

Batu Bara, Pilar Energi Transisi yang Tak Terhindarkan

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah gempuran opini global yang memojokkan batu bara sebagai sumber energi usang dan pencemar utama bumi, Indonesia justru mengambil langkah berani: menjadikan batu bara sebagai tulang punggung dalam masa transisi energi nasional.

Alih-alih memusuhi batu bara seperti yang digaungkan forum-forum internasional, pemerintah Indonesia mengambil pendekatan realistis dan berbasis kepentingan nasional: mempertahankan batu bara, namun dalam bentuk baru yang lebih bersih, efisien, dan bernilai tambah tinggi.

Sponsor
Iklan

Hilirisasi menjadi senjata utama Indonesia mengubah narasi global.

Produksi Naik, Strategi Bergeser

Dalam tiga tahun terakhir, produksi batu bara nasional justru meningkat. Tahun 2023, total produksi mencapai 775 juta ton dengan ekspor sebesar 562 juta ton. Tahun 2024 melonjak menjadi 836 juta ton, meski ekspor turun tipis menjadi 555 juta ton. Kuartal I 2025, Indonesia telah memproduksi 171 juta ton, dan mengekspor 123 juta ton.

Peningkatan produksi ini bukan sekadar mengejar volume ekspor, tapi bagian dari agenda besar: menata ulang struktur industri batu bara nasional dari komoditas mentah menjadi produk bernilai tinggi.

Salah satu langkah krusial adalah proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) yang dapat menggantikan LPG impor.

Langkah ini sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi impor, menjaga defisit neraca migas, dan menciptakan nilai tambah dari kekayaan sumber daya alam sendiri.

Sumber Penerimaan Negara yang Strategis

Peran batu bara tidak berhenti di sektor energi.

Dari sisi fiskal, kontribusinya terhadap APBN juga krusial. Hingga Juni 2025, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor ESDM telah mencapai Rp117,11 triliun atau 46% dari target Rp254 triliun.

Dari jumlah itu, sektor mineral dan batu bara menyumbang Rp68,3 triliun, sudah 54% dari target tahunan Rp126,48 triliun.

Angka ini menunjukkan bahwa batu bara tetap menjadi mesin pendapatan negara yang tak bisa serta merta diabaikan dalam waktu dekat.

Ketergantungan ini bukan kelemahan, tapi modal untuk memfasilitasi percepatan transisi energi terbarukan.

31,5 Miliar Ton Cadangan, Tak Bisa Diabaikan

Indonesia saat ini memiliki cadangan batu bara sebesar 31,5 miliar ton.

Dengan bauran energi nasional yang masih 40% bergantung pada batu bara, cadangan ini bukan beban, tapi aset strategis. Dunia sendiri masih mengonsumsi 8,9–9,1 miliar ton batu bara per tahun, dan China menyerap hampir separuhnya untuk kebutuhan listrik dan industri.

Selama transisi menuju 70% EBT pada 2030 seperti tertuang dalam peta jalan energi nasional, batu bara akan tetap menjadi penopang utama.

Namun penopang ini harus dikelola secara cerdas bukan dihentikan secara ekstrem.

Teknologi Rendah Emisi, Bukan Fantasi

Untuk mengurangi dampak lingkungan, pemerintah mendorong penggunaan PLTU berteknologi ultra-supercritical yang mampu menekan emisi lebih efisien dibanding PLTU konvensional.

Selain itu, carbon capture and storage (CCS) mulai diadopsi dalam proyek pembangkit baru.

Langkah ini menjadikan batu bara sebagai energi fosil “transisi” yang relatif bersih, bukan lagi si pencemar yang selama ini menjadi musuh global.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba), Tri Winarno menegaskan hal ini dalam Energi Mineral Festival (EMF) 2025.

Menurutnya, batu bara terlalu dini untuk dimusuhi, apalagi ketika dunia sendiri belum benar-benar siap beralih 100% ke energi terbarukan.

Revisi Narasi Global: Dari Musuh Jadi Mitra

“Batu bara seolah-olah merupakan industri yang kotor sekali. Padahal kalau kita lihat ke belakang, revolusi industri Eropa tumbuh dari batu bara,” ujar Tri.

Ia menegaskan bahwa Indonesia akan terus mendorong EBT dalam RUPTL, namun dengan pendekatan rasional: energi bersih butuh biaya mahal, infrastruktur, dan kesiapan teknis, yang tidak bisa dipaksakan secara revolusioner.

Transisi energi harus inklusif, bertahap, dan adil.

Di sinilah batu bara memainkan peran unik sebagai jembatan antara era lama dan masa depan.

Diplomasi Energi dan Kemandirian Nasional

Mengamankan batu bara sebagai sumber daya strategis juga punya aspek geopolitik.

Dengan tren harga energi yang sangat volatil dan ketegangan global yang mengganggu pasokan migas dan gas, Indonesia tidak bisa gegabah meninggalkan energi dalam negeri.

Gasifikasi batu bara menjadi DME, peningkatan PNBP minerba, dan teknologi pembangkit rendah emisi bukan sekadar solusi teknis, tapi pilar diplomasi energi.

Indonesia bukan sedang membela batu bara, melainkan memperjuangkan kemandirian dan ketahanan energi nasional.

Langkah ini menjadi pernyataan: transisi energi versi Indonesia tak bisa diseragamkan dengan narasi global yang seringkali tidak relevan dengan konteks domestik.

Langkah Seimbang Menuju 2030

Setelah tahun 2030, pemerintah menargetkan 70% bauran energi nasional berasal dari EBT.

Namun, jalan menuju ke sana bukan dengan menafikan batu bara, melainkan dengan mempergunakannya sebijak mungkin.

Ini bukan kompromi, tapi strategi.

Indonesia memilih jalur realistis: membiarkan batu bara menopang kebutuhan dasar saat infrastruktur EBT dikuatkan, sembari tetap menekan emisi melalui inovasi teknologi.

Dengan demikian, Indonesia tak hanya jadi pengguna energi, tapi juga pionir dalam redefinisi transisi energi dunia.

Tinggalkan Balasan