Konsumsi Melemah, Ekonomi Kuartal II Terancam Tertinggal Target
JAKARTA, BursaNusantara.com – Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 diprediksi akan berada di level yang mengecewakan menurut analisis terbaru dari Bank Mandiri.
Tim ekonomi bank tersebut memperkirakan pertumbuhan hanya mencapai 4,79% year-on-year, lebih rendah dari capaian kuartal sebelumnya yang sebesar 4,87%.
Lebih ironisnya, angka tersebut jauh tertinggal dari target pemerintah yang telah dipatok di kisaran 5,2%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut lemahnya konsumsi rumah tangga sebagai biang utama perlambatan ekonomi.
Andry menyatakan bahwa faktor musiman dan pola belanja masyarakat yang semakin selektif memukul daya dorong konsumsi dalam negeri.
Hal ini menunjukkan bahwa program stimulus ekonomi yang digelontorkan pemerintah pada kuartal II belum mampu mengembalikan gairah konsumsi secara optimal.
Andry juga menyoroti bahwa strategi pemerintah belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan masyarakat di level akar rumput.
Akibatnya, belanja masyarakat justru melambat, meskipun pemerintah telah berupaya melalui sejumlah insentif.
Investasi Tak Bergairah, Pelaku Usaha Pilih Tahan Diri
Sinyal perlambatan juga datang dari sisi pembentukan modal tetap bruto yang menunjukkan pertumbuhan moderat.
Bank Mandiri mencatat adanya penurunan permintaan semen yang merupakan indikator utama aktivitas konstruksi dan pembangunan.
Selain itu, penyaluran kredit produktif dari sektor perbankan pun mengalami pelemahan signifikan selama periode tersebut.
Andry menilai bahwa pelaku usaha masih mengadopsi pendekatan wait and see, menunda ekspansi dan investasi besar akibat ketidakpastian makroekonomi.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kehati-hatian dari sektor swasta terhadap iklim investasi yang belum sepenuhnya kondusif.
Dampaknya terasa langsung pada rendahnya kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua tahun ini.
Fenomena ini menggambarkan bahwa pemulihan dunia usaha pasca pandemi masih belum mampu menembus hambatan struktural dan psikologis.
Belanja Negara Bangkit, Tapi Dampaknya Masih Terbatas
Di tengah tekanan dari sektor konsumsi dan investasi, belanja pemerintah menjadi satu-satunya komponen yang menunjukkan potensi pemulihan.
Realisasi belanja negara sepanjang semester I-2025 tercatat sebesar Rp 1.406 triliun menurut data Kementerian Keuangan.
Meski hanya tumbuh 0,6% secara tahunan, pemerintah pusat disebut akan meningkatkan belanja pada kuartal II, terutama untuk sektor pegawai dan program perlindungan sosial.
Andry mengatakan bahwa peningkatan tersebut diharapkan dapat memberikan bantalan terhadap kontraksi belanja pada periode sebelumnya.
Namun demikian, kontribusi belanja pemerintah belum cukup kuat untuk menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di tengah lesunya daya beli masyarakat.
Alokasi belanja juga masih terkonsentrasi di wilayah administratif, belum menjangkau stimulus produktif yang langsung dirasakan sektor riil.
Andry menambahkan bahwa efektivitas belanja negara baru bisa diukur setelah data-data aktual triwulan II diumumkan secara resmi oleh BPS.
Ekspor Terdorong Strategi Front-Loading, Tapi Risiko Global Masih Mengintai
Satu-satunya sisi yang relatif memberikan harapan berasal dari kinerja ekspor Indonesia sepanjang kuartal II-2025.
Para eksportir nasional dikabarkan telah memajukan pengiriman barang ekspor (front-loading) sebelum diterapkannya tarif resiprokal oleh Amerika Serikat.
Langkah antisipatif ini berhasil mengangkat kinerja ekspor neto, meskipun permintaan global secara umum masih lesu.
Namun Andry menegaskan bahwa kondisi ini bersifat sementara dan bukan karena perbaikan struktural daya saing ekspor nasional.
Ketergantungan terhadap negara tujuan tertentu dan komoditas mentah tetap menjadi tantangan jangka panjang bagi neraca perdagangan.
Apalagi tekanan geopolitik dan volatilitas harga komoditas dunia masih menghantui stabilitas perdagangan eksternal Indonesia.
Kinerja ekspor yang meningkat ini, jika tidak dibarengi diversifikasi dan peningkatan nilai tambah industri, hanya akan menjadi efek sesaat.
Pemerintah didorong untuk memanfaatkan momentum ekspor ini dengan memperkuat infrastruktur logistik dan diplomasi dagang.
Proyeksi Lebih Rendah Bisa Jadi Alarm Awal Revisi APBN 2025
Proyeksi Bank Mandiri sebesar 4,79% menjadi sinyal awal bahwa asumsi pertumbuhan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 berisiko tidak tercapai.
Jika realisasi PDB kuartal II-2025 lebih rendah dari perkiraan, maka pemerintah perlu melakukan penyesuaian strategi fiskal dan belanja di semester II.
Potensi revisi APBN sangat mungkin terjadi jika pertumbuhan ekonomi meleset jauh dari target tahunan.
Andry menyarankan pemerintah untuk lebih fleksibel dalam realokasi anggaran dan mempercepat penyaluran belanja produktif.
Sektor infrastruktur, UMKM, dan jaring pengaman sosial harus menjadi prioritas agar stimulus ekonomi lebih mengalir ke lapisan masyarakat paling rentan.
Lebih lanjut, pemerintah harus memperkuat sinergi dengan sektor swasta agar insentif fiskal tidak berjalan sendiri tanpa respons dari dunia usaha.
Bank Mandiri menekankan pentingnya memperkuat ekspektasi publik dan pelaku ekonomi dengan komunikasi yang lebih transparan mengenai arah kebijakan pemerintah.
Menanti Angka Resmi dari BPS, Pasar Bersiap Bereaksi
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan akan mengumumkan angka resmi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 pada Selasa (5/8/2025).
Pasar diperkirakan akan merespons secara hati-hati, terlebih jika angka aktual lebih rendah dari ekspektasi pelaku pasar dan proyeksi bank swasta.
Reaksi pasar bisa tercermin dari pergerakan IHSG, nilai tukar rupiah, serta imbal hasil obligasi pemerintah dalam jangka pendek.
Investor juga akan mencermati sektor-sektor yang paling terpapar perlambatan ekonomi, terutama sektor konsumsi dan perbankan.
Sementara itu, pelaku industri berharap agar pengumuman BPS menjadi momentum evaluasi kebijakan oleh pemerintah, bukan sekadar laporan angka.
Sebagian analis memperkirakan bahwa jika pertumbuhan ekonomi benar-benar hanya 4,79% atau bahkan lebih rendah, tekanan terhadap strategi makroekonomi akan semakin besar.
Catatan Redaksi:
Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025 hanya 4,79%, lebih rendah dari kuartal sebelumnya dan target pemerintah.
Meski ekspor menunjukkan perbaikan, konsumsi rumah tangga dan investasi masih lemah.
Pemerintah dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga momentum pertumbuhan dan memastikan strategi fiskal mampu menyentuh sektor riil.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










