Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Rohana & Rojali Merajalela, Daya Beli Konsumen Ambruk!

90
×

Rohana & Rojali Merajalela, Daya Beli Konsumen Ambruk!

Sebarkan artikel ini
Rohana & Rojali Merajalela, Daya Beli Konsumen Ambruk!
Fenomena Rohana dan Rojali tunjukkan konsumen makin hati-hati belanja akibat ketidakpastian ekonomi. OJK dorong stabilitas agar konsumsi kembali pulih.

Konsumen Indonesia Menahan Belanja, OJK Soroti Fenomena Rohana dan Rojali

JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketidakpastian ekonomi yang terus membayangi membuat konsumen Indonesia lebih waspada dalam mengeluarkan uang, bahkan memunculkan istilah viral seperti Rohana dan Rojali yang kini menjadi simbol baru perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja.

Fenomena ini dinilai wajar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengingat situasi makroekonomi global dan domestik belum sepenuhnya stabil.

Sponsor
Iklan

Ketidakpastian Jadi Pemicu Perilaku Konsumen Berubah

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menjelaskan bahwa sikap konsumen yang cenderung menahan diri merupakan respons alami terhadap ketidakpastian yang belum mereda, baik dari sisi global maupun kebijakan nasional.

Menurut Mahendra, banyak pihak termasuk produsen dan investor juga menunjukkan pola yang sama, yakni menunda keputusan penting sambil menunggu kejelasan arah ekonomi.

Hal ini tercermin dalam tingginya antisipasi terhadap suku bunga acuan, gejolak geopolitik, serta siklus konsumsi yang melambat akibat ekspektasi inflasi dan ketidakpastian harga barang kebutuhan pokok.

Rohana dan Rojali menjadi penanda sosial dari sikap kehati-hatian ini: mereka yang aktif mencari informasi, namun berhenti pada niat, bukan aksi pembelian.

Rohana & Rojali: Lebih dari Sekadar Lelucon Media Sosial

Dalam lanskap sosial ekonomi, istilah Rohana (rombongan hanya nanya) dan Rojali (rombongan jarang beli) telah menjelma menjadi refleksi nyata menurunnya daya beli masyarakat.

Fenomena ini tak hanya terjadi di dunia maya atau pusat perbelanjaan, tetapi juga menjalar ke sektor e-commerce, restoran, hingga pariwisata.

Konsumen datang, bertanya, membandingkan, bahkan mencoba namun akhirnya memutuskan untuk tidak mengeluarkan uang.

Gejala ini menandakan kekhawatiran akan masa depan, terutama dalam hal pengeluaran yang bersifat konsumtif.

Bagi pelaku usaha, pola ini menjadi tantangan besar: bagaimana mengonversi rasa ingin tahu menjadi transaksi nyata, di tengah pasar yang penuh pertimbangan.

OJK: Perlu Kepastian untuk Pulihkan Konsumsi

Mahendra menekankan pentingnya penciptaan kepastian dalam berbagai sektor sebagai fondasi bagi pemulihan konsumsi.

Ia menyebut bahwa konsumen akan kembali melakukan pembelian jika mereka merasa situasi lebih stabil, baik dari sisi pendapatan, harga barang, maupun kondisi politik.

Kepastian yang dimaksud bukan hanya soal data makroekonomi, tetapi juga persepsi publik terhadap stabilitas negara dan kejelasan arah kebijakan fiskal dan moneter.

Dalam pandangan OJK, semester II-2025 berpotensi menjadi titik balik, asalkan momentum stabilitas yang ada tidak terganggu oleh dinamika politik atau gejolak global.

Mahendra menyebut keyakinannya bahwa konsumsi rumah tangga akan kembali menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa kuartal mendatang.

Produsen dan Investor Juga Mengadopsi Sikap Wait and See

Bukan hanya masyarakat biasa, sikap hati-hati juga diadopsi kalangan pelaku usaha dan investor.

Mahendra menyebut adanya fenomena “wait and see” secara kolektif baik dalam keputusan ekspansi usaha, investasi modal, maupun perekrutan tenaga kerja.

Ketiganya saling terkait: ketika konsumen menahan belanja, pelaku usaha menunda ekspansi, dan investor enggan masuk, maka roda ekonomi menjadi melambat secara struktural.

Situasi ini menciptakan lingkaran saling menunggu yang sulit dipecah tanpa intervensi positif berupa kepastian kebijakan dan arah pembangunan.

Dalam konteks ini, peran pemerintah sangat krusial sebagai pemberi sinyal utama stabilitas dan arah pertumbuhan.

Strategi Adaptasi di Tengah Perubahan Perilaku

Fenomena Rohana dan Rojali juga mengisyaratkan perlunya strategi baru dalam pemasaran dan pendekatan terhadap konsumen.

Pelaku usaha dituntut lebih kreatif dalam menciptakan penawaran yang mampu mengubah niat menjadi pembelian.

Diskon besar, bundling, cicilan tanpa bunga, atau jaminan pengembalian dana menjadi pilihan yang makin sering digunakan untuk menarik perhatian konsumen yang skeptis.

Di sisi lain, kepercayaan dan transparansi menjadi faktor kunci.

Konsumen kini tidak hanya mencari harga termurah, tetapi juga nilai dan kejelasan apakah barang/jasa yang mereka beli sebanding dengan uang yang dikeluarkan.

Ketahanan Konsumsi Jadi Indikator Vital Ekonomi Nasional

Dalam kerangka makroekonomi, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Dengan porsi sebesar itu, stagnasi atau perlambatan belanja masyarakat akan berdampak langsung pada prospek pertumbuhan nasional.

OJK melihat bahwa peran konsumsi bukan hanya sebagai indikator ekonomi, tetapi juga sebagai sinyal kepercayaan masyarakat terhadap masa depan.

Ketika konsumen aktif dan percaya diri berbelanja, artinya mereka optimistis terhadap penghasilan, pekerjaan, dan kestabilan jangka panjang.

Sebaliknya, ketika muncul fenomena seperti Rohana dan Rojali secara masif, maka ada pesan kuat yang harus dibaca oleh pemangku kepentingan.

Harapan dan Tantangan di Semester II-2025

Dengan target pertumbuhan ekonomi nasional yang masih berkisar 5,1%–5,3% di tahun 2025, pemerintah bersama OJK menyadari bahwa konsumsi harus menjadi penggerak utama.

Untuk itu, menciptakan iklim yang kondusif bagi belanja masyarakat akan menjadi tantangan besar di tengah tekanan global yang masih tinggi.

Mulai dari menjaga daya beli lewat stabilisasi harga, perlindungan sosial, hingga menjaga iklim politik tetap tenang pasca pemilu akan menjadi agenda utama.

OJK menilai bahwa ketika kepercayaan sudah pulih, Rohana dan Rojali bisa kembali menjadi “rombongan yang siap beli”.

Bukan lagi sekadar istilah sinis di media sosial, tapi bukti bahwa konsumen Indonesia kembali percaya diri menghadapi masa depan ekonomi mereka.