Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Konsumsi & Ekspor Jadi Kunci Lonjakan

190
×

Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Konsumsi & Ekspor Jadi Kunci Lonjakan

Sebarkan artikel ini
Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Konsumsi & Ekspor Jadi Kunci Lonjakan
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,12% di Q2 2025. Didorong konsumsi dan ekspor, RI jadi salah satu yang tertinggi di ASEAN dan G20, klaim Airlangga.

Fondasi Ekonomi RI Menguat: Momentum Baru Berbasis Konsumsi dan Ekspor

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah gejolak perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih, Indonesia justru mencetak capaian menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,12% year on year (yoy) pada kuartal II-2025 menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi dalam negeri semakin kokoh.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang menilai capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, baik di lingkup ASEAN maupun G20.

Sponsor
Iklan

Indonesia hanya berada sedikit di bawah China yang mencatatkan pertumbuhan 5,2%, dan jauh melampaui negara-negara lain seperti Amerika Serikat (2%), Malaysia (4,5%), Singapura (4,3%), bahkan Korea Selatan (0,5%).

Airlangga menyebut hasil ini memperkuat optimisme pemerintah dalam mencapai target tahunan sebesar 5,2%. “Ekonomi kita masih solid, dan semester II kami menargetkan 5,2% tetap bisa dicapai,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, Selasa (5/8/2025).

Konsumsi dan Ekspor Jadi Mesin Ganda Pertumbuhan

Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, melihat pertumbuhan sebesar 5,12% ini sebagai bukti bahwa struktur perekonomian Indonesia mulai memasuki fase transformatif. Dua pilar utama—konsumsi rumah tangga dan ekspor nonmigas—berhasil menjaga daya dorong pertumbuhan.

Menurutnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pengeluaran, menunjukkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga. Namun, yang lebih menarik adalah mulai menguatnya kontribusi ekspor terhadap struktur ekonomi nasional.

“Ini menandakan pergeseran dari ekonomi berbasis konsumsi semata menjadi ekonomi yang mulai berorientasi ekspor, suatu tanda kematangan struktur ekonomi,” jelas Syafruddin.

Dalam jangka pendek, sinergi antara konsumsi dan ekspor memberikan stabilitas. Namun untuk jangka panjang, ia menegaskan perlunya penyesuaian arah kebijakan agar momentum ini tidak hilang begitu saja.

Menjaga Daya Saing dan Konektivitas Nasional

Syafruddin menambahkan bahwa keberhasilan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada data makro, tetapi juga pada kualitas kebijakan ekonomi domestik yang diimplementasikan secara berkelanjutan.

Menurutnya, interkoneksi ekonomi antarwilayah harus diperkuat untuk mendukung rantai pasok nasional, terutama di daerah yang belum terkoneksi dengan baik ke pasar global.

Pemerintah pusat dan daerah didorong agar tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus membangun sinergi dalam mendukung kapasitas produksi daerah, distribusi logistik, serta akses digital yang lebih merata.

Selain itu, transformasi digital, peningkatan infrastruktur logistik, serta transisi energi bersih menjadi agenda strategis agar ekspor Indonesia semakin kompetitif di pasar global.

“Strategi adaptif, kolaboratif, dan berorientasi jangka panjang harus segera dijalankan agar ekonomi tidak hanya pulih, tetapi tumbuh lebih tangguh dan berkelanjutan,” pungkas Syafruddin.