Laba AMRT Tumbuh Hampir 5%, Jadi Motor Utama Kenaikan IHSG
JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatat lonjakan tajam dalam perdagangan Selasa (5/8/2025), menyusul publikasi laporan keuangan semester I yang membukukan pertumbuhan solid di tengah dinamika sektor ritel nasional.
AMRT memimpin daftar top gainers indeks LQ45 setelah naik 5,68% ke level penutupan Rp 2.420, melonjak dari harga pembukaan di Rp 2.290, menyentuh tertinggi harian Rp 2.490.
Penguatan saham ritel ini menjadi kontributor utama kenaikan sektor barang konsumen siklikal yang naik 3,72%, dan turut mengerek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 50,54 poin atau 0,68% ke level 7.515,18.
Sentimen positif terhadap laporan keuangan AMRT memperkuat optimisme pasar terhadap daya tahan konsumsi domestik dan prospek sektor ritel modern di semester kedua 2025.
Kenaikan harga saham AMRT juga turut menarik aliran modal ke sektor konsumen, menjadikannya episentrum rotasi sektoral pada sesi perdagangan hari itu.
Pendapatan Naik 7,75%, AMRT Catat Laba Semesteran Rp 1,88 Triliun
Laporan keuangan semester I 2025 yang dirilis pada Kamis (31/7/2025) menunjukkan, AMRT berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 63,81 triliun, tumbuh 7,75% dibanding periode yang sama tahun lalu senilai Rp 59,21 triliun.
Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pada dua segmen utama: makanan dan non-makanan.
Pendapatan dari segmen makanan meningkat menjadi Rp 45,48 triliun, naik dari Rp 42,15 triliun.
Sementara kontribusi dari segmen bukan makanan juga menguat ke Rp 18,32 triliun, tumbuh dari Rp 17,06 triliun.
Dari sisi laba, perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp 1,88 triliun, naik 4,98% dari posisi semester I tahun 2024 yang berada di angka Rp 1,79 triliun.
Kinerja ini mendorong laba per saham menjadi Rp 45,37, meningkat dari Rp 43,21 pada periode yang sama tahun lalu.
Marjin Tetap Terjaga, Efisiensi Dorong Laba Bruto Naik
Beban pokok pendapatan AMRT juga ikut meningkat seiring kenaikan penjualan, yakni dari Rp 46,44 triliun menjadi Rp 49,82 triliun.
Namun, peningkatan pendapatan lebih tinggi dibanding beban, menghasilkan laba bruto sebesar Rp 13,98 triliun, naik dari Rp 12,77 triliun.
Kondisi ini menunjukkan efisiensi operasional AMRT tetap terjaga di tengah ekspansi bisnis dan meningkatnya biaya logistik serta operasional.
Manajemen dinilai mampu menjaga stabilitas margin keuntungan, yang menjadi faktor kunci dalam menarik minat investor institusional.
Selain itu, struktur biaya yang terkendali turut mencerminkan ketahanan model bisnis perusahaan di tengah fluktuasi ekonomi domestik dan global.
Aset Tumbuh, Sentimen Investor Menguat
Total aset AMRT per akhir Juni 2025 tercatat sebesar Rp 39,49 triliun, tumbuh dari posisi Rp 38,79 triliun di akhir 2024.
Pertumbuhan aset ini memperlihatkan adanya ekspansi usaha yang terukur dan produktif, yang mencerminkan optimisme jangka panjang terhadap sektor ritel.
Kinerja fundamental ini menjadi pendorong utama di balik kenaikan tajam saham AMRT, sekaligus menjadikannya salah satu aset paling diminati dalam sesi perdagangan kemarin.
Minat beli yang kuat terhadap saham AMRT juga menyulut penguatan pada saham-saham ritel lain, memperkuat dominasi sektor barang konsumen siklikal.
Kepercayaan investor terhadap potensi pertumbuhan konsumsi domestik menjadi katalis jangka pendek yang signifikan bagi IHSG.
Sektor Keuangan dan Properti Menyusul
Di luar AMRT, sektor keuangan dan properti turut menopang penguatan indeks.
Sektor keuangan menguat 1,32% berkat aksi beli pada saham-saham bank besar, khususnya BBNI yang ikut mencatat kenaikan signifikan.
Sementara itu, sektor properti naik 1,11% di tengah ekspektasi pemulihan penjualan rumah tapak dan properti komersial.
Gabungan ketiga sektor tersebut berkontribusi besar terhadap kenaikan IHSG, meskipun masih ada tiga sektor yang mengalami koreksi.
Sektor barang baku, perindustrian, dan infrastruktur mencatat penurunan, menunjukkan pola rotasi yang selektif dan fokus pada sektor berbasis konsumsi domestik.
Namun demikian, dominasi sektor konsumen siklikal dalam perdagangan Selasa menjadi sinyal bahwa pasar mulai kembali berpihak pada sektor yang terhubung langsung dengan daya beli masyarakat.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












