Geser Kebawah
BisnisPerdagangan & Industri

Tarif 0% Tembaga RI ke AS: Peluang Ekspor Terbuka Lebar

416
×

Tarif 0% Tembaga RI ke AS: Peluang Ekspor Terbuka Lebar

Sebarkan artikel ini
Tarif 0% Tembaga RI ke AS Peluang Ekspor Terbuka Lebar (1)
AS resmi beri tarif 0% pada tembaga Indonesia. Peluang ekspor terbuka, namun hadapi tantangan logistik dan kompetisi dengan Chile hingga Kanada.

AS Beri Tarif 0 Persen untuk Tembaga Indonesia

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah Amerika Serikat resmi menetapkan tarif bea masuk 0 persen untuk komoditas tembaga dan turunannya dari Indonesia.

Langkah strategis ini disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani saat membuka forum Indonesia-Japan Executive Dialogue 2025.

Sponsor
Iklan

Kebijakan ini merupakan hasil negosiasi bilateral Indonesia-AS yang menargetkan penurunan tarif resiprokal untuk komoditas unggulan RI.

Rosan menyebut, keputusan ini menandai peluang ekspor baru bagi sektor hilirisasi mineral Indonesia, terutama tembaga dan nikel.

Meskipun tarif untuk nikel masih dalam proses, pencapaian di sektor tembaga dianggap sebagai pintu pembuka yang signifikan.

Menurut Rosan, AS kini secara resmi membuka pintu impor produk tembaga dari Indonesia tanpa hambatan tarif.

Ia menambahkan, pemerintah akan terus melobi agar logam strategis lainnya menyusul diberi insentif serupa.

Hambatan Tersembunyi di Balik Peluang Ekspor

Kebijakan tarif nol persen dari AS memang membuka peluang besar, tetapi tidak serta merta membuat ekspor tembaga Indonesia akan melonjak.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy, menyebut dua tantangan utama menghadang Indonesia untuk menembus pasar AS.

Pertama, daya saing produk tembaga Indonesia harus mampu menandingi produk dari negara yang telah lama menjadi mitra dagang utama AS seperti Chile dan Peru.

Negara-negara ini bukan hanya memiliki kedekatan geografis, tetapi juga infrastruktur ekspor yang telah lama mapan dan efisien.

Kedua, biaya logistik menjadi persoalan krusial yang membatasi penetrasi tembaga Indonesia ke AS.

Pengapalan dari Indonesia ke Amerika Serikat dinilai jauh lebih mahal dibanding ke pasar tradisional seperti Jepang dan Tiongkok.

Jarak pengiriman yang jauh membuat margin keuntungan menjadi lebih tipis, terlebih jika perusahaan tidak memiliki skala ekspor besar.

Persaingan Ketat dengan Pemasok Tradisional

Data terbaru menunjukkan, hampir 50% kebutuhan tembaga AS selama ini dipasok dari Chile.

Selain Chile, ada Peru, Meksiko, dan Kanada sebagai pemasok utama, karena faktor kedekatan serta efisiensi biaya distribusi.

Dominasi negara-negara ini menjadi tantangan berat bagi Indonesia untuk memperebutkan pangsa pasar yang kompetitif.

Perusahaan Indonesia harus menyusun strategi agresif untuk bersaing di tengah hegemoni pemasok lama tersebut.

Keunggulan harga dan mutu tidak cukup jika tidak dibarengi dengan efisiensi logistik dan kapasitas suplai jangka panjang.

Untuk itu, perlu ada kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri agar dapat membentuk ekosistem ekspor yang efisien dan berkelanjutan.

Minimnya Jejak Ekspor Tembaga RI ke AS

Hingga saat ini, volume ekspor tembaga Indonesia ke AS masih sangat kecil.

Hal ini diakui Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, yang menyebut kendala utama adalah biaya transportasi.

Menurut Hendra, harga pengapalan ke AS jauh lebih mahal dibanding negara-negara Asia Timur, yang selama ini menjadi destinasi utama ekspor RI.

Infrastruktur logistik dan pelabuhan dalam negeri pun masih perlu ditingkatkan untuk mendukung ekspor jangka jauh semacam ini.

Hendra menegaskan bahwa selama kendala tersebut belum diatasi, ekspor tembaga ke AS akan tetap rendah meskipun sudah bebas tarif.

Meski demikian, insentif tarif dari AS tetap menjadi angin segar yang membuka kemungkinan investasi lebih besar di hilir industri tembaga.

Posisi Strategis Indonesia dalam Rantai Mineral Dunia

Langkah AS memberikan tarif 0% kepada Indonesia tidak lepas dari agenda geopolitik dan keamanan pasokan mineral global.

Tembaga merupakan logam vital dalam industri kendaraan listrik, teknologi militer, hingga transisi energi global.

AS sendiri sebelumnya sempat mengumumkan rencana menaikkan tarif tembaga impor hingga 50% untuk mendorong produksi domestik.

Namun, dalam pernyataan resmi Gedung Putih, Indonesia termasuk dalam daftar pengecualian terhadap tarif tersebut.

Keputusan ini sekaligus mempertegas bahwa Indonesia mulai dilihat sebagai mitra strategis dalam rantai pasok mineral global.

Indonesia juga diminta mencabut pembatasan ekspor atas mineral kritis sebagai bagian dari Framework for U.S.-Indonesia Trade and Investment Arrangement.

Hilirisasi Jadi Kunci Strategi Jangka Panjang

Kebijakan tarif 0% dari AS merupakan validasi atas arah kebijakan hilirisasi mineral yang diusung pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan membangun ekosistem hilir industri tembaga, Indonesia kini tak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah.

Produk turunan tembaga seperti katoda, batang, hingga kawat tembaga berpotensi menjadi nilai tambah besar dalam neraca ekspor.

Namun, agar strategi ini berhasil, pemerintah harus menjamin kepastian regulasi, mempercepat pengembangan infrastruktur, dan memberi insentif bagi investasi hilir.

Langkah diplomasi dagang juga harus beriringan dengan transformasi industri dalam negeri, agar Indonesia tidak hanya sekadar menikmati insentif jangka pendek.

Momentum Ini Tidak Boleh Terbuang Sia-Sia

Tarif nol persen dari AS adalah momentum langka yang harus dijawab dengan aksi nyata di sektor industri dan logistik Indonesia.

Apalagi saat ini permintaan global terhadap tembaga diprediksi meningkat tajam dalam dekade transisi energi.

Jika Indonesia mampu mengatasi hambatan logistik dan meningkatkan daya saing industri hilirnya, peluang menembus pasar AS secara signifikan bukan mimpi kosong.

Langkah selanjutnya ada di tangan pemerintah dan pelaku industri nasional untuk menjadikan tembaga sebagai komoditas andalan ekspor ke Amerika dan seterusnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.