Emas Menguat Tipis, Pasar Waspadai Arah Kebijakan Tarif
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas dunia pada Jumat (8/8/2025) hanya mencatat kenaikan tipis, meski volatilitas pasar meningkat tajam akibat kabar rencana tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap emas batangan.
Pemerintah AS dikabarkan akan mengeluarkan perintah eksekutif untuk memperjelas kebijakan tarif tersebut, mengikuti sinyal dari US Customs and Border Protection yang mengindikasikan kemungkinan pemberlakuan tarif impor khusus negara bagi bullion yang paling aktif diperdagangkan di Negeri Paman Sam.
Harga emas spot ditutup naik 0,03% menjadi US$ 3.397,33 per troy ons, dengan kenaikan mingguan mencapai 1%. Sementara kontrak berjangka emas AS pengiriman Desember stabil di US$ 3.454,1, setelah sempat mencetak rekor intraday di US$ 3.534,1.
Spread antara harga berjangka Comex dan harga spot kini turun ke US$ 57, menyempit dari level di atas US$ 100 pada sesi sebelumnya, mengindikasikan pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap dampak kebijakan tarif.
Kebingungan Tarif Menguji Status Safe Haven Emas
Lonjakan harga emas yang terjadi dalam waktu singkat mencerminkan reaksi pasar terhadap ketidakpastian kebijakan perdagangan.
Menurut Head of Money and Markets Hargreaves Lansdown, Susannah Streeter, bahkan aset safe haven seperti emas tidak kebal terhadap gejolak yang dipicu kebingungan di era tarif.
Kondisi ini menandakan bahwa faktor geopolitik dan kebijakan perdagangan kini memegang peran yang sama pentingnya dengan fundamental permintaan dan penawaran emas.
Para pelaku pasar menilai, jika kebijakan tarif benar-benar diberlakukan, harga emas di pasar AS dan London berpotensi kembali melebar, membuka peluang arbitrase terutama di pusat-pusat pemurnian alternatif di luar jalur distribusi tradisional.
Dampak Potensial ke Pusat Pemurnian Emas Dunia
UBS memperkirakan selisih harga antara kontrak Comex dan London akan kembali membesar jika kebijakan tarif dijalankan, menciptakan ruang bagi pelaku industri untuk memanfaatkan disparitas harga.
Swiss, sebagai pusat utama pemurnian dan transit emas global, diproyeksikan menjadi salah satu pihak yang terdampak signifikan. Saat ini, emas asal Swiss dikenakan tarif impor AS sebesar 39%, dan kedua negara tengah bernegosiasi untuk menurunkan bea masuk tersebut.
Sumber Reuters mengungkapkan, beberapa kilang emas di Swiss, termasuk entitas besar, telah menghentikan sementara pengiriman bullion ke AS akibat ketidakpastian ini. Langkah tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok emas global dan menekan pasokan fisik di pasar AS.
Efek Domino ke Pasar Logam Mulia Lainnya
Ketidakpastian di pasar emas turut memberi efek ke logam mulia lainnya. Perak spot tercatat stabil di US$ 38,29 per troy ons, platinum melemah 0,5% menjadi US$ 1.327,85, dan paladium anjlok 2,2% menjadi US$ 1.125,48.
Pelemahan ini mencerminkan adanya rotasi aset di kalangan investor yang masih menunggu kepastian kebijakan tarif, serta kekhawatiran bahwa gejolak perdagangan dapat meluas ke komoditas lain.
Pasar kini menunggu langkah resmi Gedung Putih yang akan menjadi sinyal arah pergerakan harga emas berikutnya, sekaligus menentukan peluang arbitrase global di tengah lanskap perdagangan yang kian proteksionis.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







