Borongan Saham dan Aksi Korporasi Beruntun
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Investasi Sukses Bersama, pengendali PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), resmi meningkatkan kepemilikannya setelah memborong 30.095.800 saham emiten tersebut pada Jumat (8/8/2025).
Harga pembelian sebesar Rp 2.880 per saham menjadikan total nilai transaksi mencapai Rp 86,87 miliar. Langkah ini menambah porsi kepemilikan Investasi Sukses Bersama dari 53,65% menjadi 54,22% atau setara 2.878.347.729 saham.
Direktur WIFI, Shannedy Ong, menegaskan tujuan pembelian ini murni untuk memperkuat portofolio efek yang dimiliki induk usaha. Ia menambahkan, momentum ini juga sejalan dengan rencana jangka panjang perusahaan untuk memperkuat struktur pengendalian.
Di tengah aksi borongan saham tersebut, harga WIFI di bursa justru sempat melonjak 2,34% menjadi Rp 2.620 pada perdagangan sesi I, Senin (11/8/2025) pukul 10.22 WIB.
Koneksi Strategis di Balik Investasi
Berdasarkan arsip pemberitaan 13 Januari 2025, Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto, memiliki 45% saham Investasi Sukses Bersama melalui PT Arsari Sentra Data. Posisi ini menempatkannya pada jalur strategis dalam mempengaruhi arah pengembangan WIFI.
Langkah menambah porsi kepemilikan dinilai sebagai upaya mengonsolidasikan kekuatan modal dan memastikan stabilitas dalam implementasi strategi ekspansi.
Dengan dukungan finansial yang kuat dari pemegang saham pengendali, WIFI memiliki ruang manuver yang lebih lebar untuk menggarap proyek infrastruktur digital berskala besar.
Akuisisi Ganda Lewat Anak Usaha
Sejalan dengan aksi borongan saham, WIFI melalui anak usahanya PT Jaringan Infra Andalan (JIA) menjalankan strategi akuisisi cepat terhadap dua perusahaan internet, yakni PT Investasi Jaringan Nusantara (IJN) dan PT Garuda Prima Internetindo (GPI).
Akuisisi IJN senilai Rp 599,99 juta dilakukan berdasarkan perjanjian jual beli saham yang diteken 4 Agustus 2025, dengan penyelesaian transaksi pada 5 Agustus 2025. Shannedy Ong menyebut langkah ini akan memperluas jangkauan infrastruktur perseroan.
Sebulan sebelumnya, tepat pada 24 Juli 2025, JIA juga menyelesaikan akuisisi GPI dengan nilai Rp 250 juta. Transaksi dilakukan di bawah tangan pada 21 Juli 2025 dengan penjual Novi Solichmawati dan Muhammad Arid, yang kemudian mengalihkan saham ke JIA dan Hermansjah Haryono—Presiden Direktur PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE) atau WEAVE, anak usaha WIFI.
Bukan Transaksi Material, Tapi Strategis
Kedua akuisisi tersebut bukanlah transaksi material ataupun perubahan kegiatan usaha, dan tidak termasuk transaksi afiliasi yang berpotensi menimbulkan benturan kepentingan. Namun, dari sisi strategi, langkah ini memperkuat infrastruktur dan kapasitas layanan internet murah yang menjadi visi besar WIFI.
Shannedy Ong menegaskan, setiap langkah akuisisi diarahkan untuk menunjang ekspansi grup, memperluas jaringan distribusi, dan menyiapkan pondasi menuju target ambisius 40 juta rumah tangga terlayani internet murah dalam lima tahun mendatang.
Target Ambisius dan Konteks Pasar
WIFI menempatkan diri di tengah kebutuhan masif konektivitas nasional, khususnya pada segmen rumah tangga di luar kota besar yang masih memiliki keterbatasan akses internet.
Dengan portofolio akuisisi ini, perusahaan membangun jaringan backbone dan last-mile yang diharapkan mampu menekan harga layanan sekaligus meningkatkan penetrasi pasar.
Potensi pasarnya tidak kecil, mengingat proyeksi BPS dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang memprediksi lonjakan pengguna internet rumah tangga hingga puluhan juta dalam lima tahun ke depan.
Modal Politik, Finansial, dan Teknologi
Keberadaan figur seperti Hashim Djojohadikusumo di jajaran pengendali dinilai memberi keunggulan tersendiri, bukan hanya dari sisi finansial tetapi juga dalam membangun hubungan strategis lintas sektor.
Dengan dukungan modal besar, jaringan politik, dan kemampuan teknologi yang terus ditingkatkan, WIFI berpotensi memimpin persaingan di pasar internet rumah tangga berbiaya rendah.
Investor akan terus memantau efektivitas strategi akuisisi ini, terutama apakah mampu menghasilkan sinergi operasional yang signifikan dan mempercepat pencapaian target layanan.
Jika konsolidasi internal dan ekspansi eksternal berjalan sesuai rencana, WIFI dapat memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur internet yang tidak hanya kompetitif secara harga, tetapi juga dominan secara jangkauan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












