Harga Emas Melambat Usai Reli Panjang, Pasar Bertanya Arah Selanjutnya
JAKARTA, BursaNusantara.com – Setelah reli mengesankan dari US$ 2.000 per ons di awal 2024 hingga menembus US$ 3.400 pada pertengahan 2025, harga emas mulai menunjukkan tanda-tanda melambat dalam beberapa bulan terakhir.
Lonjakan luar biasa tersebut semula didorong oleh kekhawatiran inflasi global, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan rekor pembelian emas oleh bank sentral di seluruh dunia. Namun kini, pasar dihadapkan pada pertanyaan krusial: apakah ini tanda puncak harga, atau sekadar jeda sebelum reli baru dimulai?
Potensi Koreksi Jangka Pendek, Prospek Panjang Tetap Cerah
Ben Nadelstein, Kepala Konten di Monetary Metals, menilai perlambatan saat ini tidak menghapus prospek positif jangka panjang bagi emas.
Ia menekankan bahwa emas pada dasarnya adalah aset yang dihargai dalam mata uang, sehingga pelemahan dolar AS di masa depan masih membuka ruang kenaikan harga yang signifikan dibandingkan mata uang lain maupun emas itu sendiri.
Menurutnya, koreksi jangka pendek mungkin terjadi, tetapi kekuatan struktural seperti permintaan tinggi dari institusi dan investor ritel akan menjadi penopang harga dalam jangka panjang.
Permintaan Rekor Jadi Penopang Reli
Brandon Aversano, CEO The Alloy Market, melihat permintaan emas yang “belum pernah terjadi sebelumnya” akan tetap menjadi motor penggerak harga.
Ia memperkirakan momentum ini dapat membawa harga emas menembus US$ 3.500 per troy ons pada akhir 2025 dan berlanjut menguat hingga 2026.
Rekor pembelian bank sentral dan minat investor global terhadap emas sebagai lindung nilai inflasi diperkirakan akan terus menopang harga di tengah ketidakpastian pasar.
Optimisme Hingga 2026 Meski Ada Jeda
Sameer Samana, Kepala Ekuitas Global dan Aset Riil di Wells Fargo Investment Institute, mengakui bahwa tren kenaikan saat ini mungkin telah kehilangan momentum jangka pendek.
Namun, ia tetap optimistis arah harga akan lebih tinggi hingga akhir 2026, didukung kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter longgar, dan pergeseran preferensi investor terhadap aset riil.
Bagi Samana, perlambatan saat ini justru memberi peluang akumulasi bagi investor yang berorientasi jangka panjang.
Faktor Pemicu Reli Berikutnya
Beberapa analis memandang, potensi kenaikan emas berikutnya bisa datang dari tiga faktor utama.
Pertama, kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter The Fed yang akan menekan dolar AS dan meningkatkan daya tarik emas.
Kedua, eskalasi ketegangan geopolitik yang mendorong investor mencari aset aman.
Ketiga, meningkatnya pembelian emas oleh negara-negara berkembang untuk diversifikasi cadangan devisa.
Strategi Investor di Tengah Ketidakpastian
Daripada menunggu penurunan harga yang belum tentu datang, sejumlah pakar menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menambah kepemilikan emas dalam portofolio.
Pendekatan ini memanfaatkan harga saat jeda sebelum kemungkinan reli berikutnya, sambil tetap memperhitungkan manajemen risiko melalui diversifikasi.
Investor institusional cenderung mengombinasikan emas dengan aset pendapatan tetap dan ekuitas defensif untuk menjaga stabilitas portofolio.
Sementara investor ritel dapat memanfaatkan instrumen seperti emas batangan, koin emas, atau reksa dana emas sebagai cara masuk yang fleksibel dan terjangkau.
Peran Bank Sentral dan Pasar Global
Rekor pembelian emas oleh bank sentral dalam dua tahun terakhir menjadi faktor struktural penting yang membedakan reli emas kali ini dengan siklus sebelumnya.
Banyak negara memilih menambah cadangan emas sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan meningkatkan ketahanan cadangan devisa.
Selama tren ini berlanjut, permintaan dari bank sentral dapat bertindak sebagai “lantai harga” yang membatasi risiko penurunan signifikan.
Jeda yang Penuh Peluang
Perlambatan harga emas saat ini bukan sekadar tanda kelelahan pasar, melainkan fase konsolidasi yang berpotensi mempersiapkan reli berikutnya.
Dengan fundamental permintaan yang kuat, ketidakpastian global yang belum mereda, dan ekspektasi kebijakan moneter longgar, prospek emas hingga 2026 masih mengarah ke atas.
Bagi investor yang cermat, jeda ini bisa menjadi momen strategis untuk masuk sebelum tren kenaikan kembali menguat.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











