Geser Kebawah
KomoditasPasar

Emas Antam Jatuh ke Rp 1,89 Juta, Pasar Panik Hadapi Tekanan Baru

115
×

Emas Antam Jatuh ke Rp 1,89 Juta, Pasar Panik Hadapi Tekanan Baru

Sebarkan artikel ini
Emas Antam Jatuh ke Rp 1,89 Juta, Pasar Panik Hadapi Tekanan Baru
Harga emas Antam (ANTM) kembali anjlok Rp 13.000 ke Rp 1,896 juta/gram pada Sabtu (16/8/2025). Tren koreksi makin dalam, pasar cemas jauh dari rekor Rp 2,039 juta.

Harga Emas Antam Terjun Lagi

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali merosot tajam pada Sabtu (16/8/2025), dengan koreksi Rp 13.000 sehingga menetap di Rp 1.896.000 per gram. Penurunan ini memperpanjang tren volatilitas harga logam mulia sepanjang pekan berjalan.

Sehari sebelumnya, Jumat (15/8/2025), emas Antam sempat terkoreksi lebih dalam sebesar Rp 24.000 dan hanya bertahan di Rp 1.909.000 per gram, menandai pelemahan terburuk dalam sebulan terakhir. Kondisi tersebut kontras dengan reli Kamis (14/8/2025) ketika harga emas sempat melonjak Rp 16.000 hingga menembus Rp 1.933.000 per gram.

Sponsor
Iklan

Rekor tertinggi sepanjang masa emas Antam masih tercatat pada 22 April 2025 di Rp 2.039.000 per gram, dan jarak koreksi saat ini memperlihatkan ruang yang cukup lebar bagi potensi rebound maupun pelemahan lanjutan. Investor kini menimbang ulang strategi lindung nilai di tengah ketidakpastian arah pasar global.

Harga buyback emas Antam pada Sabtu (16/8/2025) juga tidak luput dari tekanan, turun Rp 13.000 ke level Rp 1.742.000 per gram. Angka ini menjadi salah satu level terendah dalam dua bulan terakhir dan menambah kekhawatiran kalangan kolektor maupun spekulan.

Kondisi pasar domestik turut dipengaruhi regulasi pajak sesuai PMK No 34/PMK.10/2017, di mana transaksi jual kembali emas senilai di atas Rp 10 juta dikenakan PPh 22 sebesar 1,5% untuk pemegang NPWP dan 3% untuk non-NPWP. Potongan ini langsung mengurangi nilai akhir transaksi buyback.

Dinamika Harga Pecahan Emas

Harga emas Antam pada Sabtu (16/8/2025) tercatat bervariasi berdasarkan ukuran pecahan, mulai Rp 998.000 untuk 0,5 gram hingga Rp 1.836.600.000 untuk 1.000 gram. Rentang harga tersebut merefleksikan permintaan berlapis dari konsumen ritel hingga investor skala besar.

Pecahan 1 gram yang paling diminati masyarakat saat ini dijual Rp 1.896.000, menjadi barometer utama arah minat investor ritel. Sementara pecahan 5 gram dibanderol Rp 9.255.000, sering dipilih sebagai instrumen tabungan emas jangka menengah.

Untuk kalangan kolektor dan investor institusional, pecahan besar seperti 250 gram hingga 1.000 gram menjadi acuan penting dalam transaksi bernilai tinggi. Harga pecahan 500 gram dipatok Rp 918.320.000, sedangkan pecahan 1.000 gram menembus Rp 1,836 miliar.

Dengan pola harga yang menurun dua hari berturut-turut, perbedaan margin antara pecahan kecil dan besar semakin menarik perhatian spekulan. Mereka memanfaatkan spread harga untuk strategi trading jangka pendek, sementara sebagian investor konservatif memilih menunggu stabilisasi.

Pajak Pembelian dan Implikasi Investasi

Pemerintah menetapkan aturan pajak pembelian emas melalui PMK No 34/PMK.10/2017, dengan PPh 22 sebesar 0,45% bagi pemegang NPWP dan 0,9% bagi non-NPWP. Setiap pembelian disertai bukti potong, sehingga secara langsung mempengaruhi nilai akhir investasi emas batangan.

Meski potongan pajak relatif kecil, implikasinya signifikan bagi investor yang melakukan akumulasi emas dalam jumlah besar. Efek kumulatif dapat memangkas potensi imbal hasil ketika harga emas tidak menunjukkan tren kenaikan kuat.

Situasi saat ini membuat investor emas harus lebih cermat membandingkan nilai jual dan buyback, sekaligus memperhitungkan aspek pajak. Penurunan harga dua hari terakhir menunjukkan bahwa fluktuasi jangka pendek bisa menggerus keuntungan meskipun emas dianggap sebagai aset aman.

Dengan harga global yang masih dipengaruhi arah suku bunga Amerika Serikat dan nilai tukar rupiah, emas Antam di pasar domestik tetap rawan tertekan. Investor yang berspekulasi dalam jangka pendek kini menghadapi risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang berorientasi jangka panjang.

Sentimen Pasar dan Arah Selanjutnya

Kejatuhan harga emas Antam dua hari berturut-turut membuka ruang perdebatan di kalangan analis mengenai arah pasar. Sebagian menilai koreksi ini hanya jeda teknikal menjelang penguatan baru, sementara lainnya menganggap tekanan bisa berlanjut jika sentimen global melemah.

Harga emas dunia yang masih rentan terhadap kebijakan The Fed menjadi faktor utama penggerak volatilitas. Rupiah yang fluktuatif terhadap dolar AS juga memperbesar ketidakpastian harga emas domestik, terutama pada pecahan kecil yang banyak diperdagangkan ritel.

Investor dengan horizon panjang cenderung tetap menahan posisi karena emas historis terbukti menjadi pelindung nilai terhadap inflasi. Namun, bagi trader harian, koreksi tajam seperti dua hari terakhir menjadi peluang sekaligus risiko besar yang harus dihitung secara cermat.

Pasar kini menantikan arah harga pekan depan, apakah emas Antam mampu kembali mendekati Rp 1,933.000 atau justru melanjutkan pelemahan menuju level psikologis Rp 1,880.000 per gram. Tekanan jual di sesi akhir pekan menunjukkan potensi gejolak belum berakhir.

Situasi tersebut membuat emas Antam bukan hanya sekadar instrumen investasi, melainkan juga indikator penting dinamika ekonomi domestik yang kian dipengaruhi faktor eksternal.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.