Dolar AS Bergerak Hati-Hati
JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar dolar AS pada awal pekan ini bergerak penuh kehati-hatian di tengah menunggu dua agenda besar yang berpotensi mengguncang pasar keuangan global.
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Senin (18/8/2025) menjadi sorotan karena dipandang sebagai upaya baru Washington menekan Kyiv menerima kesepakatan damai.
Bagi investor, arah diplomasi AS dengan Ukraina pasca-pertemuan tersebut dinilai bisa menentukan eskalasi atau deeskalasi perang yang sudah berlangsung tiga tahun terakhir di Eropa Timur.
Selain faktor geopolitik, simposium Jackson Hole yang digelar The Fed pada 21–23 Agustus juga menjadi fokus utama pelaku pasar global.
Indeks dolar AS pada sesi awal Asia naik tipis ke 97,85 setelah melemah 0,4% pekan lalu, menunjukkan pasar memilih posisi defensif sambil menanti pidato Jerome Powell.
Data Ekonomi AS Mengurangi Spekulasi
Peluang pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September kini turun menjadi 84% dari 98% sepekan sebelumnya.
Perubahan ekspektasi ini dipengaruhi oleh lonjakan harga grosir dan kenaikan penjualan ritel pada Juli yang menunjukkan ekonomi AS masih cukup stabil.
Ekonom Comerica Bank Bill Adams menilai The Fed memang tetap mengarah pada pemangkasan suku bunga, tetapi kemungkinan baru terealisasi secara bertahap hingga akhir tahun.
Pasar kini mulai mengurangi spekulasi terkait pemangkasan jumbo sebesar 50 basis poin yang sempat ramai dibicarakan beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini menempatkan pidato Powell di Jackson Hole sebagai kunci arah sentimen, apakah The Fed akan menegaskan sinyal dovish atau justru menguatkan nada hawkish.
Trump, Zelenskyy, dan Tekanan Damai
Trump disebut semakin menekan Zelenskyy agar menerima kesepakatan damai pasca-pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska.
Sikap Trump yang terlihat lebih selaras dengan Moskow dinilai sebagian analis dapat mengubah peta diplomasi dan memengaruhi aliran modal global.
Jika kesepakatan damai tercapai, pasar bisa melihat lonjakan risk appetite, mendorong pelemahan dolar AS karena investor beralih ke aset berisiko.
Namun jika negosiasi buntu, dolar berpotensi menguat karena investor mencari lindung nilai dalam greenback.
Sejumlah pemimpin Eropa juga dijadwalkan hadir dalam pertemuan itu, menambah bobot geopolitik terhadap arah pasar mata uang.
Reaksi Pasar Valas Regional
Euro terpantau stabil di US$ 1,1705, mencerminkan investor masih menahan diri hingga hasil pertemuan geopolitik dan agenda Jackson Hole jelas terlihat.
Poundsterling naik tipis 0,07% ke US$ 1,3557, tetapi analis memperingatkan volatilitas bisa meningkat jika dolar AS kembali menjadi pilihan safe haven.
Terhadap yen, dolar AS naik 0,11% ke 147,34 setelah sempat melemah 0,4% pekan lalu, menandakan pergeseran kecil di pasar Asia.
Pemerintah Jepang menepis komentar tajam Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang menyebut BOJ ‘tertinggal’ dalam kebijakan moneter.
Tekanan diplomatik terhadap BOJ dipandang sebagai sinyal Washington ingin Tokyo bergerak lebih cepat menormalisasi kebijakan suku bunga.
Dolar Komoditas Ikut Bergerak
Dolar Australia menguat 0,1% ke US$ 0,65145, bangkit dari pelemahan 0,5% pada pekan sebelumnya.
Sementara dolar Selandia Baru naik 0,15% ke US$ 0,5934, juga mencerminkan rebound terbatas setelah tekanan pekan lalu.
Pergerakan kedua mata uang komoditas ini dipengaruhi sentimen global dan harga bahan baku yang masih fluktuatif.
Namun tanpa kepastian arah kebijakan The Fed, pergerakan dolar Australia dan Selandia Baru cenderung terbatas dalam kisaran sempit.
Pasar menilai volatilitas lebih besar kemungkinan baru muncul setelah pidato Powell di Jackson Hole.
Arah Pasar Masih Tertahan
Kombinasi geopolitik Eropa Timur dan ketidakpastian moneter AS membuat dolar bergerak defensif pada awal pekan.
Investor global menahan diri untuk tidak mengambil posisi besar sebelum hasil pertemuan Trump-Zelenskyy dan agenda Jackson Hole diumumkan.
Pasar melihat peluang guncangan besar dalam beberapa hari ke depan yang bisa menentukan arah dolar terhadap mata uang utama lainnya.
Kondisi ini menandakan minggu yang menentukan bagi greenback, karena setiap pernyataan politik atau kebijakan bisa langsung mengubah arus modal global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












