IHSG Tembus 9.000: Era Baru Bursa RI Dipimpin Gurita Bisnis Konglomerat
JAKARTA – Sejarah baru resmi tercipta di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada penutupan sesi I, Rabu (14/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menaklukkan level psikologis tertinggi sepanjang masa di angka 9.003,32.
Penguatan sebesar 0,55% ini menandai era “Kepala Sembilan” yang selama ini dinanti oleh para pelaku pasar modal.
Menariknya, reli kali ini menunjukkan wajah yang berbeda dari biasanya: bukan perbankan yang menjadi nahkoda, melainkan kekuatan masif dari emiten konglomerat dan kebangkitan sektor teknologi.
Prajogo Pangestu & Sinar Mas Jadi “Engine” Utama
Kenaikan indeks ke level 9.000 digerakkan oleh aksi beli agresif pada saham-saham kapitalisasi besar milik konglomerat RI.
Grup Barito melalui saham BREN kembali menjadi booster utama yang mendorong IHSG terbang tinggi.
Kekuatan ini disusul oleh Grup Sinar Mas melalui performa impresif saham DSSA dan MORA.
Tak ketinggalan, Grup Bakrie ikut berpesta lewat saham BUMI dan BRMS yang bergerak lincah seiring memanasnya harga komoditas global.
GOTO & ANTM Kembali Menjadi Primadona
Kejutan besar datang dari sektor teknologi dan nikel. Setelah sempat tertekan, GOTO melesat hampir 6% (5,97%), sinyal kuat bahwa kepercayaan investor terhadap ekonomi digital telah kembali.
Di sisi lain, ANTM melonjak 5,41% berkat sentimen positif pada rantai pasok baterai kendaraan listrik yang kembali bergairah di awal 2026.
Asing Borong Saham, Terjadi Rotasi Sektor
Data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi beli bersih (net buy) besar-besaran pada saham-saham blue chip.
Namun, ada anomali menarik di tengah “pesta” ini: sektor finansial dan properti justru terkoreksi tipis.
Analis melihat adanya rotasi sektor yang cerdik. Investor mulai memindahkan dana mereka dari perbankan konvensional menuju sektor infrastruktur, energi, dan konsumer non-primer yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih eksplosif tahun ini.
Kesimpulan: IHSG 9.000 adalah bukti solidnya fundamental ekonomi Indonesia.
Dengan kembalinya arus modal asing dan agresivitas grup konglomerat, pasar modal kita kini resmi memasuki babak baru yang lebih kompetitif di kancah global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







